Tag Archive | menulis

Dongeng Sebelum Tidur

Ini sekedar bundel tulisan hasil membongkar file-file saya yang lama mengendap di komputer. Isinya hanyalah geremengan saya tentang hal-hal kecil yang saya alami. Silakan baca jika sempat. Barangkali dari puluhan tulisan ini ada yang mengingatkan Anda tentang memori masa lalu yang tidak mudah terlupa.

Untuk dapat membacanya, silakan Anda kirim alamat email Anda kepada saya. Insya Allah saya kirimkan segera.

Atau Anda bisa mengunduhnya langsung di tautan berikut.

http://www.mediafire.com/view/?42do7671b4k9fab

 

Ebook format pdf, 141 halaman.

Ebook format pdf, 141 halaman.

 

Iklan

Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah

Perselingkuhan itu seperti candu.Konon, selingkuh itu kependekan dari ‘selingan indah keluarga utuh’. Di tempat kerja kulihat beberapa teman berselingkuh. Mereka menikmatinya dan bahagia. Bahkan, ada beberapa yang kemudian memilih serius dengan selingkuhannya.

“Wow, betapa asyiknya punya selingkuhan!” Itu yang terpikir di benakku. Melihat kebahagiaan teman-teman yang berselingkuh, aku pun tertarik mencoba. Aku berharap bisa men-dua bahkan men-tiga seperti yang mereka lakukan. Harapan-harapan indah tergambar sudah. Sayangnya, aku belum tahu triknya. Bagaimana, nih?

Pucuk dicinta ulam tiba. Bagai orang mengantuk disodori bantal. Barangkali ungkapan tersebut tepat dipakai untuk menggambarkan kondisiku. Beberapa bulan menjelang pernikahanku, peluang selingkuh itu datang. Tentu saja peluang tadi tidak kusia-siakan. Sekian waktu main mata, akhirnya ada juga yang kecantol. Yang mengajakku teman seruang. Dengan sedikit berdebar, aku jalani perselingkuhan tadi. Aku takut jika petualangan ini diketahui oleh teman-teman lain. Memang gelagatku sempat dicium oleh beberapa senior. Akan tetapi, mereka memilih menutup mata. Dari perselingkuhan kilat itu aku dapat 350 ribu. Padahal di awal dia menjanjikan 450 ribu padaku. Tidak apalah. Aku pikir ini pengalaman pertama dan ini hanya menjadi batu loncatan. Jika sudah cukup pengalaman, tentu nilai jualku meningkat.

Selingkuh itu candu. Pengalaman pertama berselingkuh membuatku ketagihan. Kemudian kutahu, ternyata beberapa teman sekantor juga asyik mencicipi sensasi selingkuh. Apalagi kemudian muncul godaan-godaan baru. Dari hasil kasak-kusuk dengan beberapa teman, aku tahu ternyata mereka juga punya hasrat berselingkuh. Sebagai pemain baru, aku dan mereka begitu berhasrat untuk meneruskan petualangan. Kondisi ini membangkitkan keberanian kami. Aku lalu mencoba mencari peluang di luar.

Ada dua pengalaman selingkuh dengan orang luar kantor yang paling mengesankan. Pertama dengan orang solo. Aku mengenalnya dari temanku. Dia begitu posesif. Maunya dinomorsatukan. Segala keinginannya harus diutamakan. Mungkin karena dia masih sebaya denganku. Padahal aku tidak bisa meninggalkan yang utama di klaten. Ya sudahlah. Demi  kelangsungan hubungan, aku rela pulang kantor nglajo ke solo menjumpainya. Sampai di klaten lagi jam 8 malam. Itu pernah kulakukan dua-tiga kali dalam sepekan.

Suatu hari dia nekad menyusul ke klaten. Lewat telepon, dia memaksa bertemu denganku. Aku sempat panik oleh tuntutan tadi. Terus terang aku tidak berani mengambil risiko menemuinya. Tapi karena dia terus memaksa, akhirnya kita sepakat bertemu di tempat kos temanku. Pertemuan yang tidak sampai setengah jam itu menjadi akhir hubungan intensif kami. Sejak itu dia seakan melupakanku. Nah, giliran aku yang mengejar-ngejar dia. Secara berkala aku kirim pesan pendek padanya. Aku tidak mau dia begitu saja melupakanku. Apalagi aku belum mendapatkan apa yang dia janjikan. Dia pernah menjanjikan uang padaku jika mau memenuhi keperluannya. Beberapa bulan kemudian, dia meminta bertemu lagi. Namun dia enggan menemuiku. Melalui temannya, segepok uang dia berikan padaku. sayangnya, sikapnya waktu itu sudah tidak semanis dulu. Aku merasa tidak berarti. Habis manis, sepah dibuang. Huh!!!

Akhiran yang berbeda kurasakan ketika menjalin hubungan dengan yang satunya. Aku merasakan soft landing selama berhubungan dengan orang jogja ini. Pembawaannya kalem. Persuasinya mengikat aku untuk setia pada janji. Mungkin gaya ini dipengaruhi oleh kematangan usia dan pengalamannya. Yang  kutahu, aku bukan satu-satunya orang yang menjalin hubungan dengannya. Dengan gaya jogja, dia berhasil mengambil hatiku. Jika aku datang menemuinya, dia berusaha menjamuku dengan baik. Kadang-kadang dia memberi buah tangan. “maaf, ini sekedar uang transport,” katanya merendah saat menyerahkan sebuah amplop putih. Itu dia berikan setelah meyakinkan aku untuk mematuhi keinginannya. Barangkali pemberian ini juga yang membuatku bertekuk lutut padanya. Seperti perselingkuhanku yang sebelumnya, muara hubungan itu pun berupa materi. Sambil tersenyum ramah, dia sodorkan segepok uang padaku. inilah harga kesetiaan yang telah kutunjukkan kepadanya.

Entah penilaian apa yang akan anda berikan padaku. yang jelas, semua perselingkuhanku terjalin dalam suatu kontrak kerja profesional. Simbiosis mutualisme menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan pola hubungan itu. Mitra selingkuhku pun bukan sembarang orang. Mereka menawariku karena melihat kapabilitasku sebagai awak penerbit. Pengalaman menyiasati ranjau-ranjau penilaian buku menjadi nilai jual diriku. Inilah yang mereka hargai dariku melalui segepok uang yang diberikan. Aku terlibat perselingkuhan sebagai ghost writer.

Jangan bayangkan aku terus merasa bahagia. Dalam hati kecilku, aku menangis. Apalagi kemudian ALLAH menyodorkan skenario yang maha indah di depan mataku: Buku-buku yang kutulis di luar ternyata lulus penilaian ketat BSNP. Ya, ada 3 buku yang akhirnya dibeli oleh pemerintah menjadi buku sekolah elektronik (BSE) di tahun 2008-2009. Akan tetapi, lagi-lagi bukan aku yang akan menikmati hasilnya. Orang tidak akan percaya bahwa sesungguhnya itu buku garapanku. Ternyata tak selamanya selingkuh itu indah.

foto: http://www.womansavers.com/images/affairs.jpg

Saya Ingin Wariskan Buku. Anda?

Gola Gong pernah menulis dalam sebuah buku. Konon, orang Jepang gemar menulis. Topiknya sangat beragam, dari sekedar hobi hingga suatu kajian ilmu. Tidak heran jika jumlah buku yang terbit di sana setiap tahun sangatlah banyak. Hal ini juga berpengaruh terhadap perkembangan toko buku. Jumlah toko buku di negeri sakura  itu konon sekitar lima kali lipat jumlah toko buku di Amerika Serikat.

baca buku

Baca buku di densha (KRL)

Melihat kenyataan tersebut, saya membayangkan bahwa budaya baca masyarakat Jepang lumayan tinggi. Saat menunggu kedatangan kereta, banyak orang Jepang menggunakan waktunya untuk membaca. Ketika istirahat, mereka pun menggunakan sebagian waktu istirahatnya untuk membaca. Semakin banyak bacaan yang dilahap, tentu semakin banyak pengetahuan yang diperoleh. Karena itu manusia selalu melakukan dialektika pemikiran, lahirlah letupan-letupan ide dari sekumpulan informasi yang sudah diperoleh. Mereka lalu menuliskan ide-ide tersebut di secarik kertas, pada buku tulisnya, atau pada komputer. Dari sini muncul bibit-bibit penulis buku yang sekarang mewarnai kehidupan masyarakat Jepang.

Tiba-tiba muncul sebersit tanya: mungkinkah kita menciptakan budaya baca-tulis seperti Jepang? Jawaban spontan yang bisa diberikan hanyalah satu: mungkin sekali. Lantas, bagaimana caranya? Inilah pertanyaan yang memerlukan jeda cukup panjang untuk menjawabnya. Karena saat ini baru sebatas bermimpi, saya pun mencoba menjawabnya berdasarkan impian saya. Kira-kira begini.

Pertama, kita dituntut rajin membaca. Sering kali kita memaksakan diri membuat tulisan dengan tidak disertai riset bahan. Akibatnya, tulisan itu tidak terselesaikan. Bisa jadi  karena kekurangan bahan tulisan. Jika dianggap selesai pun terasa tidak mantap pembahasannya.Kita tidak tahu lagi harus menambahkan apa ke dalam tulisan. Nah, dengan membaca, kita akan mendapatkan banyak bahan untuk merampungkan tulisan. Bahkan, kita juga bisa mendapatkan topik tulisan lainnya. Adanya keuntungan tersebut mendorong seorang bijak berkata, “buku itu gudang ilmu. Membaca merupakan kuncinya.”

Kedua, kita dituntut rajin menulis. Kata Hernowo, “menulis itu mengikat makna.” Topik yang kita tulis akan selalu kita kenang. Kita menjadi tidak mudah melupakannya. Bahkan ketika muncul dialog tentang tulisan kita, perspektif kita akan semakin luas. Sangat mungkin muncul ide baru yang ingin kita tuliskan. Untuk melatih kemampuan menulis kita, kita perlu mencatat setiap kilatan ide yang terlintas. Walau hanya sebaris kalimat, itu merupakan latihan menuangkan ide yang efektif. Yakinlah, bahwa dari satu kalimat ke kalimat lain akan melahirkan satu paragraf.

Ketiga, kita dituntut untuk bertanggung jawab atas tulisan tersebut. Seorang teman pernah berkata, “menulis itu cerminan keimanan.” Apa yang kita tulis sangat mungkin memancing komentar dari orang lain. Kadang berupa pujian, tidak jarang berupa makian.

Saya ingin meneladani semangat orang Jepang dalam membaca dan menulis. Alasannya sederhana saja karena saya ingin mewariskan buku-buku buat anak saya. Buku itu tulisan saya sendiri. Isinya bisa pendapat dan komentar tentang suatu kenyataan. Atau hikmah dari pengalaman hidup yang pernah saya alami. Inilah perubahan obsesi saya. Semula saya ingin membangun perpustakaan pribadi yang berisi koleksi buku-buku bergizi karya orang lain bagi anak saya. Akan tetapi, sekarang saya ingin mewariskan tulisan-tulisan karya saya sendiri. Tulisan yang dicoretkan oleh pena dengan bimbingan hati yang tulus guna menjadi bekal bagi anak saya. Inilah warisan yang ingin saya berikan padanya. Kalau anda?

sumber gambar: http://baltyra.com/wp-content/uploads/2010/01/subway.jpg

Apa yang Akan Anda Wariskan?

Bapak saya seorang guru SD. Sekian lama bekerja, yang menggunung hanyalah utang. Utang di koperasi, utang di bank, utang di kenalan. Semua dilakukan bukan karena mengejar harta bergerak. Beliau lakukan itu untuk mencukupi biaya sekolah anak-anaknya. Apakah biaya sekolah saat itu mahal? Tentu saja tidak. Saya ingat, SPP kuliah saya tahun 1995 hanya sekitar 150.000 rupiah. Itu bertahan sampai saya lulus. Sedangkan biaya sekolah tiga orang adik saya tidak sampai 100.000 rupiah perbulan. Sementara gaji bapak waktu itu sudah 1,5 juta rupiah. Lantas, mengapa biaya yang sangat murah itu tidak bisa dikover bapak? Setelah saya pikir-pikir, ternyata karena hampir 2/3 gaji bapak habis untuk membayar utang. Anda tentu punya gambaran kondisi guru di era orde baru, kan?

Nah, menyikapi keadaan ekonomi yang mencekik leher itu, bapak menekankan satu hal pada kami. Beliau berpesan, “bapak dan ibu tidak bisa meninggalkan warisan harta, nak. Tapi mumpung bapak masih sanggup membiayai sekolahmu, belajarlah dengan tekun. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mengapa? Karena ilmu lebih tinggi nilainya daripada harta. Jika kamu memiliki ilmu, kamu akan tahu cara mendapatkan harta. Ilmu pun tidak pernah berkurang, bahkan bisa bertambah. Ini berbeda dengan harta yang dapat hilang sewaktu-waktu.” Nasihat itulah yang terus ditanamkan agar anak-anaknya mau belajar dengan tekun.

Ilmu

Ilmu lebih utama daripada harta.

Nasihat bapak tadi mengingatkan saya pada salah satu mutiara kata sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. suatu ketika beliau ditanya tentang perbandingan ilmu dan harta. Menurut menantu Rasulullah saw ini, “ilmu lebih utama daripada harta.” Apa kelebihan ilmu dibandingkan harta? Ada beberapa kelebihan ilmu yang diuraikan sayyidina Ali. Namun yang membekas di benakku ada dua. Pertama, ilmu akan bertambah ketika dibagikan pada orang lain. anda tahu cara membuat blog yang bagus. Ketika anda berbagi ilmu tersebut dengan orang lain, pemahaman anda tentang membuat blog yang  baik akan bertambah. Sebaliknya, harta akan berkurang ketika dibagikan pada orang lain. simpel saja. anda punya 10.000 rupiah. Ketika anda belikan dua batang es krim buat keponakan anda, uang anda pasti berkurang jumlahnya. Selain itu, ilmu akan menjaga diri kita. Orang yang berilmu akan selamat dalam menjalani kehidupan. Sedangkan harta menuntut kita menjaganya siang malam. Tidak percaya? Coba anda tinggal handphone anda di pinggir jalan. Dalam waktu 5 menit, sangat mungkin anda tidak lagi menemukan barang kesayangan anda di tempat itu.

Bapak tidak berhenti sebatas memberi nasihat saja. secara rutin, bapak meminjam buku dan majalah dari sekolah. Waktu itu, majalah yang dilanggani sekolah hanyalah si kuncung dan ceria. Di rumah, buku dan majalah itu menjadi oleh-oleh yang sangat menggembirakan hati. Kalau sudah mendapat bacaan baru, sambil makan pun saya terus membacanya. Ibu sering menegur saya karena kebiasaan tadi.

Bapak juga seorang pencerita yang baik. Beliau sering menceritakan pengalaman unik yang dialami hari itu. Bercerita semacam ini tidak selalu beliau lakukan saat menjelang tidur. Kadang kala ketika selesai makan malam bersama atau pada saat memperbaiki pagar rumah yang bolong. Biasanya, bapak akan meminta pendapat kami atas kejadian yang dikisahkan. Bagi bapak, tidak ada pendapat yang salah walaupun terasa naif. Itu bentuk pembelajaran untuk percaya pada diri sendiri dan untuk menghormati orang lain. Selanjutnya bapak akan menggarisbawahi hikmah yang menurut beliau penting kami ketahui. Cara mengajar seperti itu begitu berkesan bagi kami, anak-anaknya. Tanpa terasa, cukup banyak nilai dan norma yang beliau sosialisasikan pada kami. Tentang ibadah, tentang muamalah, juga tentang etiket menghormati orang tua. Bapak juga sering mengajak kami introspeksi tentang keadaan keluarga. Dari sini diharapkan anak-anaknya dapat bersikap tepat terhadap kondisi kami waktu itu. Sungguh indah kenangan yang beliau sapukan dalam mengukir jiwa raga kami.

Sekarang, bapak sudah kembali ke hadiratNYA. Alhamdulillah, beliau telah melunasi semua utang tersebut. Walau sudah mengikhlaskan kepulangan Bapak, kami sekeluarga tetap merasa kehilangan. Memang beliau tidak mewariskan harta. Tetapi bapak menanamkan arti penting ilmu bagi hidup kami. Beliau pun telah menunjukkan jalan yang tepat ditempuh. Kini, setiap anaknya tengah berjuang mendapatkan ilmu-ilmu yang berguna bagi kehidupan. Saya yakin kehidupan ini sekolah yang terbaik. Sampai nanti, saya terus belajar dan memunguti hikmah yang berceceran di antara langkah yang saya ayunkan. Mutiara kehidupan inilah yang akan saya tahtakan pada jiwa anak saya. Bagaimana dengan anda? Warisan apa yang anda siapkan bagi anak anda?

Menulislah, Siapa Tahu Jadi Buku

Kang, aku kok merasa rugi ikut kompasiana. Eit, sabar. Jangan buru-buru mencerca. Aku tahu sampeyan fans berat kompas. Mau bukti? Headline kompas akan sampeyan bahas dalam kesempatan pertama kita ketemu. Referensi berita kalau enggak dari kompas akan sampeyan kritisi betul. Sampai-sampai aku pernah berpikir enggak perlu baca kompas lagi. Cukup ngobrol dengan sampeyan, maka rangkaian berita yang disiarkan di sana sudah bisa kutahu. Tapi tolong kali ini dengar dulu omonganku. beri aku kesempatan untuk memaparkan latar belakang ungkapan tadi. Oke?

Begini lho, kang.

Kalau aku ikut daftar kompasiana, alasannya sepele. Aku cuma pengin ikut ngomentari tulisan para kompasianer itu. Sudah tahu to kalau para kompasianer itu berasal dari seluruh nusantara. Bahkan banyak yang saat ini tinggal di luar negeri. Mereka punya banyak pengalaman hidup, kang. Beraneka pengalaman hidup menjadi bahan tulisannya. Wah, asyik sekali membaca tulisan yang mereka unggah. Ada yang menyoroti budaya masyarakat sekitar. Ada juga yang menulis catatan perjalanan mendaki gunung ini atau pergi ke daerah itu. Sementara yang di luar negeri banyak yang menulis hal-hal unik yang dijumpai di sana. Tentang orang-orangnya, tentang tempat-tempat yang dikunjungi, atau tentang makanan yang disantap. Kompasianer yang nulis tentang isu-isu terpanas negeri kita juga banyak, kang. Dari membaca tulisan mereka, pengetahuanku sedikit-sedikit bertambah. Generalized atau apalah istilahnya. Pokoknya, tahu sedikit tentang banyak hal.

Tuliskan pemikiranmu!Biasanya sehabis baca tulisan yang diunggah di kompasiana, aku pingin komentar. Ya, Cuma ngomong, “mas, artikelnya bagus,” atau “wah, mbak, asyik ya bisa sampai sana.” Kadang kala aku juga pingin bertanya, “maksudnya apa, to om?” supaya bisa interaksi seperti itu, aku harus daftar ke kompasiana, kang. Gitu awalannya.

Terus, setelah jadi kompasianer (wuaduh, aku jadi ge-er, hehe), keinginanku tidak lantas mandheg. Aku terprovokasi juga untuk ketak-ketik. Masak, sudah jadi kompasianer kok Cuma numpang komentar. Makanya aku coba-coba nulis. Apa saja yang menurutku penting tak unggahke. Ada isu remunerasi, aku ngunggah komentar. Habis baca buku, komentarku tak tulis. Ngobrol sama sampeyan, tak tulis. Sampai-sampai aku mencari-cari ide tulisan dari kejadian kecil yang pernah kualami.

Keinginan nulis itu juga ada alasannya. Mau tahu, kang? Setelah tak pikir-pikir, ternyata karena tulisanku dapat komentar dari kompasianer lain. Sekedar ‘salam kenal’ saja sudah membuatku bungah, hihihi. Apalagi kalau ada komentar yang memancing komentar baru. Wah, tambah seru le ngeblog. Aku sekarang jadi kecanduan virus kompasiana. Hehehe ….

Baru sebulan ngompas (pakai siana maksudnya), aku melihat satu hal baru. Ternyata tulisan yang diunggah teman-teman itu bagus-bagus. Isinya menarik apalagi ditempeli foto-foto karya sendiri. Kadang menghibur, kadang menyentak. Sayangnya, yang baca tulisan bagus itu cuma kisaran ratusan orang saja. memang ada tulisan yang dibaca sampai hampir 3000-an orang. Biasanya isinya tentang isu terpanas saat itu atau yang judulnya nyerempet-nyerempet (seleb, seks, atau seleb kecanduan ngeseks, hehe).  Konsekuensinya, yang bisa memetik manfaat tulisan tadi ya hanya sebatas angka itu. Eman-eman, to kang? Padahal jika tulisan itu dibaca oleh orang-orang se-Indonesia, tentu semakin banyak yang mendapatkan manfaat. Bagaimana caranya?

Sederhana: buat buku. Kamu gak percaya, kang? Coba diingat, walaupun dunia akan segera memasuki era paperless (benar seperti itu nulisnya, kang?), tapi potensi pangsa pasar buku di indonesia masih terbuka lebar. Apalagi kesadaran membaca masyarakat kita semakin luas. Masyarakat tentu akan menghargai tinggi buku-buku yang menyehatkan jiwa. Maksudku, buku yang memotivasi kita untuk hidup lebih baik, mau berempati dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.

Buku tidak selalu berisi uraian ilmiah akademis teoritis tentang suatu hal. Buktinya, waktu aku pergi ke toko buku, yang ditawarkan di sana sangat beragam. Ada buku tentang aneka tip rumah tangga, buku harian tokoh tertentu, sampai nama-nama bagi bayi. Ada juga buku resep masakan, buku humor, juga novel dan cerita pendek. Bahkan aku pernah melihat buku yang isinya postingan dari suatu blog seseorang. Nah, dalam bayanganku, jika pengalaman berwisata para kompasianer itu dikompilasikan, tentu akan lahir buku panduan berwisata seperti Lonely Planet. Cerita fiksi yang ditulis kompasianer bisa dikompilasi menjadi buku kumpulan cerita pendek atau cerita bersambung.

Tentu saja hal ini memerlukan proses, kang. Membuat draft buku tidak semudah membalik telapak tangan. Ujug-ujug dadi. Nggak mungkin itu. Tapi, menurutku bisa dimulai dari membuat tulisan-tulisan yang bernas. Ah, tentu teman-teman kompasianer paham maksud tulisan yang bernas itu. Selanjutnya, bila draft buku dinilai cukup layak, kita tawarkan ke penerbit. Bukankah sekarang banyak penerbit baru yang muncul? Mereka tentu membutuhkan naskah buku sebanyak mungkin. Nah, bekerja sama dengan penerbit memungkinkan kita menyebarluaskan ide-ide brilian tadi ke seluruh nusantara. Semakin banyak orang indonesia yang tercerahkan berkat buku kita, semakin besar nilai diri kita di hadapan ALLAH SWT. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi sesama, kang?