Tag Archive | pramoedya ananta toer

Selicik Arok, Selicin Dedes

Novel Arok Dedes

Buku Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer memang pernah dilarang oleh rezim pemerintah Orde Baru. Pada waktu itu berlaku logika bumi hangus. Artinya, jika seseorang dianggap bersalah, maka segala yang berhubungan dengan orang tersebut harus disingkirkan. Karena Pram dituduh sebagai antek PKI lewat organisasi Lekra, maka segala hasil karyanya harus dimusnahkan. Pram sendiri diasingkan di Pulau Buru selama sekian tahun. Selama dalam masa pembuangan, Pramudya tetap aktif menulis. Salah satu karya yang dihasilkan di tempat pembuangan adalah Arok Dedes ini.

Aku sengaja membaca buku tersebut untuk mengetahui apa yang membuat penguasa Orde Baru begitu takut dengan pemikiran Pram. Dalam pemahamanku tidak ada hal yang perlu ditakuti karena novel tersebut bercerita tentang Dedes dan upaya Arok menjungkirkan kekuasaan Tunggul Ametung. Namun, ada beberapa hal yang kemudian menjadi catatan di benakku.

  1. Penguasa Kediri berupaya menyakralkan raja Erlangga guna memperkokoh kekuasaan. Ini dilakukan melalui perintah pada rakyat untuk memuja Dewa Wisnu. Pada saat yang sama, rakyat juga harus meninggalkan pemujaannya terhadap Dewa Syiwa dan Dewi Durga. Karena kedua dewa terakhir itu merupakan pujaan kasta brahmana, lahirlah perlawanan mereka terhadap kasta ksatria. Apalagi aturan triwangsa dilanggar oleh penguasa. Seorang berstatus sudra bisa naik ke kasta ksatria jika dia dianggap berjasa oleh penguasa. Hal ini dialami sendiri oleh Tunggul Ametung (ini nama jabatan yang disandang oleh orang yang memimpin suatu daerah, bukan nama orang). Dia semula hanyalah sudra yang gemar merampok harta orang lain. Berkat keberaniannya, dia dipercaya penguasa kediri untuk menjadi tunggul ametung.
  2. Kasta Brahmana tidak suka wayang. Selama ini pemahaman awam tentang wayang selalu dikaitkan dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Wayang dengan para dewa di kahyangan disebut secara serampangan sebagai kesenian ‘resmi’ agama Hindu. Oleh wali sanga, wayang tersebut disesuaikan dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam sehingga berkembang seperti bentuknya yang sekarang. Nah, jika wayang identik dengan Hindu, mengapa kasta brahmana menolak pertunjukan wayang? Dari dialog antara Dedes dengan embannya, aku mengetahui alasannya. Rupanya kaum brahmana menganggap titah manusia ini tidak sepatutnya mempersonifikasikan para dewa. Dewa itu suci, dan terlalu tinggi untuk disejajarkan dengan manusia. Apalagi dalam wayang dewa ditempeli pula dengan sifat-sifat manusiawi seperti lupa, kecewa, marah, dan terbakar nafsu birahi. Bagi kaum brahmana, semua ini dinilai sebagai suatu pelecehan.
  3. Budaya suap, korupsi, dan nepotisme sudah lazim dilakukan di waktu itu. Raja di Kediri meminta upeti dari para bawahannya –termasuk tunggul ametung- sebagai tanda kesetiaan mereka. Nah, agar dapat mempersembahkan upeti yang besar, Tunggul Ametung membuat sejumlah kebijakan yang merugikan rakyat. Mereka dipaksa membayar pajak yang mencekik leher. Kaum paria –orang tanpa kasta, misalnya gelandangan atau narapidana- dipekerjakan di pertambangan emas milik Tunggul Ametung dengan tidak manusiawi. Kematian mengancam jiwa mereka setiap saat akibat penyakit, kelaparan, atau kebengisan para penjaga.
  4. Tidak ada yang abadi dalam politik. Koalisi antara Tunggul Ametung-Belakangka (penasihat pemerintahan, utusan dari Kediri)-para prajurit ternyata rapuh. Upeti yang gagal sampai ke Kediri membuat Tunggul Ametung dipertanyakan kesetiaannya oleh Kediri. Bayang-bayang serbuan tentara kediri membuat sebagian panglima desertir dan bergabung dengan Kediri. Kondisi lemah itu mengobarkan keberanian kelompok mpu sendok untuk merebut kekuasaan. Di bawah pimpinan Kebo Ijo, panglima dan prajurit yang bergabung dalam kelompok Mpu Sendok merampok rakyat dan merayakan kemenangannya atas Tunggul Ametung. Namun, kemenangan itu hanya berlangsung sekejap. Pasukan Arok segera menggulung kelompok Mpu Sindok.
  5. Arok adalah jago para brahmana dalam menghancurkan Tunggul Ametung yang mewakili kekuasaan Kediri di Tumapel. Walaupun asal usulnya tidak jelas, Arok telah membuktikan dirinya sebagai murid yang cerdas. Dia berguru ke sejumlah guru terkemuka. Sejak remaja dia dan gerombolannya sering merampas upeti yang akan dikirim tumapel ke kediri. Berkat reputasi tadi, para brahmana mempercayainya mengemban tugas suci tadi.
  6. Dedes bukanlah wanita lemah walaupun gagal melawan saat diculik Tunggul Ametung. Sebagai seorang keturunan brahmana, Dedes mendapat didikan yang baik. Yang ditanamkan bapaknya termasuk bibit kebencian terhadap para ksatria. Dengan mengandalkan pesona pribadinya, Dedes membalut tipu daya guna mengurangi kekuasaan Tunggul Ametung dari dalam. Konspirasi antara Arok dan Dedes berhasil menyingkirkan kekuasaan Tunggul Ametung dengan meminjam tangan Kebo Ijo. Mereka lalu menikah dan berkuasa di Tumapel.

Melihat materi cerita tersebut, sebagian pembaca lalu mengaitkannya dengan tragedi G30S di tahun 1965. sepak terjang arok mencerminkan polah tingkah panglima kostrad saat itu. Arok menjadi dalang atas skenario perebutan kekuasaan di tumapel. Selanjutnya, dia mengadu domba pihak-pihak yang bertarung memperebutkan kekuasaan. Setelah hancur, naiklah arok sebagai pemimpin tumapel dengan mendapat legitimasi dari kaum brahmana. Jika kita harus belajar dari sejarah, apakah yang perlu dilakukan agar kita tidak mengulang sejarah pahit di masa lampau?

Gadis Pantai

Gadis Pantai

Ini salah satu novel Pramoedya Ananta Toer yang terselamatkan dari pemusnahan oleh rezim Orde Baru. Sebenarnya terdapat tiga novel lain yang menyertai novel Gadis Pantai. Sayangnya trilogi ini terpencar, dan saat ini baru bisa diselamatkan secara utuh yang pertama. Karena alasan tersebut dan karena Pramoedya adalah penulis produktif di masa awal kemerdekaan Indonesia, aku mencoba membacanya. Ternyata ceritanya mengharukan.

Gadis pantai adalah sebutan yang Pram pilih untuk neneknya. Memang neneknya berasal dari pesisir utara Jawa dan pernah dijadikan ‘istri percobaan’ oleh seorang kaya. Dari ‘perkawinan uji coba’ ini lahir seorang bayi perempuan yang kelak melahirkan Pram.

Ada kekaguman yang diungkapkan Pram terhadap Gadis Pantai. Walaupun tidak bisa membaca, menulis, dan mengaji, Gadis Pantai layak disebut wanita hebat. Di mana letak kehebatannya? Bagiku, kehebatan Gadis Pantai pada keberaniannya untuk menentang kehendak suaminya demi sang buah hati. Supaya pujian ini tidak hampa, kita perlu melihat konteks situasi dan kondisi saat itu.

Di awal abad ke-20, tanah Jawa masih sangat lekat dengan budaya feodal. Budaya ini terbentuk dari pola hubungan antara para bangsawan Jawa dengan pemerintah kolonial Belanda. Golongan darah biru menempati kelas sosial atas dalam struktur masyarakat Jawa. Karena sifatnya yang ekslusif, hanya bangsawan dan saudagar saja yang berhak memakai gaya hidup feodal. Salah satunya kebiasaan memiliki ‘istri percobaan’ sebelum sang bangsawan menentukan ‘istri resmi’. Wajar jika saat itu, seorang bangsawan dianggap masih bujangan karena belum memiliki istri resmi, walaupun sudah memiliki sejumlah istri percobaan dan anak-anak yang lahir dari perkawinan uji cobanya.

Adanya budaya tersebut mendorong bangsawan laki-laki rutin berburu calon istri percobaan. Jika sedang melintasi suatu desa lalu melihat ada perawan yang menggugah selera, dia akan menikahinya. Sejumlah harta benda diberikan sebagai tukon (jw: tuku artinya beli) pada bapak dan ibu si perawan. Selanjutnya anak gadisnya akan tinggal di rumah gedung sang bangsawan. Namun masa tinggal itu biasanya tidaklah lama. Begitu lahir anak dari perkawinan uji coba tadi, sang bangsawan segera menceraikannya, lalu berburu perawan baru.

Gadis Pantai pernah menjadi istri percobaan seorang saudagar kaya. Dia dicabut dari perkampungan nelayan yang miskin melalui perkawinan tadi. dia menangis sedih ketika bapak dan emaknya meninggalkannya di rumah ndoro, suaminya. Itu sebuah rumah gedung bertembok tinggi dengan banyak pelayan dan beberapa anak kecil hasil perkawinan uji coba sebelumnya. Mulai saat itu gadis pantai harus beradaptasi dengan budaya rumah gedongan. Dia harus belajar membatik dan sejumlah keterampilan khas perempuan gedongan lainnya. Dia harus belajar memerintah para pelayan – sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama hidup bersama emak dan bapak. Dia juga harus bersikap waspada dan tidak percaya kepada siapapun di rumah itu karena kedudukannya sebagai istri percobaan setiap saat dapat dicopot. Ya, walaupun bersifat sementara, status sebagaimana yang dimiliki gadis pantai tetap diperebutkan oleh banyak orang. Sementara itu dia harus memperlakukan ndoro sebagai majikan, bukan sebagai suami. Perlakuan semacam itu tidak pernah dia pelajari dari sikap emak terhadap bapak. Sungguh suatu adaptasi yang revolusioner bagi seorang Gadis Pantai.

Puncak dari segala gejolak batin itu berupa sikap ndoro mengembalikannya kepada orang tuanya. Itu terjadi beberapa saat setelah anaknya lahir. Dengan diberi sejumlah harta, ndoro memintanya pergi dari rumah gedong tadi. tentu saja tanpa membawa serta anaknya. Perlakuan tersebut mendorong Gadis Pantai untuk berontak. Dia melawan perintah itu. Gadis Pantai ingin pergi dari rumah gedong tadi bersama bayinya. Dia tidak rela anaknya akan bernasib sama dengan anak-anak lain di rumah itu.

Mendapat perlawanan semacam itu, ndoro naik pitam. Hilang sudah kasih sayangnya sebagai suami. Apalagi dia merasa sudah membayar semua yang pantas diterima oleh Gadis Pantai dan orang tuanya. Akhirnya, dengan menggunakan paksaan, Gadis Pantai digelandang ke luar pagar. Dia tinggalkan semua yang pernah dimilikinya. Harta benda yang diberikan sebagai upah dari ndoro tidak menyenangkan hatinya. Hatinya hancur lebur, menyadari anaknya – harta yang paling berharga – harus ditinggal di rumah itu.

Akan tetapi, Gadis Pantai masih setia hadir dalam kehidupan anaknya setelah berkeluarga. Pram, cucunya, mengenal Gadis Pantai hingga masa remajanya. Dia tidak pernah tahu nama asli Gadis Pantai. Bahkan dia tidak tahu mengapa gadis pantai menyebut ibunya – si anak hasil pernikahan uji cobanya dengan ndoro – dan Pram bersaudara dengan panggilan ndoro. Yang dia tahu, Gadis Pantai begitu mengasihinya dalam kesahajaan.