Tag Archive | ramadhan

Gus Mustofa Memanggil Sahabatku

Meresapi puisi-puisi Gus Mus (Mustofa Bisri) mengajak saya merenungkan kembali langkah hidup. Adakah semua yang saya jalani ini menjadi pemberat timbangan amal? Ataukah hanya menambah panjang kesia-siaan yang saya lakukan atas masa hidup yang semakin berkurang. Lantas, apakah yang mesti dilakukan untuk kembali di jalan Allah? Itulah pertanyaan besar yang tengah bergelut di benak saya.

Saya teringat pada diskusi kecil yang sering dilakukan selama di kos-kosan dulu. Kebetulan Allah mempertemukan saya dengan ‘orang-orang hebat’ yang mencoba memaknai hidup dengan kearifan. Diskusi yang multiperspektif karena kami berasal dari berbagai latar belakang. Dari mereka saya belajar menemukan hikmah di balik pengalaman hidup Dari mereka saya belajar yakin akan kemahasegalaan Allah. Dari mereka saya belajar berani menjalani hidup. Nuansa puisi Gus Mus menghadirkan kembali memori saya tentang teman-teman itu.

Matur nuwun sanget, Gus Mus. Panjenengan sampun kersa nimbali sedherek-sedherek kula. Mila kula saged atur salam kangge Kang Fahmi (Kebumen), Mas Rahmad (Malang), Kang Son (Boyolali), Kang Pii (Klaten), Wan Salim (Jakarta), Budi (Solo), Hendi (Bondowoso), Imam (Temanggung), Zayin (Yogya), Aang (Jakarta), Seno (Bandung), Mahfud (Klaten). Assalamu’alaikum. Piye kabare?

Berikut salah satu puisi beliau yang membuat saya terkenang pada para sahabat saya.

Nasihat Ramadhan

Buat Mustofa Bisri

Mustofa, jujurlah pada dirimu sendiri.

Mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan?

Apakah hanya menirukan nabi

atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu?

Mustofa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.

Darimu hanya untukNya dan ia sendiri tak ada yang tahu

apa yang akan dianugerahkan kepadamu.

Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa, Ramadan adalah bulan-Nya

yang Ia serahkan kepadamu

dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.

Bersucilah untuk-Nya.

Bersalatlah untuk-Nya.

Berpuasalah untuk-Nya.

Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.

Sucikan kelaminmu, berpuasalah.

Sucikan tanganmu, berpuasalah.

Sucikan mulutmu, berpuasalah.

Sucikan hidungmu, berpuasalah.

Sucikan wajahmu, berpuasalah.

Sucikan matamu, berpuasalah.

Sucikan telingamu, berpuasalah.

Sucikan rambutmu, berpuasalah.

Sucikan kepalamu, berpuasalah.

Sucikan kakimu, berpuasalah.

Sucikan tubuhmu, berpuasalah.
Sucikan hatimu,

Sucikan fikiranmu, berpuasalah..

Sucikan dirimu.

Mustofa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering

yang mengingatkan kedhaifan dan melembutkan hati.

Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering

ternyata hanya perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.

Barangkali lebih sabar sedkit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin

lebih tahan sedikit berpuasa.

Tapi hanya kau yang tahu hasrat dikekang untuk apa dan untuk siapa

Puasakan kelaminmu untuk memuasai ridho.

Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia.

Puasakan mulutmu untuk merasai firman.

Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi.

Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan.

Puasakan matamu untuk menatap cahaya.

Puasakan telingamu untuk menangkap merdu.

Puasakan rambutmu untuk menyerap belai.

Puasakan kepalamu untuk menekan sujud.

Puasakan kakimu untuk menapak sirat.

Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat.

Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat.

Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran.

Puasakan dirimu untuk menghayati hidup.

Tidak, puasakan hasratmu hanya untuk hadiratNya.

Mustofa, ramadhan bulan suci katamu.

Kau menirukan ucapan nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu?

Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu?

Mustofa, inilah bulan baik saat baik untuk kerja bakti membersihkan hati.

Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu

yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.

Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhan-ramadhan yang lalu?

Rembang, Sya’ban 1413 H

Nikmatnya Berbuka, Nikmatnya Pengendalian Diri

Bagi orang berpuasa, berbuka merupakan kenikmatan yang luar biasa. Setelah sehari menahan diri dari pemenuhan nafsu ragawi, berbuka terasa begitu melegakan. Tidak heran jika sebagian kita merasa perlu menyiapkan menu istimewa untuk berbuka. Ada yang pergi ke restoran terkenal. Ada yang memasak sendiri hidangan istimewa bagi keluarga. Namun ada juga yang memilih hidangan sederhana asal bergizi.

Terlepas dari apapun menu berbuka yang anda pilih, sebenarnya kita disodori satu hikmah sederhana. Jika kita mampu mengendalikan diri, kita akan merasakan nikmat yang sungguh besar. Tengoklah tindakan kita menahan keinginan makan dan minum di saat berpuasa. Ternyata kita bisa merasakan kebahagiaan yang indah saat berbuka. Tidak heran jika dalam kondisi itu, segelas air putih pun terasa begitu melegakan. Saking leganya, sampai-sampai kita merasa tidak perlu menghabiskan semua hidangan yang sudah tersaji di meja.

Bagi saya, nikmatnya berbuka puasa menunjukkan pada kita kunci menciptakan kebahagiaan hidup. Agar hidup selalu terasa indah, kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu. Dengan cara ini, setiap pemberian Allah swt sekecil apapun akan bernilai luar biasa bagi kita. Dari sini kita termotivasi untuk selalu bersyukur kepadaNya. Anda pun pasti tahu efek syukur tadi. La insyakartum, la azii danakum. Wala inkafartum, inna ‘adzabi la syadid. Allah swt akan menambahkan anugerah yang lebih besar bagi kita. Bukankah ini yang selalu kita harapkan?

Berpuasa Agar Tidak Menjadi Zombie

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Di bulan ramadhan, hadits tersebut tentu sering Anda dengar. Melalui televisi, surat kabar, spanduk, atau mimbar agama, kita diingatkan tentang keutamaan puasa di bulan ramadhan. Seperti yang ditegaskan dalam hadits di atas.

Dalam pemahaman saya, terdapat makna yang begitu besar di balik sabda Rasulullah saw itu. Rupanya puasa dimaksudkan untuk melembutkan hati kita. Segumpal darah dalam jiwa manusia itu memiliki peranan penting dalam kehidupan. Nabi Muhammad menegaskan bahwa hatilah yang menentukan baik-buruk perilaku manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh tindak tanduk, tutur kata, dan sikap kita. Sebaliknya, jika hati ini buruk, maka setiap ucapan dan perbuatan kita hanya membawa kerugian bagi diri dan orang lain.

Nah, berpuasa di bulan ramadhan akan menyeting ulang program hati kita. Selama ini, banyak hati manusia yang sudah beku, bahkan mati. Kondisi tersebut akibat kebiasaan manusia memperturutkan hawa nafsu. Pelan-pelan kita mengabaikan suara hati saat berlomba memperebutkan nikmat duniawi. Demi kekuasaan, kita tega membungkam hati yang setia mengingatkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, kita rela mengubur hati dengan membenarkan sikap egois yang kita lakukan. Karena hati sering dilecehkan, hati mengeras dan tidak bisa menerima kebenaran yang datang dari ALLAH swt. Jika kondisi tersebut tidak dihiraukan, akhirnya hati menjadi mati. Manusia lalu bertindak tanpa pertimbangan kata hati.

Lantas, apa makna kenikmatan orang berpuasa yang dimaksud oleh hadits di atas? Ternyata terdapat nikmat yang besar di balik kemampuan mengendalikan diri. Menahan makan, minum, dan pelampiasan nafsu lainnya akan membawa kita pada kenikmatan. Ya, puasa memang tidak mematikan keberadaan nafsu dalam diri kita. Nafsu-nafsu itu memang tidak bisa dibunuh. karena saya yakin ada manfaat di balik keberadaannya. Selama berpuasa, kita dituntut untuk berlatih mengendalikannya. Jika terkendali, kita akan dapat merasakan manfaat setiap nafsu. Hal tersebut telah kita rasakan setiap berbuka puasa.

Berpuasa sehari tentu mengajarkan kita rasa haus dan lapar. Dua rasa itu menjadi sahabat setia para dhuafa. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Dari sini akan muncul sikap empati terhadap kondisi mereka. Sikap mental positif ini akan diikuti sikap mental positif lain. Kita menjadi lebih ramah terhadap orang lain. Penghormatan yang tulus kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita. Kasih sayang kita tebarkan pada mereka yang lebih papa. Hati pun akan mendorong kita untuk berbagi bahagia walau hanya melalui seutas senyuman. Ketika perilaku kita penuh dengan kebajikan, saat itulah kita tengah memandang wajah Tuhan. Allah swt adalah dzat yang menguasai keagungan cinta. Lantaran kasih sayang yang disebarkan manusia, kita dapat merasakan betapa agung cinta yang Allah anugerahkan. Kita dapat melihat wajah tuhan di balik senyuman hangat, sapaan tulus, dan solidaritas yang ditunjukkan oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak heran jika Allah mengambil analogi bahwa bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih harum daripada bau minyak kasturi.

Wisata ruhani yang tengah kita jalani sekarang sungguh sangat menentramkan jiwa. Karena rahasia besar yang ada di balik puasa, Allah swt sendiri yang akan menilai upaya setiap muslim dalam menjalankan perintahNya.

Awas, Jebakan Ritual Ramadhan

Euforia ramadhan sudah mereda. Gegap gempita yang mengekspresikan kebahagiaan menyambut datangnya bulan penuh barokah ini tidak lagi terasa sekuat kemarin. Tidak percaya? Coba perhatikan kondisi masjid di lingkungan anda. Seberapa jauh kemajuan yang terjadi? Maksud saya, apakah kondisi shof jamaah sholat masih seperti pekan lalu? Waktu itu hampir setiap masjid dipenuhi orang yang ingin melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Sampai-sampai takmir memasang tenda di halaman masjid agar jamaah yang membludak itu tidak kehujanan. Sekarang anda bandingkan kondisinya. Ternyata sebagian masjid sudah mengalami kemajuan. Tenda-tenda sudah tidak lagi berisi jamaah. Bahkan di barisan belakang, tersedia cukup ruang bagi anak-anak usil untuk menggelar perang-perangan.

Jumlah jamaah sholat subuh pun menyusut. Tampaknya tinggal menghitung hari saja untuk melihat kembalinya kondisi masjid pada keadaan ‘normal’ -kondisi di luar bulan ramadhan-.
Menyusutnya barisan sholat juga berimbas pada berkurangnya peserta tadarus al qur’an. Di awal ramadhan, kita yang enggan membaca al Qur’an -karena ‘grothal-grathul’ mengejanya- masih bersedia menyimak pembacaannya oleh orang lain. Namun lama-lama menyimak pun terasa melelahkan. Daripada bengong, banyak yang memilih melipat sajadah lalu menonton aksi para bintang liga inggris di televisi.

Fenomena semacam ini selalu terulang setiap ramadhan. Dari hari ke hari, peserta pelatihan kamp ramadhan tereliminasi. Mengapa bisa terjadi? menurut saya, hal itu terjadi sebagai akibat terjebaknya jiwa kita pada ritual ramadhan. Kita menjalankan ibadah karena banyak orang melakukannya. Kita berpuasa ramadhan karena teman-teman berpuasa. Kita sholat tarawih berjamaah karena tetangga berbondong-bondong pergi tarawih di masjid. Kita ikut tadarus al qur’an karena malu dianggap bukan orang sholih. Besarnya faktor eksternal yang memengaruhi motivasi ibadah kita membuat setiap tindakan kita tidak melibatkan hati. Nyaris tidak ada alasan transendental yang menghubungkan jiwa kita dengan Allah swt. Rubuh-rubuh gedhang. Begitu ungkapan orang jawa untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Lantas, siapa orang yang tidak terjebak pada ritual ramadhan? Mereka ialah orang-orang yang mampu menangkap hikmah ramadhan. Mereka inilah orang yang selalu merindukan ramadhan. Kerinduan tersebut bukan tanpa alasan. Ramadhan itu bulan yang istimewa. Di penghujung ramadhan Allah swt menjanjikan kemenangan yang besar bagi umat manusia. Wujudnya berupa pembebasan seorang hamba dari api neraka. Barang siapa yang bisa memanfaatkan peluang emas ramadhan untuk mendekat kepada Allah swt, niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya dari segala dosa yang pernah dilakukan. Kondisi bersih kita bagaikan kondisi bayi yang baru lahir. Nah, para perindu ramadhan menyadari betapa besar dosa yang dia perbuat selama ini. mumpung bertemu ramadhan, mereka berusaha mendapatkan ampunan Allah swt melalui jalan takwa. Mereka berusaha mengerjakan segala yang diperintahkan Allah swt, dan menjauhi segala yang dilarangNya. Motivasi yang mereka miliki menguatkan diri untuk tekun memanfaatkan setiap hembusan nafas dengan ibadah.

Bagaimana halnya dengan diri kita? Apakah kita berharap dijauhkan dari api neraka oleh Allah swt? jika iya, kita perlu mengubah pola pikir kita tentang ramadhan. Mari pahami ramadhan sebagai peluang emas untuk mendapatkan ridho Allah swt. Ingatlah, kita tidak tahu apakah akan diberi kesempatan bertemu ramadhan mendatang. Siapa tahu ini ramadhan terakhir yang kita miliki. Oleh karena itu, syukurilah kesempatan emas ini dengan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Caranya, dengan selalu melibatkan hati dalam setiap ibadah dan muamalah yang kita lakukan. Luruskan niat setiap akan melakukan kebajikan. Niscaya setiap langkah kita menjadi langkah untuk mendekat kepada Allah swt. Waspadalah! Jangan biarkan jiwa kita terjebak pada perangkap ritual ramadhan.

Berapa Nilai Diri Anda?

Berapa nilai diri anda? Barangkali ada yang mengukurnya dengan jumlah materi yang ingin diterima. Patokannya hanya sebatas penilaian kita atas potensi dan kemampuan yang ada dalam diri kita. Dari pemikiran ini lahirlah sederet angka yang menurut kita layak diterima sebagai ganti dari kerja yang kita lakukan. Selanjutnya, apabila nilai yang diberikan itu kurang dari yang kita maui, biasanya kita merasa enggan melaksanakan kerja tadi. kualitas kerja kita turunkan. Lambat-laun kita hentikan kontrak kerja tersebut karena dianggap tidak lagi menguntungkan. Lahirlah berbagai bentuk kegiatan perdagangan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Bagaimana jika motivator kita bukan benda, manusia, atau jabatan? Maksud saya, bagaimana jika kali ini kita berdagang dengan tuhan. Dialah yang menguasai segala aspek kehidupan kita. Bagi orang yang beriman, tuhan juga tempat meminta segala pengharapan. Apakah kita juga akan dirugikan oleh-nya? Padahal dalam al Qur’an, Allah swt menegaskan sifatNya yang Mahaadil. Tidak akan ada orang yang rugi berdagang dengan allah. Jika Allah menjanjikan keuntungan 1000 kebaikan, maka orang yang memenuhi syaratNya akan menerima keuntungan tersebut utuh. Tidak ada pajak, komisi, atau uang terima kasih yang harus kita haturkan padaNya. Anda yakin tentang hal tersebut, bukan?

Berbekal keyakinan tesebut, mengapa kita tidak manfaatkan peluang emas ramadhan 1431 H untuk mendulang pahala sebanyak mungkin? Ingatlah, bahwa kita harus selalu berpacu dengan waktu di dunia ini. Waktu untuk berbuat kebajikan ada batasnya. Wujudnya berupa kematian. Ketika kita sampai di batas tersebut, maka kita tidak bisa menundanya walau sesaat. Senyampang kekuatan dan kesempatan itu ada di tangan, mari lakukan kebajikan. Metode ini terbukti ampuh untuk meningkatkan nilai diri kita di hadapan Allah swt. mengapa? Karena Allah swt telah menentukan aturan mainnya: bukan harta, keturunan, atau kedudukan yang membuat manusia mulia di sisi Allah. Kemuliaan manusia diukur dari besarnya kemanfaatan yang dia berikan bagi sesama.