Tag Archive | purworejo

Guruku Orang-orang Pesantren

Image

Biografi KH Saifuddin Zuhdi ini merupakan salah satu buku yang berkesan bagi saya. Ini bukan semata-mata disebabkan oleh adanya sejumlah fakta sejarah yang beliau ceritakan dalam buku ini tentang Baledono dan Purworejo – dua lokasi yang kebetulan juga menjadi bagian masa kecil saya.  Akan tetapi karena beliau sebagai pelaku sejarah di negeri ini , berhasil meyakinkan kita bahwa para ulama sesungguhnya berperan aktif dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kita akan diajak memahami pergulatan pemikiran di kalangan ulama Indonesia dan mengikuti kiprah mereka dalam mengobarkan semangat umat untuk berjihad.

Setelah membaca buku ini, saya semakin menghargai para ulama Indonesia sebagai kelompok terpelajar yang ikhlas mengorbankan jiwa raga demi tegaknya Republik Indonesia.

Menurut saya, buku ini sepatutnya dibaca dan dipahami oleh orang-orang yang mengaku ‘ingin menegakkan dinul islam di muka bumi’ namun menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai ijtihad pada ulama.

Jika ingin memahami pemikiran dan kiprah para ulama menurut kesaksian KH Saifuddin Zuhri, silakan unduh di tautan berikut.

http://www.mediafire.com/download/kt4041mdr89tzcm/Guruku_Orang_Pesantren.pdf

Iklan

Tentang Sepeda: Masa SMA

Bersepeda tetap menjadi pilihan terbaik bagi saya saat meneruskan pendidikan di SMAN 1 Purworejo. Lagi-lagi karena alasan yang sama. Posisi rumah saya di Paduroso membuat saya harus dua kali naik angkot untuk tiba di sekolah. Demikian pula saat pulang. Karena jarak tempuh yang lebih jauh, waktu yang diperlukan pun menjadi lebih lama. Otomatis berjalan kaki tidak lagi merupakan alternatif cara yang bisa dipakai.

Sepeda onta.

Rute bersepeda yang paling singkat ialah menembus kampung Kalikepuh-Doplang-batas kota. Rute ini menjadi pilihan terbaik bagi anak-anak sekitar Mranti, Lugosobo, hingga Seren dan Mlaran. Tidak hanya pelajar SMAN 1 Purworejo yang melalui jalur ini. Banyak siswa daerah Gebang yang belajar di beberapa sekolah di sepanjang jalan tentara pelajar yang memilih lewat sini. Selain dekat, jalannya relatif aman dan sepi. kami melalui daerah perkampungan, sehingga jarang berpapasan dengan mobil atau kendaraan besar lain. satu-satunya kendaraan besar yang kadang saya temui hanyalah loko jengki dengan satu gerbong yang melaju antara stasiun Purworejo-stasiun Kutoarjo. Itupun hanya terjadi di pagi dan sore hari saja.

Sepeda jengki biru masih setia menemani saya. Sepeda jengki seolah menjadi sepeda favorit bagi siswa sekolah. Beberapa teman mengendarai sepeda onta. Ukurannya lebih besar daripada sepeda jengki. Palang horizontalnya membuat sepeda berwarna coklat besi itu kelihatan gagah. Seingat saya, sepeda onta yang dipakai beberapa teman saya dulu tidak jelas warna catnya. Mungkin sudah tidak lagi bercat mengingat wilayah edarnya dari satu sawah ke sawah lain. Namun, ternyata sepeda khas petani itu juga pantas dinaiki anak berseragam putih-abu-abu. Bahkan, teman-teman saya tampak bangga dengan tunggangannya.

Sepeda federal.

Sewaktu SMA jenis sepeda gunung (mountain bike/mtb) tengah naik daun. Merk yang pertama dikenal dari jenis sepeda itu federal. Nama itu kemudian digunakan untuk menyebut semua merk sepeda mtb. Ukuran kerangka sepedanya lebih besar daripada sepeda jengki. Timbul kesan gemuk ketika melihat sepeda mtb. Namun daya tarik utamanya di mata saya terletak pada gigi-gigi roda yang bertumpuk di depan dan belakang. Dengan gir model ini, si pengendara dapat mengatur kecepatan sepedanya sesuai kebutuhan. Saat berangkat ke sekolah, tanjakan paling berat dirasakan di kampung kalikepuh. Mereka yang mengendarai sepeda federal bisa mengatur gir pada posisi besar sehingga genjotan terasa ringan. Sesampai di tempat datar, gir mereka pindah ke posisi kecil. Laju sepeda pun bertambah kencang. Fleksibel sekali. Ini berbeda dengan sepeda onta dan sepeda jengki yang saya naiki. Sayang sepeda mtb harganya cukup mahal. Namun akhirnya saya pun bisa merasakan sensasi sepeda federal ketika adik saya dibelikan sepeda seperti itu.

Selain tanjakan Kalikepuh, tanjakan batas kota juga cukup curam. Dari jarak 50 meter, kami harus sudah mengambil ancang-ancang. Rem depan harus dimanfaatkan agar bisa berhenti tepat di titik tertinggi. Kami mesti berhenti sejenak diantara sepeda-sepeda yang sudah berjajar di situ. Setelah arus lalu lintas Purworejo-Kutoarjo sepi, barulah sepeda kami kayuh menyeberangi jalan.

Walaupun banyak siswa yang melintasi jalan tersebut, tapi kami hanya bersepeda bersama teman-teman satu sekolah saja. Muncul pengelompokan berdasarkan sekolah. Ada kelompok SMAN 1, ada kelompok STMN 1, atau kelompok STM YPP. Setiap kelompok bisa asyik bercerita sepanjang jalan. Akan tetapi masing-masing penyepeda merasa enggan untuk bergabung dengan rombongan penyepeda dari sekolah lain. Meski saya bersepeda sendirian di belakang rombongan sekolah lain yang tengah asyik bercerita, saya tidak akan ikut bergabung. Saya tidak tahu apakah ini ekspresi kesombongan atau justru keminderan. Yang jelas tanpa sadar kami telah belajar mengkotak-kotakkan diri: siapa yang termasuk ingroup dan siapa yang outgroup.

Setelah ujian akhir SMA, saya dan beberapa teman A4 bersepeda santai. Tempat yang dituju curug Sumongari. Widiharto, M. Jauhari, Bayu Irawan, Nuri Fananto, Handi Tri Ujiono, dan Teguh Purnomo. Itu nama anggota rombongan kami. Petualangan  bersepeda ini sangat mengesankan bagi saya. Kami mesti menyisir jalan di tepi sungai. Air mengalir di sela bebatuan yang besar. Setelah melewati jalanan terjal yang menanjak akhirnya kami sampai di curug tadi. Puas menikmati suasana dan berfoto-foto, kami pulang. di tengah jalan mendung yang menggantung sejak pagi berubah menjadi titik-titik hujan. Rasa lelah pun berkurang.

Sebenarnya kami juga berencana bersepeda ke pantai. Sayangnya, rencana itu gagal. Kami keburu berkonsentrasi menghadapi UMPTN. Walhasil, bersepeda ke curug Sumongari menjadi acara cycling pertama dan terakhir kami.

Tentang Sepeda: Masa SMP

Saya lulus dari SDN Sebomenggalan tahun 1989. selama saya bersekolah di SD, keluarga saya tinggal di Baledono Ngentak. Setelah itu saya sekeluarga pindah ke Paduroso. Kelurahan ini masih termasuk wilayah Kecamatan Purworejo. Letaknya di sebelah barat Mranti, berbatasan dengan Lugosobo, Kecamatan Gebang. Karena saya bersekolah di SMPN 2 Purworejo, saya menggunakan sepeda untuk pergi dan pulang sekolah.

Sepeda menjadi pilihan utama saya karena lebih hemat waktu dan biaya. Bayangkan saja.  Seandainya saya menggunakan angkutan umum, saya harus dua kali berganti angkutan. Pertama, saya mesti naik angkudes jurusan Gebang-Purworejo. Biasanya sampai di warung pantes, angkudes sudah penuh penumpang. Dalam kondisi seperti itu, sopir enggan menghentikan kendaraannya untuk mengangkut penumpang yang menunggu di warung pantes. Akibat sering mendapat perlakuan semacam itu, saya lebih memilih naik minibus jurusan Kebumen-Purworejo. Saya turun di pasar pagi/terminal lama. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kopada jurusan Purworejo-Kutoarjo, turun di depan sekolah. Kopada rute ini juga menjadi pilihan seandainya saya naik angkudes rute Gebang-Purworejo. Bedanya, saya naik dari terminal angkudes yang dibangun di bekas pasar Tanjung (sebelah timur bioskop Pusaka).

Untuk berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, saya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Waktu itu bisa menjadi lebih lama jika saya tidak segera terangkut angkudes atau minibus.

Sementara jika menggunakan sepeda, waktu yang saya perlukan sekitar 20 menit. Rute yang biasa saya tempuh dari rumah melewati Mranti. Setiba di tangsi tentara Tuk Songo, saya belok kanan lewat bawah buh semurup, lalu ke timur ke arah alun-alun besar Purworejo. SMPN 2 Purworejo hanya dibatasi kantor pos dan kantor telkom dari alun-alun tadi.

Sepeda semacam ini yang saya gunakan bersekolah sehari-hari.

Sepeda jengki merk phoenix warna biru menjadi andalan saya. Dengan sepeda tersebut saya menempuh jalanan yang menanjak setiap pagi. Tanjakan mulai terasa saat tiba di sekitar tangsi tentara Tuk Songo. Kita bisa melihat jelas kondisi tersebut ketika membandingkan posisi tangsi dengan pompa air PDAM yang ada di depannya. Kondisi yang sama juga dijumpai kala kita melewati pasar Suronegaran dari arah TK Rimbani. Dari sini saya menyimpulkan bahwa posisi pusat kota Purworejo berada di wilayah yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Tidak mengherankan jika ada yang mengibaratkannya dengan bathok mengkurep.

Saya bisa merasakan betapa ringannya mengayuh sepeda ketika pulang sekolah. Karena tidak memerlukan banyak energi, dengan senang hati saya memboncengkan teman-teman yang searah. Beberapa teman yang tinggal di perumahan Mranti sering menjadi pembonceng sepeda saya. Karena kondisi jalannya lebih halus, saya memilih lewat pasar Suronegaran ke barat. Selanjutnya tinggal membelok ke kanan hingga sampai di perempatan perumahan Mranti.

Selain rute tadi, ada rute lain yang lebih singkat. Rute ini biasa ditempuh oleh teman-teman yang memilih berjalan kaki menuju sekolah. Saya menyebut rute ini dalan kebo, karena saya harus menyusuri pematang sepanjang saluran irigasi. Saluran itu terbentang dari pojok Puskesmas Purworejo II (Mranti) hingga pojok SD Tirtodranan (Sindurjan). Di sebelah kanan dan kiri saluran terdapat petak-petak sawah warga Mranti dan Sindurjan. Kondisi pematang (dalan kebo) itu tidak rata. Lebarnya sekitar 1,5 meter namun di beberapa titik pematang menyempit. Sepatu teman-teman yang melintasi jalan ini di pagi hari akan basah oleh embun yang menempel di rerumputan. Sementara jika pulang sekolah lewat sini, kami mesti bertopi untuk mengurangi sengatan sinar matahari. Maklum, tidak ada pohon-pohon peneduh di sepanjang pematang.

SMPN 2 Purworejo dilihat dari depan.

Saya punya pengalaman kecut dengan dalan kebo ini. Suatu pagi di tanggal 14 Agustus. Saya sudah kelas II SMP. Perasaan saya tidak nyaman ketika tiba di sekolah. Ini disebabkan karena teman-teman saya memakai seragam pramuka, sementara saya berseragam putih biru. Saya tidak ingat dengan pengumuman hari sebelumnya tentang peringatan hari pramuka. Pengumuman semacam itu biasanya ditulis di buku besar dan diedarkan berkeliling kelas. Guru yang tengah mengajar lalu membacakan pengumuman itu di depan kelas. Mengingat aturan tentang kedisiplinan yang diajarkan di sekolah, saya memutuskan untuk pulang berganti baju walaupun jam sudah menunjukkan pukul 06.40 WIB. Saya akan lewat pematang saja agar tidak terlambat tiba di sekolah. Sepeda pun saya kayuh cepat-cepat.

Setiba di rumah, saya segera berganti seragam pramuka. Ibu sempat berpesan agar saya berhati-hati di jalan. “Ya, bu,” jawab saya. Tanpa membuang waktu, saya kembali menyusuri dalan kebo. Jalan tanah yang tidak rata tidak membuat saya mengurangi kecepatan. Sengaja saya tidak duduk di sadel agar tidak mumbul-mumbul. Tiba-tiba roda sepeda saya menabrak batu cukup besar. Batu itu menonjol dari permukaan tanah. Saya berusaha menjaga keseimbangan sepeda. Sepeda pun melaju ke arah saluran air. Pikiran saya menyuruh saya untuk membanting kemudi ke arah kanan. Namun di sebelah kanan terdapat sawah dengan padi yang baru tumbuh. Seandainya saya banting kemudi ke kanan, pasti sepeda tercebur ke sawah. Tanaman padi itu bisa rusak. Rupanya sudah tidak ada waktu untuk berpikir. Dalam waktu sepersekian detik, roda depan sepeda saya sudah tidak menginjak tanah. Saya kecebur dengan sukses di saluran irigasi itu, bersama sepeda saya. Seragam pramuka saya basah. Sepatu dan kaos kaki hitam pun basah.

Sekitar 20 meter dari tempat saya jatuh ada seseorang yang tengah membuang hajat. Namun dia lebih memilih menuntaskan keperluannya daripada menolong saya. Saya pun segera mengangkat jengki biru itu lalu meneruskan perjalanan. Saya tidak sempat memperhatikan reaksi orang tadi ketika saya melintas di depannya. Yang terlintas di kepala hanya satu: saya harus menambah kecepatan agar tidak terlambat sampai di sekolah.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Upacara sudah dimulai waktu saya tiba di gerbang sekolah. Pintu besi itu digembok dan dijaga oleh guru piket. Ternyata yang terlambat tidak hanya saya. ada beberapa teman yang tertahan di luar pagar. Kondisi ini sedikit melegakan saya. saya tidak sendirian menemui guru piket nanti.

Bagi murid sekolah saya, terlambat merupakan salah satu kesalahan yang memalukan. Ya, namanya sekolah favorit (kala itu), guru selalu menekankan bahwa kami berbeda dengan siswa sekolah lain. untuk masuk saja mesti melalui seleksi akademis yang ketat. Pada waktu itu, kriteria penerimaan siswa baru sebatas kemampuan akademis saja. Faktor kemampuan orang tua menyumbang uang ke sekolah bukan menjadi penentu diterimanya seorang siswa. Oleh karena itu, sekolah berusaha membangun kesadaran diri yang baik di benak siswa. kesalahan dan kecurangan selama belajar dipahamkan sebagai sesuatu aib yang harus dihindari. Dalam sistem sosial semacam itu, siswa yang terlambat akan menjadi objek sindiran teman-temannya.

Seusai upacara hari pramuka, guru piket segera mendata siswa yang terlambat. Perasaan saya campur aduk kala itu. Ada rasa bersalah karena telah melakukan satu tindakan yang tidak dibenarkan oleh aturan sekolah. Ada juga rasa malu karena akan menjadi olokan teman-teman. Apalagi dengan kondisi badan basah kuyup begini. Dengan terbata-bata sambil menahan tangis (cengeng juga saya, ya) saya kemukakan kronologis kejadian yang saya alami. Akhirnya guru menyuruh saya pulang ke rumah berganti seragam. Saya pun merasa lega karena tidak mendapat teguran keras tadi.

Kali ini saya mengayuh sepeda dengan santai. Tidak perlu ngebut lagi. Pakaian putih-biru kembali saya pakai. Bahkan perut saya sudah terisi sepiring nasi lagi. Lumayan, dalam waktu satu jam saya sudah makan dua kali.

Pengalaman saya itu rupanya menjadi bagian dari kenangan masa SMP seorang teman. Dua puluh tahun kemudian, melalui facebook, teman SMP saya itu mengingatkan saya tentang kejadian tersebut. Wah, rupanya bukan hanya saya yang ingat kejadian itu. Hehehe….

Tentang Sepeda: Masa Kanak-kanak

Sepeda merupakan salah satu benda yang akrab dalam kehidupan saya. Bermula dari sepeda roda tiga di masa kanak-kanak dulu. Sepeda saya bercat biru, sementara punya adik saya berwarna merah. Hampir semua bagian sepeda terbuat dari besi. Pedalnya menyatu dengan roda depan. Setangnya tanpa rem karena laju sepeda bisa diatur dengan kaki. Ada 2 tempat duduk sepeda jenis ini. Pengendara duduk di atas sadel besi berbentuk segitiga. Pembonceng duduk di bagian belakang berbentuk kotak yang lebih luas. Jok dengan gabus tipis membuat si pembonceng dapat duduk nyaman. Posisi sadel pengendara lebih tinggi daripada tempat duduk pembonceng. Rodanya karet mentah. Kalau lewat jalan kampung saya yang belum beraspal (kala itu), yang mengendarainya akan mumbul-mumbul.

Saya biasa bermain sepeda semacam ini bersama adik dan dua orang teman di pekarangan sebelah rumah simbah. Di tanah berbentuk leter L seluas sekira 100 m itulah kami aman mengayuh sepeda roda tiga. Kami tidak khawatir dengan sepeda besar dan kendaraan yang lalu lalang di jalan kampung karena terdapat pohon teh-tehan yang memagarinya. Debu-debu jalan tanah pun tersaring oleh jajaran pohon itu.

Ujung jalan itu buh penceng. Kali Kedung putri dari depan rumah simbah.

Selain di pekarangan tadi, kami bisa bermain sepeda roda tiga di lapangan badminton RT sebelah. Saya masih ingat pada tahun 1985-1989 di Baledono Ngentak sudah cukup susah menemukan lahan untuk bermain anak-anak. Saat itu ruang bermain kami hanyalah pekarangan tetangga, jalan setapak yang sudah dibeton, atau berenang di kali Kedung Putri. Kenangan tentang kali yang melintasi belakang Pasar Baledono lalu membelah kecamatan Purworejo itu tidak mungkin hilang dari benak saya. Insya Allah akan saya ceritakan di tulisan lain.

Kembali ke topik sepeda. Menginjak usia SD, teman-teman saya beralih ke sepeda anak beroda dua. Mereka begitu bersemangat belajar mengendarai sepeda jenis itu. demikian pula adik saya. Tidak heran jika dalam waktu singkat mereka bisa naik sepeda roda dua. Namun saya takut ikut berlatih sepeda itu. saya takut jatuh lalu kaki berdarah karena terantuk batu. Akibatnya, barangkali hanya saya yang tidak bisa mengendarai sepeda roda dua. Sejak saat itu mereka enggan bermain sepeda roda tiga. Barang itupun hanya teronggok di dapur rumah simbah saya. Suatu hari dengan alasan bersih-bersih, dua sepeda roda tiga milik saya dan adik saya pun dijual ke tukang loak.

Sewaktu duduk di kelas 2 SD, saya mesti menjalani operasi amandel. Operasi dilakukan di RSU Purworejo. Untuk menyenangkan hati saya, bapak dan ibu membelikan sebuah sepeda mini merk Olympic. Sepeda itu berwarna merah dengan keranjang warna putih. Ukurannya 1,5 kali lebih besar daripada sepeda mini merk Phoenix. Karena saya masih merasa takut belajar sepeda, bertahun-tahun sepeda itu hanya dipakai oleh paklik dan bulik saya.

Sepeda bmx yang membuat penunggangnya tampil gagah.

Sepeda bmx yang dulu begitu gagah di mata saya.

Tahun 1988 beberapa teman saya membeli sepeda BMX. Gagah sekali mereka di mata saya saat mengendarai sepeda itu. tanpa keranjang, tanpa slebor panjang, tanpa lampu. Saya membayangkan mereka seperti crosser dengan motor trailnya. Sore hari mereka bersepeda sepanjang jalan setapak kampung saya. Tidak jarang di minggu pagi mereka bersepeda ke utara hingga Baledono Singodranan atau ke timur hingga buh liwung kali Bogowonto. Pulangnya lewat pesarean kuncen lalu ke barat ke pasar Baledono. Saya yang tidak bisa naik sepeda dibonceng dengan duduk di palang. Berada di depan dengan berpegangan setang membuat saya merasa bisa naik sepeda sendiri. Karena merasakan asyiknya bersepeda, akhirnya saya pun ingin belajar naik sepeda. Sepeda mini yang bertahun-tahun tidak saya sentuh, kini saya tuntun ke pekarangan tetangga. Kaki kanan menginjak pedal sementara kaki kiri menyentuh tanah. Begitu sepeda berjalan, kaki kiri saya angkat. Seerdug… seerdug…. lambat laun kaki kiri saya bisa menginjak pedal kiri. Namun mengayuh pedal sepeda pun bukan perkara mudah bagi orang yang sedang belajar. Rasanya berat. Sayapun hanya berdiri di atas kedua pedal sambil menyetanginya. Akibatnya sepedapun melambat. Sesaat setelah sepeda berhenti melaju, dengan sigap saya menapakkan kaki. Biar tidak jatuh kerobohan sepeda yang besar dan berat itu. hehehe ….

Jatuh saat bermain sepeda ternyata tidak sesakit yang saya takutkan. Semangat untuk segera bisa naik sepeda membuat saya tidak menggubris rasa perih di lutut saya. Setelah beberapa kali menabrak rumpun pohon pisang di pekarangn tadi, sore harinya saya semakin lancar naik sepeda. Rasa perih itupun tidak lagi terasa. Sejak saat itu saya pun bisa ikut teman-teman bersepeda keliling kampung. Cihuy….

Bersepeda ke rumah simbah teman saya di Kutoarjo merupakan pengalaman bersepeda paling mengesankan bagi saya. Kejadiannya terjadi di saat liburan awal ramadhan. Sehabis sholat subuh di masjid, teman saya mengajak untuk bersepeda ke rumah simbahnya. Katanya, pohon rambutan simbahnya tengah berbuah. Siap dipetik. Tawaran itu menarik sekali bagi kami. Beberapa orang teman pun mengiyakan tawaran tadi. Kami berangkat berbonceng-boncengan. Anak-anak yang lebih kecil seperti saya dan adik saya diboncengkan anak yang lebih besar.

Matahari yang semakin panas membuat rasa haus cepat datang. Namun bayangan manisnya rambutan yang bisa dipetik untuk berbuka nanti menumbuhkan semangat kami. Sayangnya sesampai di kutoarjo, rupanya rambutan itu belum matang. Kami pun pulang dengan tangan hampa. Hidangan lain yang disajikan pun tidak kami makan karena sedang puasa. Pagi itu jarak 10 km yang harus kami tempuh dengan sepeda menjadi terasa begitu berat.

Kepergian saya dan adik saya tanpa pamit bapak dan ibu. Ini sangat mencemaskan perasaan beliau. Bapak saya berkeliling ke sejumlah tempat keramaian mencari anak-anaknya. Di sekitar Pasar Baledono dan Pasar Tanjung, kami tidak ditemukan. Di bioskop Pusaka dan Bagelen juga tidak ada. Di alun-alun dan lapangan garnizun juga tidak ada. Ibu saya semakin cemas. Apalagi saat itu tengah muncul isu penculikan anak. Duh, pikiran bapak dan ibu saya kalut karena sudah berjam-jam anaknya pergi keluar rumah. Setelah beberapa kali menyisir tempat-tempat keramaian tadi, bapak berhasil bertemu rombongan sepeda saya. Wajah cemas beliau langsung saya tangkap. Wah, pasti saya akan disidang nanti di rumah.

Tebakan saya benar. Sesampai di rumah, saya langsung diinterogasi. Dengan badan mandi keringat hasil terpanggang sinar matahari pagi, saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan saya pagi itu. Rasa haus semakin mencekat karena saya nangis kala dimarahi bapak dan ibu. Akan tetapi saya semakin menyadari betapa bapak dan ibu sangat menyayangi anak-anaknya. Beliau tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada diri kami. Selesai kami mandi pagi, bapak menyuruh saya dan adik saya sarapan. Batallah puasa di hari itu.

28 Ramadhan 1428 H

Hapeku berbunyi. Nada dering M35 melonku terdengar begitu keras dinihari ini. Nama istriku terpampang di layarnya.

“Assalamu’alaikum,” sapaku.
“Waalaikumussalam,” sahut istriku. “Yah, cepat pulang. Sekarang.”
“Ada apa?” tanyaku sambil melirik jam dinding. Jam 02.00. Suara orang membangunkan sahur dari masjid pun belum terdengar.
“Bapak. Bapak.” Jawab istriku. Nada suaranya sedikit bergetar.
“Hmm. Apa nggak bisa nunggu sampai besok? Ini kan hari terakhir masuk kerja,” tawarku.
“Enggak usah. Pulang sekarang aja,” jawab istriku.
“Oke, aku kemas-kemas dulu,” sahutku.

Setelah menjawab salam, aku segera mencuci muka. Ada apa dengan Bapak? Ini pertanyaan yang menggayuti pikiranku. Nampaknya kabar penting hingga aku diharuskan pulang sekarang. Padahal aku berencana mudik besok pagi. Aku akan naik motor sendirian karena istri dan anakku sudah mudik awal pekan kemarin. Tiba-tiba ada kabar tentang bapak dari rumah. Sayangnya, istriku tidak menjelaskannya tadi. Sikapnya kali ini terasa aneh. Yang kutahu, dia orang yang rasional dan mampu bersikap tenang.

Sambil makan sahur aku mencoba menghadirkan Bapak dalam ingatanku. Beberapa bulan lalu Bapak kulihat sehat-sehat saja. Memang sudah dua tahun Bapak sakit stroke. Serangan itu datang menjelang acara pernikahanku. Dari berbagai pengobatan yang dilakoni, alhamdulillah bapak sudah bisa melakukan aktivitas secara mandiri. Walaupun separuh badan sebelah kanan lumpuh, Bapak tetap bisa menjalani hari-hari dengan baik. Sayangnya, lisan Bapak masih terasa kaku. Sering kali beliau hanya tertawa melihat kami yang tidak paham dengan kata-kata yang beliau ucapkan.

“Bapak kemarin masuk angin. Sekarang hanya tiduran. Makannya agak susah, makanya Pak Dokter Syamsul memasang infus buat bapak. Tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik.” Begitu kabar terakhir yang kuterima dari Ibu pertengahan ramadhan kemarin. Sekarang aku harus segera pulang. Ada apa dengan Bapak?

Selesai sahur, aku bergegas merapikan rumah. Maklum, akan ditinggal mudik sepekan. Kalau dirapikan sekarang, besok waktu balik dari kampung kondisi rumahku tidak berantakan. Beberapa potong pakaian aku jejalkan ke dalam tas punggung. Helm, kacamata, slayer, pelindung dada, kaus tangan, sepatu, dan jaket aku siapkan. Sepucuk surat izin tidak masuk kerja segera kutulis. Seharusnya hari ini aku masuk kerja yang terakhir sebelum libur lebaran.

Pukul 4 pagi, aku siap meluncur. Setelah mampir di pos satpam untuk menitipkan surat izin, motor tuaku kupacu kencang. Dua setengah jam waktu yang kuperlukan untuk menempuh jarak Klaten – Purworejo. Namun aku berusaha sampai di rumah secepatnya. Apalagi kondisi jalan masih cukup sepi.

Satu jam kemudian aku sampai di Gamping (ujung ring road selatan Yogyakarta). Jalanan menjadi lebih sempit. Namun, iring-iringan kendaraan pemudik yang akan memasuki Yogya semakin panjang. Di sebuah masjid selepas Gamping, aku tunaikan sholat subuh.

Kembali aku memacu kendaraanku. Kembali pikiranku terusik dengan pertanyaan tentang kondisi Bapak. Sangat mungkin sakit Bapak menjadi lebih parah daripada kemarin. Mungkin saja Pak Dokter Syamsul –teman baik Bapak- semalam terpaksa dibangunkan untuk memeriksa kondisi Bapak. Mungkin dari hasil diagnosis, Pak Dokter menyarankan untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Begitulah penjelasan yang coba kurangkaikan untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Akan tetapi, bagaimana kalau kondisi Bapak lebih buruk daripada itu? Tanpa bisa kukendalikan, pertanyaan tadi menyusup pula ke dalam benakku. Ah, tiba-tiba seperti ada yang merenggut hatiku. Ya Allah, mohon kesembuhan bagi bapak agar beliau ikut merayakan kebahagiaan di hari raya.

Aku berusaha memupus bayangan terburuk itu dengan berdzikir. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar. Lisanku terus melafalkan puji-pujian bagi Allah. Inilah salah satu nasihat yang pernah beliau sampaikan padaku. “Jika kamu berkendaraan, jangan lupa berdzikir. Dzikir membuat hati kita tenang. Kamu pun tidak akan kehilangan kewaspadaan di jalan.”

Pengalaman berdzikir saat mengendarai motor membuatku merasa Allah menyertai perjalananku. Pikiranku menjadi tenang. Perlahan tapi pasti, pertanyaan itu tidak lagi menghantui pikiranku. Yang muncul di hatiku justru sugesti positif untuk menghadapi situasi di rumah nanti. Seandainya bapak sekarang dirawat di rumah sakit, aku pikir inilah yang terbaik untuk kesembuhan beliau.

Seandainya bapak tiada pun aku harus tetap bahagia. Mengapa demikian? karena bapak meninggal di bulan ramadhan. Ini bulan yang penuh kemuliaan. Insya Allah beliau khusnul khotimah. Hatiku bergetar saat mengamini kemungkinan terakhir tadi. Tanpa terasa sejalur air bening membasahi pipiku yang tirus.

Satu setengah jam kemudian kulihat gerbang masuk desaku, Lugosobo. Hei, ternyata anakku lagi bermain di dekat gerbang itu. Rupanya dia bersama istriku dan adik bungsuku. Senyuman lega terpancar dari wajah-wajah mereka. Alhamdulillah, hatiku pun merasa senang. Tampaknya kekhawatiranku tidak terjadi.
“Pulanglah dulu. Nanti kami menyusul,” pesan istriku.

Gas motor segera kutarik. Masih ada 100 meter lagi jarak yang harus kutempuh untuk sampai di rumah. Namun hatiku langsung berdegup kencang. Bendera warna putih menggantung di pagar halaman. Aku langsung paham yang sebenarnya terjadi.

Bapak menyambutku di ruang tamu, terbaring di atas meja panjang. Secarik kain batik menutupi muka dan sekujur badan. Sebuah senyum kulihat tersungging di wajah beliau yang damai. Seolah bapak menyapaku, ”Kamu sudah sampai, le? Tidak ada halangan di jalan, kan?”

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Dalam sholat jenazah yang kutegakkan, aku berusaha menangkap makna setiap bacaannya. Kurendahkan diriku dalam lisan yang mengagungkan kebesaran-Mu. Kuhayati permohonan petunjuk yang terangkai dalam ayat-ayat al Fatihah. Kusertakan hati dalam setiap kata yang memohon ampunan bagi Bapak.

Ya Allah, berilah ampunan bagi Bapak. Beliaulah yang telah mengukir jiwa dan raga kami.
Ya Allah, limpahkanlah kasih sayang-Mu pada Bapak. Sungguh aku menjadi saksi atas besarnya kasih sayang Bapak kepada buah hatinya.
Ya Allah, maafkanlah segala kesalahan Bapak. Selama ini Bapak telah berlapang dada menerima segala tuntutan kami dan memaklumi setiap tingkah polah kami.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Amin.