Arsip | catatan kecil RSS for this section

Saya yang Kembali

Assalamu’alaikum wr. wb.

Apa kabar, sobat? Tidak terasa sudah lebih dari 3 tahun saya tidak menyapa Anda melalui blog Rumah Dzaky. Ini bukan karena saya ingin memutus tali silaturahim di antara kita. Akan tetapi, karena ada sejumlah aktivitas yang menuntut saya untuk memusatkan perhatian ke sana. Di sela-sela kerja menelaah buku-buku yang dikerjakan oleh tim produksi, saya berkesempatan membantu Kang Ahmad Khoerul Fahmi untuk menggarap proyek penulisan biografi ulama yang diadakan Puslitbang Kementerian Agama RI. Pada tahun 2013 lalu saya dilibatkan sebagai editor dalam penulisan biografi KH Yusuf Al-Hafidz (Ajibarang, Banyumas)  dan KH Hisyam (Kalijaran, Purbalingga).

Setahun kemudian saya kembali membantu Kang Fahmi untuk proyek serupa. Kali ini ada lebih dari 30 ulama yang tinggal di Jawa Tengah bagian selatan yang kami dokumentasikan. Para ulama itu mendakwahkan ajaran Islam di sekitar daerah Purwokerto, Kebumen, dan Purworejo. Beberapa ulama legendaris Purworejo seperti KH Imam Puro, Syekh Ahmad Muhammad Alim Basaiban, dan Tuan Guru Luning termasuk yang saya dokumentasikan.  Dari dua pengalaman tersebut saya belajar banyak hal tentang hidup dan perjuangan mewujudkan cita-cita.

Kebahagiaan keluarga saya pun bertambah dengan hadirnya dua orang adik Dzaky. Alhamdulillah, rumah mungil kami kini lebih meriah. Tingkah polah Luqman dan Fikri menjadi pelepas penat saya setelah sepanjang waktu berkutat dengan kerja mengedit buku.

Nampaknya Allah SWT kembali menghadirkan suasana baru dalam kehidupan saya. Sejak November 2016 saya diberi tugas baru oleh PT Intan Pariwara. Sekarang saya tidak lagi di bagian produksi, melainkan di tim Training Center Intan Pariwara. Tim baru ini dibentuk untuk membekali karyawan IP dengan materi yang diperlukan dalam melaksanakan tugas dari perusahaan. Sasaran kerja tim Training Center bukan hanya karyawan baru. Pengembangan kinerja karyawan aktif dan pembekalan bagi mereka yang akan segera pensiun pun menjadi tanggung jawab tim kami. Tuntutan tersebut mendorong saya dan semua anggota tim TC belajar banyak hal tentang konsep dan persiapan pelatihan.

Fase baru dalam hidup saya ini menghadirkan banyak pengalaman baru yang membuka wawasan saya. Saya pun akan kembali mencoretkan hal-hal tadi dan berbagi cerita dengan Anda melalui blog ini. Insya Allah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

Iklan

Buka Mata-Hati-Telinga

Buka mata-hati-telinga. Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta. Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan.

Lagu yang menggema di ruang saya pagi ini mengandung makna mendalam. Saya teringat dengan segala keinginan yang pernah menggunung sebelum saya mendapat musibah kemarin. Lima bulan lalu aku masih merupakan orang dengan keinginan besar tentang dunia. Saya merasa begitu bersemangat untuk bisa mewujudkan setiap keinginan. Pada waktu itu saya sedang resah karena bisnis axogy saya tengah mandeg. Jumlah pelanggan belum bertambah. Bahkan ada yang kemudian tidak lagi membeli axogy pada saya. Ini disebabkan mereka berhenti meminum axogy atau memilih menjadi outlet axogy sendiri. Padahal saat itu saya sudah memasang target tinggi. Saya harus bisa mendapatkan pemasukan paling tidak 500 ribu perbulan. Hal ini dipicu pula oleh kenyataan bahwa sejumlah warung telah muncul di lingkungan Taman Srago. Tentu saja omzet penjualan warung saya menurun. Terjun bebas. Itu istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisinya.

Namun saya yakin Allah itu menyediakan banyak pintu rejeki bagi keluarga kami. Keyakinan tersebut mendorong saya berusaha membesarkan bisnis air murni. Saya membayangkan jika pemasukan dari axogy bisa mencapai target, saya akan dapat menggunakannya untuk membayar biaya sekolah Dzaky, biaya kursus yang perlu Dzaky ikuti, dan bayar premi tabungan pendidikan syariah. Saya membayangkan jika bisa memenuhi kebutuhan tersebut, anak saya akan merasa bahagia. Akhirnya saya pun akan merasa bahagia pula.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Allah memberi saya cobaan berupa kecelakaan lalu lintas pada 24 Desember 2010. Yang lebih menyebalkan lagi ialah pengalaman harus berurusan dengan orang yang buta mata hatinya seperti Saman. Dia tidak punya itikad baik menyelesaikan masalah tersebut. Saman justru mencari beking polisi agar bisa lolos dari tuduhan salah. Terus terang saya langsung kehilangan respek padanya. Padahal semula saya menghargainya karena dia sudah tua, pensiunan PNS lagi. Sebenarnya Saman sendiri yang menjatuhkan harga dirinya di mata saya dengan perbuatan culasnya.

Dalam kondisi tidak berdaya, saya terus berusaha dzikir. Mengingat bahwa semua ini adalah kehendak Allah. Allah Mahasempurna. Setiap kehendaknya pasti memberi kebaikan bagi hambaNya. Ketika menyadari hal tesebut, hati saya terasa lega. Tidak ada yang harus ditangisi, apalagi sampai menggugat Allah dengan kehendakNya. Batin saya berusaha berdamai dengan takdir tadi. Memang jika dipikir logis, tampaknya lebih banyak kerugian yang diterima daripada manfaat yang saya peroleh. Saya terpaksa menghentikan ambisi membangun bisnis. Saya dipaksa bersabar dengan segala keterbatasan gerak sekarang. Istri saya menjadi lebih repot karena harus mengelola semua urusan keluarga sendiri. Yang paling kelihatan ialah keluarnya biaya begitu besar (di atas 20 juta rupiah) untuk pengobatan kemarin. Urusan pun menjadi benang kusut karena sikap Saman yang tidak kooperatif. Itu sebagian ‘kerugian’ yang bisa disebutkan.

Apabila saya hanya memikirkan segala kerugian tadi, saya pasti akan semakin terpuruk. Guna menyeimbangkan kondisi batin, sayapun harus berusha menemukan hikmah dari kecelakaan tadi. Menurut saya jika hikmah berhasil didapatkan, saya akan lebih mudah bersikap sabar. Lantas hikmah apa yang bisa saya ungkap? Ternyata sangat banyak hikmah yang saya dapatkan. Pertama, saya menjadi sadar bahwa Allah itu dekat. Maka tidak ada satupun alasan untuk meninggalkanNya. Apa maksudnya? Ketika saya mengalami peristiwa tersebut, saya hanya bisa pasrah kepada Allah. Saya berdoa agar Allah menyelamatkan diri saya. Ini doa yang sangat tendensius karena saya merasa belum siap untuk mati saat ini. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya. Walaupun sempat mengalami penurunan kesadaran ketika menjalani transfusi darah, akhirnya saya ditolong Allah melewati fase kritis. Sungguh saya merasa tidak memiliki daya apapun kecuali atas izin Allah. Sampai sekarang pun kesadaran itu begitu membekas di benak saya.

Kedua, saya menyadari besarnya kasih sayang keluarga besar kepada keluarga kami. Saat kami kerepotan menata kehidupan keluarga pasca kecelakaan, keluarga besar banyak memberikan uluran tangan. Mereka melakukan semua itu dengan ikhlas. Tidak ada pamrih apapun kecuali keinginan untuk melihat kondisi keluarga kami kembali normal. Bantuan terus diberikan walaupun kami tidak memintanya. Alhamdulillah, sekarang kondisi keluarga kami sudah pulih. Kami sudah beradaptasi dengan realitas kehidupan yang baru. Ini sangat patut disyukuri. Ketika kami limbung, keluarga besar bahu-membahu untuk menguatkan kami. Upaya mereka sangat tepat digambarkan dalam lagu Bondan Prakosa yang berjudul Ya Sudahlah. Apapun yang terjadi, aku tetap ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything gonna be okay.

Ketiga, peristiwa kecelakaan itu menjadi pupuk untuk menyuburkan rasa kasih sayang di keluarga kami. Setelah kecelakaan, praktis kemampuan bergerak saya berkurang. Otomatis istrilah yang harus mengambil alih semua urusan keluarga. Bersih-bersih rumah, memasak makanan, mengantar–jemput Dzaky ke sekolah, mengantar-jemput saya bekerja, periksa ke dokter, mengantar terapi rutin seminggu sekali, menebus obat di apotek, belanja untuk warung, sampai menyelesaikan urusan di kantor polisi dan Jasa Raharja. Semua dikerjakan istri sendirian. Mula-mula memang terasa berat. Akan tetapi karena rasa ikhlas selalu dihadirkannya dalam setiap aktivitas, sekarang semua terasa ringan dijalani. Pada waktu menyadari kerepotan istri, saya bertekad untuk membuatnya bahagia. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan coba saya kerjakan. Kadang justru istri yang merasa khawatir melihat saya beraktivitas tadi. Namun saya mencoba menepis segala kekhawatirannya. Saya memastikan bahwa aktivitas kecil itu tidak merugikan proses pengobatan. Dalam kondisi semacam ini, hati-hati kami terasa semakin dekat. Saya menemukan bukti besarnya cinta dan sayang istri kepada kami sekeluarga. Alhamdulillah. Saya pun berusaha menunjukkan pula rasa yang sama kepada istri dan anak.

Keempat, menjaga hubungan baik dengan para tetangga itu sangat menguntungkan. Sebagai pendatang, kami sekeluarga jauh dari keluarga besar. Saat mengalami kerepotan, tetanggalah yang pertama kali dimintai pertolongan. Kesadaran seperti inilah yang mendorong keluarga kami untuk menjalin hubungan baik dengan para tetangga. Alhamdulillah, ketika mengalami kerepotan, banyak tetangga yang peduli. Mereka dengan ringan hati membantu beberapa urusan kami. Namun saya juga menyadari bahwa tetangga tetaplah orang lain. Mereka punya kesibukan dan urusan masing-masing. Oleh karena itu, ketika mereka tidak optimal dalam membantu menyelesaikan urusan dengan Saman, saya bisa memakluminya. Walaupun tetangga merupakan saudara yang terdekat, namun kita tidak boleh bergantung kepda mereka. Itu yang kami ambil sebagai patokan bersikap.

Kelima, saya semakin sadar bahwa Dzaky memang anak yang luar biasa. Malam pertama saya di rumah sakit ditemani istriku. Dzaky malam itu tidur di rumah Uut. Dia sempat nglilir dan menangis menanyakan keberadaan ibunya. Namun setelah diberi keterangan oleh orang tua Uut, Dzaky bisa tenang kembali. Selama belasan hari saya dirawat di rumah sakit, Dzaky terpaksa tinggal di rumah tanpa ibunya. Dia bersama Mbah Mamak, bulik Yanti, dan Nada. Sehari-hari mereka berempat yang ada di rumah. Alhamdulillah Dzaky sangat sabar. Dia tidak rewel. Jika ibunya mau kembali ke rumah sakit, Dzaky juga tidak merajuk. Sepertinya dia sangat menyadari keadaan keluarga saat itu.

Alhamdulillah, Allah selalu menjaganya dengan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi Dzaky. Banyak anak-anak tetangga senang bermain dengan Dzaky. Apalagi Nada, saudara sepupunya. Alhamdulillah, Allah telah menggerakkan hati-hati keluarga dan orang-orang di sekitar kami untuk berempati dengan kondisi keluarga kami saat itu.

Sebenarnya masih banyak lagi hikmah yang bisa digali dari peristiwa kecelakaan itu. Sekarang kembali pada kutipan lagu yang saya dengar pagi ini. Saya seperti diingatkan untuk berpikir positif tentang setiap peristiwa yang dialami. Ini disebabkan karena keinginan kita tidak selalu merupakan kebutuhan kita. Sementara Allah pasti memberikan kebutuhan kita. Seandainya tidak sesuai dengan harapan, yakinlah bahwa kebutuhan kita sudah dipenuhi oleh Allah. Tidak ada satupun alasan untuk meragukan itikad baik Allah kepada kita walaupun kondisi yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan.

Nikmatnya Berbuka, Nikmatnya Pengendalian Diri

Bagi orang berpuasa, berbuka merupakan kenikmatan yang luar biasa. Setelah sehari menahan diri dari pemenuhan nafsu ragawi, berbuka terasa begitu melegakan. Tidak heran jika sebagian kita merasa perlu menyiapkan menu istimewa untuk berbuka. Ada yang pergi ke restoran terkenal. Ada yang memasak sendiri hidangan istimewa bagi keluarga. Namun ada juga yang memilih hidangan sederhana asal bergizi.

Terlepas dari apapun menu berbuka yang anda pilih, sebenarnya kita disodori satu hikmah sederhana. Jika kita mampu mengendalikan diri, kita akan merasakan nikmat yang sungguh besar. Tengoklah tindakan kita menahan keinginan makan dan minum di saat berpuasa. Ternyata kita bisa merasakan kebahagiaan yang indah saat berbuka. Tidak heran jika dalam kondisi itu, segelas air putih pun terasa begitu melegakan. Saking leganya, sampai-sampai kita merasa tidak perlu menghabiskan semua hidangan yang sudah tersaji di meja.

Bagi saya, nikmatnya berbuka puasa menunjukkan pada kita kunci menciptakan kebahagiaan hidup. Agar hidup selalu terasa indah, kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Dengan cara ini, setiap pemberian Allah swt sekecil apapun akan bernilai luar biasa bagi kita. Dari sini kita termotivasi untuk selalu bersyukur kepadaNya. Anda pun pasti tahu efek syukur tadi. La insyakartum, la azii danakum. Wala inkafartum, inna ‘adzabi la syadid. Allah swt akan menambahkan anugerah yang lebih besar bagi kita. Bukankah ini yang selalu kita harapkan?

Berpuasa Agar Tidak Menjadi Zombie

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Di bulan ramadhan, hadits tersebut tentu sering Anda dengar. Melalui televisi, surat kabar, spanduk, atau mimbar agama, kita diingatkan tentang keutamaan puasa di bulan ramadhan. Seperti yang ditegaskan dalam hadits di atas.

Dalam pemahaman saya, terdapat makna yang begitu besar di balik sabda Rasulullah saw itu. Rupanya puasa dimaksudkan untuk melembutkan hati kita. Segumpal darah dalam jiwa manusia itu memiliki peranan penting dalam kehidupan. Nabi Muhammad menegaskan bahwa hatilah yang menentukan baik-buruk perilaku manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh tindak tanduk, tutur kata, dan sikap kita. Sebaliknya, jika hati ini buruk, maka setiap ucapan dan perbuatan kita hanya membawa kerugian bagi diri dan orang lain.

Nah, berpuasa di bulan ramadhan akan menyeting ulang program hati kita. Selama ini, banyak hati manusia yang sudah beku, bahkan mati. Kondisi tersebut akibat kebiasaan manusia memperturutkan hawa nafsu. Pelan-pelan kita mengabaikan suara hati saat berlomba memperebutkan nikmat duniawi. Demi kekuasaan, kita tega membungkam hati yang setia mengingatkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, kita rela mengubur hati dengan membenarkan sikap egois yang kita lakukan. Karena hati sering dilecehkan, hati mengeras dan tidak bisa menerima kebenaran yang datang dari ALLAH swt. Jika kondisi tersebut tidak dihiraukan, akhirnya hati menjadi mati. Manusia lalu bertindak tanpa pertimbangan kata hati.

Lantas, apa makna kenikmatan orang berpuasa yang dimaksud oleh hadits di atas? Ternyata terdapat nikmat yang besar di balik kemampuan mengendalikan diri. Menahan makan, minum, dan pelampiasan nafsu lainnya akan membawa kita pada kenikmatan. Ya, puasa memang tidak mematikan keberadaan nafsu dalam diri kita. Nafsu-nafsu itu memang tidak bisa dibunuh. karena saya yakin ada manfaat di balik keberadaannya. Selama berpuasa, kita dituntut untuk berlatih mengendalikannya. Jika terkendali, kita akan dapat merasakan manfaat setiap nafsu. Hal tersebut telah kita rasakan setiap berbuka puasa.

Berpuasa sehari tentu mengajarkan kita rasa haus dan lapar. Dua rasa itu menjadi sahabat setia para dhuafa. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Dari sini akan muncul sikap empati terhadap kondisi mereka. Sikap mental positif ini akan diikuti sikap mental positif lain. Kita menjadi lebih ramah terhadap orang lain. Penghormatan yang tulus kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita. Kasih sayang kita tebarkan pada mereka yang lebih papa. Hati pun akan mendorong kita untuk berbagi bahagia walau hanya melalui seutas senyuman. Ketika perilaku kita penuh dengan kebajikan, saat itulah kita tengah memandang wajah Tuhan. Allah swt adalah dzat yang menguasai keagungan cinta. Lantaran kasih sayang yang disebarkan manusia, kita dapat merasakan betapa agung cinta yang Allah anugerahkan. Kita dapat melihat wajah tuhan di balik senyuman hangat, sapaan tulus, dan solidaritas yang ditunjukkan oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak heran jika Allah mengambil analogi bahwa bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih harum daripada bau minyak kasturi.

Wisata ruhani yang tengah kita jalani sekarang sungguh sangat menentramkan jiwa. Karena rahasia besar yang ada di balik puasa, Allah swt sendiri yang akan menilai upaya setiap muslim dalam menjalankan perintahNya.

Awas, Jebakan Ritual Ramadhan

Euforia ramadhan sudah mereda. Gegap gempita yang mengekspresikan kebahagiaan menyambut datangnya bulan penuh barokah ini tidak lagi terasa sekuat kemarin. Tidak percaya? Coba perhatikan kondisi masjid di lingkungan anda. Seberapa jauh kemajuan yang terjadi? Maksud saya, apakah kondisi shof jamaah sholat masih seperti pekan lalu? Waktu itu hampir setiap masjid dipenuhi orang yang ingin melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Sampai-sampai takmir memasang tenda di halaman masjid agar jamaah yang membludak itu tidak kehujanan. Sekarang anda bandingkan kondisinya. Ternyata sebagian masjid sudah mengalami kemajuan. Tenda-tenda sudah tidak lagi berisi jamaah. Bahkan di barisan belakang, tersedia cukup ruang bagi anak-anak usil untuk menggelar perang-perangan.

Jumlah jamaah sholat subuh pun menyusut. Tampaknya tinggal menghitung hari saja untuk melihat kembalinya kondisi masjid pada keadaan ‘normal’ -kondisi di luar bulan ramadhan-.
Menyusutnya barisan sholat juga berimbas pada berkurangnya peserta tadarus al qur’an. Di awal ramadhan, kita yang enggan membaca al Qur’an -karena ‘grothal-grathul’ mengejanya- masih bersedia menyimak pembacaannya oleh orang lain. Namun lama-lama menyimak pun terasa melelahkan. Daripada bengong, banyak yang memilih melipat sajadah lalu menonton aksi para bintang liga inggris di televisi.

Fenomena semacam ini selalu terulang setiap ramadhan. Dari hari ke hari, peserta pelatihan kamp ramadhan tereliminasi. Mengapa bisa terjadi? menurut saya, hal itu terjadi sebagai akibat terjebaknya jiwa kita pada ritual ramadhan. Kita menjalankan ibadah karena banyak orang melakukannya. Kita berpuasa ramadhan karena teman-teman berpuasa. Kita sholat tarawih berjamaah karena tetangga berbondong-bondong pergi tarawih di masjid. Kita ikut tadarus al qur’an karena malu dianggap bukan orang sholih. Besarnya faktor eksternal yang memengaruhi motivasi ibadah kita membuat setiap tindakan kita tidak melibatkan hati. Nyaris tidak ada alasan transendental yang menghubungkan jiwa kita dengan Allah swt. Rubuh-rubuh gedhang. Begitu ungkapan orang jawa untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Lantas, siapa orang yang tidak terjebak pada ritual ramadhan? Mereka ialah orang-orang yang mampu menangkap hikmah ramadhan. Mereka inilah orang yang selalu merindukan ramadhan. Kerinduan tersebut bukan tanpa alasan. Ramadhan itu bulan yang istimewa. Di penghujung ramadhan Allah swt menjanjikan kemenangan yang besar bagi umat manusia. Wujudnya berupa pembebasan seorang hamba dari api neraka. Barang siapa yang bisa memanfaatkan peluang emas ramadhan untuk mendekat kepada Allah swt, niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya dari segala dosa yang pernah dilakukan. Kondisi bersih kita bagaikan kondisi bayi yang baru lahir. Nah, para perindu ramadhan menyadari betapa besar dosa yang dia perbuat selama ini. mumpung bertemu ramadhan, mereka berusaha mendapatkan ampunan Allah swt melalui jalan takwa. Mereka berusaha mengerjakan segala yang diperintahkan Allah swt, dan menjauhi segala yang dilarangNya. Motivasi yang mereka miliki menguatkan diri untuk tekun memanfaatkan setiap hembusan nafas dengan ibadah.

Bagaimana halnya dengan diri kita? Apakah kita berharap dijauhkan dari api neraka oleh Allah swt? jika iya, kita perlu mengubah pola pikir kita tentang ramadhan. Mari pahami ramadhan sebagai peluang emas untuk mendapatkan ridho Allah swt. Ingatlah, kita tidak tahu apakah akan diberi kesempatan bertemu ramadhan mendatang. Siapa tahu ini ramadhan terakhir yang kita miliki. Oleh karena itu, syukurilah kesempatan emas ini dengan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Caranya, dengan selalu melibatkan hati dalam setiap ibadah dan muamalah yang kita lakukan. Luruskan niat setiap akan melakukan kebajikan. Niscaya setiap langkah kita menjadi langkah untuk mendekat kepada Allah swt. Waspadalah! Jangan biarkan jiwa kita terjebak pada perangkap ritual ramadhan.

Berapa Nilai Diri Anda?

Berapa nilai diri anda? Barangkali ada yang mengukurnya dengan jumlah materi yang ingin diterima. Patokannya hanya sebatas penilaian kita atas potensi dan kemampuan yang ada dalam diri kita. Dari pemikiran ini lahirlah sederet angka yang menurut kita layak diterima sebagai ganti dari kerja yang kita lakukan. Selanjutnya, apabila nilai yang diberikan itu kurang dari yang kita maui, biasanya kita merasa enggan melaksanakan kerja tadi. kualitas kerja kita turunkan. Lambat-laun kita hentikan kontrak kerja tersebut karena dianggap tidak lagi menguntungkan. Lahirlah berbagai bentuk kegiatan perdagangan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Bagaimana jika motivator kita bukan benda, manusia, atau jabatan? Maksud saya, bagaimana jika kali ini kita berdagang dengan tuhan. Dialah yang menguasai segala aspek kehidupan kita. Bagi orang yang beriman, tuhan juga tempat meminta segala pengharapan. Apakah kita juga akan dirugikan oleh-nya? Padahal dalam al Qur’an, Allah swt menegaskan sifatNya yang Mahaadil. Tidak akan ada orang yang rugi berdagang dengan allah. Jika Allah menjanjikan keuntungan 1000 kebaikan, maka orang yang memenuhi syaratNya akan menerima keuntungan tersebut utuh. Tidak ada pajak, komisi, atau uang terima kasih yang harus kita haturkan padaNya. Anda yakin tentang hal tersebut, bukan?

Berbekal keyakinan tesebut, mengapa kita tidak manfaatkan peluang emas ramadhan 1431 H untuk mendulang pahala sebanyak mungkin? Ingatlah, bahwa kita harus selalu berpacu dengan waktu di dunia ini. Waktu untuk berbuat kebajikan ada batasnya. Wujudnya berupa kematian. Ketika kita sampai di batas tersebut, maka kita tidak bisa menundanya walau sesaat. Senyampang kekuatan dan kesempatan itu ada di tangan, mari lakukan kebajikan. Metode ini terbukti ampuh untuk meningkatkan nilai diri kita di hadapan Allah swt. mengapa? Karena Allah swt telah menentukan aturan mainnya: bukan harta, keturunan, atau kedudukan yang membuat manusia mulia di sisi Allah. Kemuliaan manusia diukur dari besarnya kemanfaatan yang dia berikan bagi sesama.

Etiket Hidup di Kompleks Perumahan

Genap setahun saya tinggal di sebuah kawasan perumahan baru. Dulu ini bekas pabrik budidaya dan pengolahan jamur yang terbesar di klaten. Setelah bangkrut, lahan pabrik ini dibeli oleh pengembang. Menurut rencana, di sana akan dibangun 500 unit rumah dengan berbagai tipe. Saat ini, pengembang tengah membangun ruki (rumah kios) untuk melengkapi deretan ruko yang sudah ada.

Rumahku surgaku.

Saya merasa sangat bersemangat ketika pindah ke sini. Penyebabnya ada dua. Pertama, karena kami akan tinggal di rumah sendiri. Setelah 4 tahun pindah-pindah kontrakan, akhirnya ALLAH memberi cukup rezeki untuk memiliki rumah sendiri. Walaupun hanya rumah sederhana, tetapi anugerah ini sangat membahagiakan saya sekeluarga. Anda akan bisa merasakan euphoria tersebut jika anda mengusahakan sendiri segala persyaratan biaya dan administrasi rumah – tanpa bantuan keuangan dari orang tua. Bukan berniat sombong jika kami tidak meminta bantuan finansial pada orang tua. Langkah tersebut kami tempuh karena kami yakin bahwa dengan pertolongan ALLAH, usaha kami mendapatkan rumah impian akan terlaksana. Bertahun-tahun istri saya menyisihkan sebagian upah kerja yang saya terima. Ketika menerima royalti buku-buku yang saya tulis, kami berusaha menyimpannya dengan baik. Sedikit demi sedikit, akhirnya tabungan kami terkumpul sehingga bisa digunakan untuk memenuhi segala persyaratan KPR. Alhamdulillah. Memang benar, setiap rumah memiliki sejarahnya sendiri.

Kedua, karena kami akan merumuskan kontrak sosial baru bersama para tetangga. Saya dan para tetangga di sini adalah generasi pertama penghuni perumahan itu. Walaupun berasal dari beragam latar belakang, kami punya niat yang sama. Kami ingin membangun lingkungan hunian yang nyaman, sehat, dan kondusif bagi pendidikan anak-anak kami. Untuk itu diperlukan aturan hidup yang akan dipatuhi bersama. Adanya peluang mengutarakan ide-ide bagi keharmonisan lingkungan membuat saya begitu antusias. Tampaknya, para tetangga pun merasakan hal yang sama.

Pembahasan kontrak sosial melingkupi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga. Hal-hal yang boleh kita lakukan biasa disebut hak. Sementara hal-hal yang tidak boleh dilakukan dapat disebut kewajiban. Antara hak dan kewajiban dalam pemahaman saya selalu berjalan seiring. Ibarat dua sisi mata uang, hak dan kewajiban tidak bisa dipisahkan. Sewaktu kita menjalankan kewajiban, pada saat yang sama kita tengah memberikan hak orang lain. Demikian pula sebaliknya.

Banyak ide disampaikan para tetangga dalam merumuskan kontrak sosial tadi. Sebagian ide sudah disepakati bersama menjadi etiket hidup di perumahan. Sementara ide yang lain menjadi wacana yang hangat kami bahas. Saya sendiri mencoba mencari tahu tentang etiket hidup bertetangga menurut Rasulullah saw. Dari sekian banyak hadits yang membahas masalah ini, ada satu hadits yang menurutku perlu dipahami benar oleh orang yang tinggal di kawasan perumahan. Hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani sebagai berikut.

‘Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu kunjungi dan bila wafat kamu menghantar jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang kamu pinjami dan bila dia mengalami kemiskinan (kesukaran) kamu tutup-tutupi (rahasiakan). Bila dia memperoleh kebaikan kamu mengucapkan selamat kepadanya dan bila dia mengalami musibah kamu datangi untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya.’ (HR. Ath-Thabrani)

wah, lingkungan perumahan pasti menjadi harmonis jika warganya bisa menerapkan etiket yang tersurat dalam hadits tersebut. Ternyata kunci menciptakan interaksi sosial yang harmonis terletak pada perilaku setiap pihak yang berhubungan. Hal ini sudah disampaikan Rasulullah saw dalam hadits berikut.

‘Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu, tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik.’ (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

Namun, etiket bermuamalah tentu tidak sebatas itu. Menurut anda, etiket apa lagi yang perlu diperhatikan oleh warga sebuah perumahan? Masukan yang anda berikan sangat berharga bagi kami yang tengah merumuskan kontrak sosial di lingkungan baru ini. Terima kasih.

Wanita di Tengah Pusaran Kekuasaan

Betapa besar pengaruh wanita terhadap jalannya pemerintahan negara. Karena wanita, percaturan politik suatu negara dapat berubah arah. Perang bisa mereda karena wanita. Namun, ada juga peperangan yang disulut oleh wanita.

Di balik kelentikan tangan dan kerlingan matanya, wanita menyimpan pesona yang merontokkan jiwa lelaki. Melalui kisah Rara Mendut, YB. Mangunwijaya menyodorkan sejumlah bukti untuk menguatkan premis tersebut.

Retna Jumilah dengan Panembahan Senapati

Retna Jumilah itu anak sulung adipati Madiun. Dia kakak Raden Calonthang. Peran putri sulung ini tercatat dalam sejarah ketika Madiun kocar-kacir diserbu Mataram. Panembahan senapati menggempur kadipaten madiun yang dianggap tidak mau tunduk terhadap kekuasaan mataram. Adipati madiun dan Raden Calonthang melarikan diri. Sewaktu panembahan senapati memasuki puri kadipaten, retna jumilah yang menyambutnya dengan tegar. Di bahunya terdapat endong penuh anak panah. Tangankanan Retno Jumilah memegang keris pusaka sedangkan pistol dipegang tangan kirinya. Gagah dia menghadang Panembahan Senapati.<

Mendapati sikap perlawanan tersebut, Panembahan Senapati urung murka. Dia justru jatuh cinta pada Retna Jumilah. Putri kadipaten madiun itupun dikawininya. Sebagai tindak lanjut dari perkawinan itu, Raden Calonthang diangkat menjadi adipati Madiun yang baru.

Panembahan Senapati harus membayar mahal untuk perubahan kebijakan itu. Adipati Pragola, adik sang permaisuri senapati, merasa sakit hati. Ada dua alasan yang dimiliki pemimpin kadipaten Pati ini. Pertama, tidak rela kakak perempuannya akan tersaingi oleh Retna Jumilah. Kedua, pengangkatan Raden Calonthang sebagai adipati Madiun seolah mengabaikan segala pengorbanan para pendukung Mataram ketika berjuang menundukkan madiun. Kebijakan panembahan senapati membuat madiun menjadi api dalam sekam bagi mataram. Wujud sakit hati itu berupa 3 kali pemberontakan adipati pragola terhadap Panembahan Senapati. Namun ketiga pemberontakan tersebut berhasil diredam.

Rara Mendut dengan Adipati Pragola II

Adipati Pragola II meneruskan perjuangan ayahnya. Ketika kekuasaan mataram dipegang oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menggantikan tahta Panembahan Senapati, Adipati Pragola II unjuk sikap. Dia tidak serta merta mengakui kedaulatan Mataram atas Pati. Dalam suatu pertempuran yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung, Adipati Pragola II gugur. Dia tewas oleh tombak pusaka mataram yang bernama kiai baru.

Di tengah perjuangannya, Adipati Pragola sempat menyunting Rara Mendut. Namun putri duyung pantai utara itu tidak disentuhnya selama sama sekali. Dia ingin menuntaskan perjuangan menegakkan kedaulatan Pati terlebih dahulu. Dalam masa penantian itu, Mendut tinggal di puri Pati untuk bersiap diri menyambut kemenangan sang adipati. Sayangnya, harapan itu tidak pernah terwujud. Gugurnya adipati Pragola II menandai runtuhnya kadipaten Pati.

Atas perintah raja mataram, Tumenggung Wiraguna menggempur benteng-benteng Pati. Seluruh peti harta dan pusaka puri pati diangkut ke Mataram. Kota Pati dibakar habis. Semua istri, selir, dan putra-putri adipati pragola dibunuh. sementara para putri bangsawan pati diboyong ke mataram sebagai harta rampasan perang, termasuk Rara Mendut.

Rara Mendut dengan Tumenggung Wiraguna

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Ungkapan tersebut bisa dipakai untuk menggambarkan ketertarikan Tumenggung Wiraguna kepada Rara Mendut. Ketika putri boyongan sedang dikumpulkan oleh balatentara mataram, Rara Mendut berusaha lolos dari puri. Dia sempat membuat repot orang yang bertugas menangkap para putri hidup-hidup. Tumenggung Wiraguna bertemu rara mendut dalam situasi itu.

Kegesitan Rara Mendut seolah menjadi magnit bagi kerasnya jiwa besi wiraguna. Tidak heran jika wiraguna memberanikan diri meminta rara mendut sebagai hadiah kepada raja mataram. Dari sini muncul dugaan keliru tentang motivasi tumenggung wiraguna. Sebagian besar orang menganggap wiraguna ingin mengawini rara mendut karena terpesona dengan tubuh sintalnya. Namun rama mangun melalui novel ini mematahkan anggapan tersebut. Tumenggung wiraguna ingin mengawini mendut karena dia terinspirasi sebuah tembang dandanggula. Isi tembang tersebut ialah suatu ramalan tentang masa kejayaan mataram. Menurut ramalan tadi, mataram bakal jaya jika mataram berhasil menyatukan wilayah gunung dengan wilayah pantai.

Tumenggung wiraguna merasa inilah saat yang tepat. Rara mendut bukan cuma tubuh jelita. Dia merupakan pengejawantahan jiwa pantai utara, kaum bahari. Sementara wiraguna menganggap dirinya sebagai unsur gunung yang menyimbolkan mataram. Oleh karena itu, rara mendut seharusnya tidak hanya tunduk, tetapi mencintai mataram. Pemikiran tersebut membuat wiraguna tidak memperkosa mendut walaupun bisa. Dia ingin mendut menyerahkan diri secara sukarela. Apabila gunung dan pantai bisa bersatu, maka mataram berada di puncak kejayaan.<

Sayang, harapan tersebut tidak terwujud. Wiraguna marah dan mewajibkan mendut membayar pajak setiap hari sebanyak tiga real. mendut berusaha menebus dirinya dengan berjualan puntung rokok, bukan rokok utuh. Puntung yang semakin pendek, semakin basah oleh air liur perempuan itu harganya semakin tebal. Tentu anda sudah tahu ujung cerita kisah ini, bukan?

Sejarah memang mencatat adanya wanita yang menjadi penentu arah suatu kekuasaan. Hal ini disebabkan karena wanita memiliki pesona yang kuat terhadap pemegang kendali kekuasaan yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki. Bagi saya, membaca novel ini meneguhkan pemikiran yang pernah diungkapkan oleh Rasulullah SAW. Wanita itu tiang masyarakat. Jika harkat dan martabat wanita dalam suatu masyarakat itu rusak, maka rusak pulalah masyarakat tersebut.

Anda Tetap Perawan, Jika …

Berburu kisah tentang para  buruh migran Indonesia.  Itulah yang seminggu ini aku lakukan. Dalam catatanku, ada 32  kompasianer yang kini masih berkarya di negeri orang. Aku  berusaha singgah ke lapak teman-teman tadi. Namun saat ini keinginan  tersebut belum terlaksana. Beberapa yang sudah aku sambangi antara lain  lapak kang Mukti Ali (Dubai), mas Delta Bvlgari Bvlgari (Jeddah), mbak  Moona Muhammad (Saudi Arabia), pak Andika (Malaysia),  mbak Uly Giznawati (Hong Kong),  serta mbak Anaz Kia (Malaysia).
Dari tulisan teman-teman tadi,  ada satu hal yang membuatku miris. Ini tentang pengalaman buruk sebagian  TKW yang dipaksa melayani nafsu bejat majikannya. Pemerkosaan menurutku  sangat menyakitkan. Bagaimana tidak? Peristiwa yang mengerikan itu  berlangsung dalam lingkungan rumah yang tertutup. Kadang kala akses  komunikasi ke luar rumah pun dibatasi. Bagaimana bisa mendapatkan  pertolongan?

Pelakunya pun orang yang  memiliki posisi lebih kuat daripada TKW. Tentu tidak mudah bagi korban  untuk menyelamatkan diri. Korban perkosaan juga cenderung menutup diri.  Mereka enggan menyampaikannya kepada orang lain. Apalagi mengabarkannya  kepada keluarga di tanah air.

Tekanan batin yang berat itu  lambat laun akan membinasakan sang korban. Seakan dunia telah runtuh.  Seolah-olah dirinya telah menjadi wanita paling nista. Tentu trauma  berkepanjangan semacam ini akan menurunkan kinerja para TKW yang menjadi  korban. Padahal mereka masih harus menyelesaikan masa kontrak agar  segala yang menjadi haknya dibayar lunas.

Tragedi pemerkosaan  mengingatkanku pada konsep keperawanan yang pernah dilontarkan Rama  mangunwijaya lewat novel Rara Mendut. Ketika mendut diboyong ke istana,  dia menyampaikan nasihat ibunya kepada genduk duku, si emban. “Perawan  dan tidak perawan terletak pada tekad batin, pada galih di dalammu.  Banyak gadis di dalam peperangan diperkosa, kata ibuku, nduk, tetapi  bila itu melawan kemauan, mereka masih perawan.”

Mendut lalu mengemukakan dua  contoh: dewi sinta dan ibu berputra tujuh. Seandainya dewi sinta pernah  secara paksa ditiduri rahwana, dewi sinta yang pernah melawan perbuatan  itu tetaplah perawan. Sementara seorang ibu yang suci dalam pengabdian  selaku istri dan ibu, dia tetap perawan sejati walaupun sudah melahirkan  tujuh anak.

Begitulah konsep keperawanan  yang diyakini rara mendut. Bagiku, para TKW korban pemerkosaan tetaplah  masih perawan jika dia sudah berusaha melawan tindak durjana itu.

Awas, Racun Teknologi Mengintai Anda!

Nokia C3 terjual 600 buah dalam waktu empat jam di bali. Begitu sekilas judul yang saya baca di kompas sabtu lalu (5 Juni 2010). Sebenarnya harga Nokia C3 dibandrol Rp1.159.999 di toko ritel nokia yang resmi mulai 6 juni 2010. namun pada hari pertama dipasarkan, Nokia langsung memberi diskon Rp260.000,00. Penawaran khusus ini berlaku satu hari saja mulai pukul 10.00 hingga 22.00. penjualan khusus ini dilakukan di 9 kota, yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Yogyakarta, Palembang, Makassar, Banjarmasin, Denpasar, dan Semarang.

Yang lebih ‘membanggakan’ lagi, indonesia terpilih sebagai negara pertama perilisan Nokia C3. pemilihan tersebut bukan tanpa alasan. Masyarakat indonesia tercatat memiliki aktivitas tinggi dalam menggunakan jejaring sosial Facebook. Kita tentu menyambut baik kehadiran gadget yang memenuhi kebutuhan bersosialitanya. Nah, sampel hasil penjualan Nokia C3 tersebut membenarkan asumsi pabrikan alat telekomunikasi dari Finlandia tadi.

Sebenarnya, antusiasme warga indonesia terhadap teknologi terlihat semakin jelas akhir-akhir ini. Tidak hanya pada kemajuan teknologi komunikasi. Coba saja anda perhatikan acara pameran teknologi yang lain. Misalnya, pada pameran komputer yang semakin rutin digelar. Perhatikan belanjaan para pengunjungnya. Notebook keluaran terbaru jadi bawaan. Kamera digital dengan MP terbesar laris diserbu. I-pad yang lagi gencar ditawarkan pun sudah banyak yang menenteng.

Mengapa kita bersikap begitu antusias terhadap perkembangan teknologi itu? Apakah kita memang benar-benar memerlukannya? Jangan-jangan kita hanya menjadi korban iklan demi mengejar gengsi dan prestise.

Saya yakin akan lahir analisis yang cukup panjang untuk bisa memahami gaya hidup ini. Namun, saya tertarik dengan lontaran Pak Didit Chris Prawirokusumo (mistergrid). Dalam workshop desainer grafika yang diadakan di tempat kerjaku (8-10 Juni 2010), praktisi dan pemerhati desain grafis itu melontarkan adanya gejala keracunan teknologi. Menurut mistergrid –ini nick name Pak didit- gejala keracunan teknologi sebagai berikut.

  1. menyukai hal-hal instan.
  2. takut dan sekaligus memuja teknologi.
  3. menyukai teknologi sebagai mainan.
  4. menganggap marah dan kekerasan sebagai hal yang wajar dan normal.
  5. tidak dapat membedakan hal yang asli dan palsu.
  6. kehidupan sosial tidak ada.
  7. minimnya pesan edukatif dan religius.
  8. menghilangnya peradaban kultural.
  9. meredupnya esensi mata hati dan perasaan.
  10. semaraknya friksi karena derivasi referensi kompetensi dengan persepsi.
  11. sering terjadi kekeliruan dalam menggunakan piranti kerja karena kurang memahami cara kerjanya.
  12. hilangnya kepercayaan diri si pengguna.

Tanda-tanda keracunan ini perlu menjadi perhatian kita. Tujuannya supaya kita tidak diperbudak oleh teknologi. Ingatlah, teknologi itu budak yang baik, tetapi dia itu majikan yang sangat buruk. Itu yang mistergrid tandaskan padaku.