Tag Archive | anak

Origami Angry Birds Buat Si Kecil

angry-birds

Siapa anak kecil yang tidak kenal Angry Birds? Karakter burung tanpa kaki ini sempat begitu akrab dengan keseharian mereka. Baju, tas sekolah, buku, bahkan sandal jepit bergambar Angry Birds laris manis mereka konsumsi. Rupanya bukan hanya anak-anak yang suka dengan si burung pemarah itu.  Tidak sedikit orang dewasa yang menginstall game Angry Birds di gadget dan laptopnya. Namun, di balik tren tersebut, barangkali sebagian kita sudah mulai melihat efek negatif dari Angry Birds dalam kepribadian anak-anak.

Lepas dari bagus-tidaknya Angry Birds bagi kepribadian buah hati kita, kali ini saya mengajak Anda  untuk menguatkan ikatan batin Anda dengan mereka. Caranya dengan mengajak mereka membuat origami aneka karakter Angry Birds.

Menurut saya, kegiatan ini lebih bermanfaat daripada membiarkan mereka bermain game Angry Birds sepanjang hari. Apalagi liburan semester ganjil sudah di depan mata.

Ada 8 pola origami yang bisa Anda print untuk kegiatan ini. Silakan Anda unduh pola tersebut melalui tautan mediafire berikut.

1. Black Bird

http://www.mediafire.com/view/?1ac9b1ykjia8afk

2. Blue Bird

http://www.mediafire.com/view/?fryrno1kkxrtscw

3. King Pig

http://www.mediafire.com/view/?01kjwuj2s8v02jj

4. Old Pig

http://www.mediafire.com/view/?e18nef0h41ld712

5. Pig

http://www.mediafire.com/view/?93du37elj05bbhs

6. Red Bird

http://www.mediafire.com/view/?bcij3h4ssd01tgl

7. White Bird

http://www.mediafire.com/view/?3k236s7j3fal4z9

8. Yellow Bird

http://www.mediafire.com/view/?qprwmzi8kyfbc0f

 

Iklan

Otak-otak Rasa Televisi

Televisi memang bisa menjadi alternatif pendamping anak saat orang tua sibuk. Pilihan ini diambil sebagian orang tua agar anak tidak rewel selama ditinggal beraktivitas. Beragam acara untuk anak pun disiapkan oleh para pengelola televisi. Ada reality show untuk anak, ada serial kisah bagi anak. Ada pula film yang ditujukan pada anak.

Anak-anakpun menikmati kemerdekaan dari orang tuanya dengan gembira. Mereka bisa betah duduk berlama-lama di depan kotak gambar hidup. Selama menikmati acara yang menarik hatinya, anak tanpa sadar sedang menjalani sosialisasi. Mereka menyerap informasi yang ditunjukkan lewat perkataan dan sikap tokoh. Karena orang tua lengah, sosialisasi tersebut berjalan tidak terkendali. Tahu-tahu anak menunjukkan perilaku yang berbeda dengan yang diajarkan orang tua. Teman saya mempunyai pengalaman mengenai hal tersebut.

“Ibuuu ibu. Apa sih isi otakmu?” komentar yang dilontarkan si kecil membuat sang ibu terkejut. Dia merasa tidak pernah mengajarkan sikap demikian. tiba-tiba anaknya berekspresi semacam itu ketika mengobrol dengan ibunya. Sebagai ibu yang peka, teman saya berusaha mencari penyebab sikap anaknya. Setelah ditelisik, ternyata si anak hanya menirukan ucapan dalam dialog salah satu film spongebob.

Teman saya lalu melarang anaknya menonton spongebob. Dia mengarahkan si kecil untuk menonton sinetron yang ada pemain anak-anaknya. Menurut pemikirannya, siaran sinetron anak dan sinetron dengan pemeran anak-anak itu tepat ditonton sang anak. makanya dia tidak merasa cemas ketika anaknya menonton sinetron semacam itu.

Suatu hari anaknya menggerutu,”Dasar orang tidak punya otak!” Deg. Teman saya terkaget-kaget mendengar kata-kata anaknya. Ternyata televisi telah menghadirkan ‘otak-otak’ di benak si anak. akan tetapi otak-otak yang ini berbeda rasa dengan otak-otak bandeng yang biasa dia bawa setiap pulang dari Semarang. Otak-otak televisi ini justru menimbulkan rasa was-was di benak teman saya. Mau jadi apa anakku kalau sepanjang waktu diasuh oleh televisi?

Menurut saya, teman saya masih bisa disebut beruntung. Dia segera menangkap sinyal pengaruh buruk televisi pada diri si anak. dari sini, teman saya menyadari pentingnya mendampingi anak saat menonton siaran televisi. Jangan biarkan anak menerima mentah-mentah pesan setiap tayangan yang ditontonnya. Ini disebabkan karena konsep acara televisi bagi anak pun belum sepenuhnya berpihak pada anak. Hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik masih diabaikan oleh para produsen acara dan pengelola televisi. Akibatnya pesan-pesan moral tidak menghiasi materi tayangan bagi anak.

Melihat realitas ini, mendampingi anak saat menonton televisi menjadi wajib. Jangan langsung percaya dengan label ‘film anak’ ataupun ‘tayangan untuk anak’. mari tingkatkan kepedulian terhadap kualitas moral anak-anak. buah hati kita merupakan pembangun peradaban Indonesia di masa depan. Bukankah kita ingin membangun peradaban yang maju dengan tetap menghargai martabat kemanusiaan?

Jangan Paksa Anak Belajar Terus, Bisa Stres

Surabaya (ANTARA News) – Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengingatkan seluruh orangtua untuk tidak memaksa anaknya terus belajar dan kehilangan kesempatan bermain bagi anak bisa memicu ia mudah stres.

“Tanda-tandanya, anak-anak menjadi nggak suka makan atau bahkan berperilaku menyimpang seperti merokok,” kata pemerhati anak yang akrab dipanggil Kak Seto itu di Surabaya, Rabu.

Sebagai bentuk perhatian terhadap anak, kata Kak Seto, pada Hari Anak Internasional setiap tanggal 1 Juni perlu disikapi dengan tekad untuk menyediakan taman bermain di mana-mana.

“Saya setuju kalau mahasiswa merancang playhouse yang bisa dipindahkan dengan sistem bongkar pasang, dan cocok untuk gang yang sempit di kampung-kampung. Masyarakat menengah ke bawah membutuhkan tempat bermain yang tidak mahal,” paparnya.

Di Jepang atau Korea, ungkapnya, kantor-kantor sudah menyediakan tempat bermain bagi anak-anak yang mengikuti orangtua bekerja.

“Pemenuhan hak bermain itu bagus, karena anak-anak akan lebih bahagia, lebih kreatif, dan saat dewasa kelak tidak akan mempermainkan rakyat,” tandasnya.

Ia mengaku anak-anak sebenarnya membutuhkan lapangan rumput yang lebih luas, tapi taman bermain seadanya juga cukup dibandingkan dengan tidak ada sama sekali.

“Masalahnya, ada taman bermain yang masih membahayakan anak-anak, seperti ada besi yang tajam, cat yang beracun, dan tempatnya tidak bersih,” kilahnya.

Di sela waktunya menjadi juri lomba desain ruang bermain anak di Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya (12/4/2010), Kak Seto juga mengingatkan semua orangtua bahwa hak bermain bagi anak penting untuk menumbuhkan kreatifitas moral atau budaya dalam mengendalikan emosi lebih positif.

Mengapa Harus Marah?

Lho, kok marah? Heran aku dengan kemarahan yang tiba-tiba muncul ketika mendengar anakku marah. Dia memukulkan layang-layang ke lantai. Gara-gara aku tidak mendengar permintaannya. Waktu itu aku, istriku, dan mbak ika sedang mengobrol tentang pembuatan pagar bambu rumah mbak ika. Anakku merasa terganggu dengan suara ramai kami. Dia lalu  minta volume suara film upin dan ipin dikeraskan. Sekali permintaannya tidak direspon orang tuanya, dia marah dan mencoba mencari perhatian dengan tindakan tadi.

Aku sebagai orang tua tentu terganggu dengan kerewelannya. Menurutku dia sudah bertindak tidak sopan di depan orang lain. Ini memalukan keluargaku di mata tamu. Sebagai reaksiku, aku menjewer telinganya. Anakku menangis. Namun aku tidak mencoba menghiburnya supaya reda tangisnya. Yang kulakukan justru mengancamnnya: Berhenti menangis atau film kumatikan. Tentu saja dia semakin keras menangis.

Yang lebih mengherankan lagi ternyata emosiku langsung meluap. Hebat!!! Masalahnya apa, eh tahu-tahu aku jadi punya kambing hitam. Aku menuduh anakku penyebab masalah pagi ini.

Bukankah seharusnya aku bersikap lebih sabar lagi kepada anakku? Bukankah aku harus bertanya dengan lembut penyebab sikap kasarnya? Selanjutnya tinggal aku penuhi permintaannya. Selesai. Tidak perlu terjadi insiden itu. Namun semua itu tidak kulakukan.

Barangkali kemarahanku sebenarnya muncul dari rasa terkejutku atas ekspresi emosi anakku. Aku tidak suka dengan sikap kasar yang ditunjukkan anakku. Karena aku merasa tidak pernah mengajarinya bersikap kasar, maka aku marah. Akan tetapi jika mau berpikir lebih jernih, aku sebenarnya tengah disodori sebuah cermin. Jangan-jangan inilah yang kuajarkan kepada anakku selama ini. Bahwa merajuk dan sikap kasar akan membuatnya berhasil meraih tujuan. Jika benar dia memperlajari hal itu dari orang tuanya, berarti aku sesungguhnya telah mendidiknya secara keliru. Ini harus diwaspadai. Aku harus mengubah gaya mendidikku agar anakku tidak menjadi orang yang merugi kelak.