Tag Archive | pendidikan

Sosok Tegar di Balik 6 Brilian Tanpa Berlian

Buku yang inspiratif

Membaca buku Menembus Batas mendorong saya mengajukan pertanyaan berikut pada anda. Jika anak pertama anda berhasil masuk fakultas kedokteran suatu perguruan tinggi terkenal di indonesia melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah, bagaimana perasaan Anda? Jika anak kedua anda berhasil mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan studi ke fakultas kedokteran, bagaimana perasaan anda?

Saya yakin anda tentu merasa sangat bahagia dan bangga. Mengapa tidak? Profesi dokter masih dianggap prestisius bagi sebagian besar orang. Apalagi biasanya mereka yang berprofesi dokter juga berpeluang untuk hidup lebih makmur di lingkungannya.

Sekarang bayangkan kondisi berikut. Anak pertama dan anak kedua anda memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan langka itu. Anak pertama anda merasa tidak cocok mempelajari ilmu kedokteran Dia memutuskan ikut SNMPTN di tahun berikutnya. Rupanya dia ingin masuk jurusan teknik di UGM. Sementara anak kedua menolak kesempatan itu karena ingin belajar teknik mesin di ITB. Bagaimana perasaan anda?

Saya yakin anda tentu memiliki sikap berbeda-beda. Begitu juga sikap yang diambil Pak Budi Setiadi, seorang bapak yang telah mengalami sendiri dua kondisi tersebut. Dia berusaha menghargai pilihan sikap anak-anaknya. Padahal bagi sebagian orang, sikap tersebut terasa tidak logis. Saya sendiri juga heran dengan pilihan sikap tersebut. Namun, dengan membaca buku Menembus Batas ini, kita akan mendapatkan  gambaran kehidupan Pak Budi dan latar belakang pemikirannya.

Bapak yang Selalu Optimis

Budi setiadi terlahir sebagai anak tentara di solo. Karena bapaknya sering berpindah-pindah tugas, dia merasa kurang mendapat kasih sayang orang tua. Akan tetapi, sejarah hidup yang suram justru mendorong Pak Budi mengubah sikap terhadap anak-anaknya. Pak budi menganggap anak sebagai amanah dari ALLAH yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Anak perlu dibesarkan dengan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Dari pemikiran tersebut, dia tergerak untuk mencari ilmu tentang mendidik anak secara benar. Selanjutnya, dia coba praktikkan hal tersebut pada anak-anaknya.

Ternyata tidak mudah mempraktikkan pemahaman tersebut. Ada banyak faktor yang mempengaruhi upaya pak budi. Kesulitan hidup menjadi salah satu faktor yang kerap menghadang langkahnya. Sehari-hari Pak Budi bekerja sebagai petugas penarik iuran Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK). Di waktu lain, dia bekerja serabutan. Dari dua aktivitas tersebut, dia mendapat penghasilan sekitar 450 ribu rupiah setiap bulan. Penghasilan itulah yang harus dibelanjakan untuk mengupayakan kesembuhan istrinya dan membiayai keenam anaknya. Oya, istri pak budi sejak tahun 1995 menderita infeksi pada otak. Bahkan, sempat dua tahun bu budi hanya tergolek lemah di tempat tidur. Selama istrinya sakit, pak budi sendiri yang harus mengatur keluarga dan memenuhi kebutuhan keenam anaknya. Dia mengurus urusan rumah tangga, menyiapkan keperluan sekolah anak, menemani belajar mereka, serta mencari nafkah.

Tantangan lain yang dihadapi pak budi berasal dari lingkungan tempat tinggal. Keluarga pak budi tinggal di lingkungan yang tidak memandang penting pendidikan akademis dan agama. Mereka mencemooh upaya pak budi yang terus memotivasi anak-anaknya meraih cita-cita. Namun atas izin ALLAH, anak-anak pak budi berhasil mempertahankan prestasi belajarnya. Mau bukti?

Sholihah, anak pertama, berhasil lulus sebagai sarjana teknik UGM dalam waktu empat tahun. Dia sekarang sedang melakukan penelitian untuk meneruskan studi ke jerman. Walidah, anak kedua, mendapatkan bea siswa untuk belajar teknik mesin di ITB. Hafidzur rohman al Makhi, anak ketiga, tengah meneruskan studi di teknik geodesi UGM. Malina Mar’atush sholihah, anak keempat, mendapat bea siswa selama bersekolah di MA. Abdullah yahya, anak kelima belajar ke sekolah Smart Ekselensia Indonesia Bogor. Dia mendapat bea siswa untuk meneruskan studi hingga selesai kuliah. Sedangkan Aulia Khoirun Nisa’, anak keenam, sedang belajar di kelas 4 SD dan masuk program khusus bagi siswa berprestasi. Semua prestasi tersebut menyadarkan warga di sekitarnya akan arti penting pendidikan bagi anak.

Kunci Rahasia Sukses

Bagaimana pak budi mengupayakan hal tersebut? Jawaban pertanyaan tersebut menjadi inti pokok buku Menembus Batas. Di sini kita akan menjumpai sejumlah tip yang biasa disampaikan para pakar pendidikan anak. Namun yang lebih menarik ialah paparan tentang upaya Pak Budi menerapkan saran-saran tersebut. Berikut beberapa contoh yang bisa anda jumpai.

1. Bekal kecerdasan setiap anak berbeda-beda

Setiap anak diberi bekal kecerdasan yang berbeda-beda oleh ALLAH. Potensi anak akan tumbuh berkembang atau layu tergantung pada perlakuan orang tua terhadapnya. Mendidik anak bagaikan menyemaikan bibit yang diharapkan tumbuh dengan subur. Orang tua harus memutar otak untuk menemukan cara yang paling baik guna memelihara dan merawat bibit tersebut. Hal ini tentu memerlukan energi dan kesabaran yang sangat besar.

“Bibit yang istimewa bila tidak diberi pupuk dan dirawat dengan baik, akan menghasilkan buah yang biasa-biasa. Bahkan bisa lebih buruk. Sedangkan bibit yang biasa bila diperlakukan dengan baik, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” kata Pak budi.

2. Optimalkan kecerdasan anak

Pak budi meyakini bahwa kecerdasan bahasa itulah yang harus mula-mula diasah oleh anak. dengan bahasa, segala informasi yang masuk ke dalam otak anak akan dapat diproses secara baik dan diterima dengan pemahaman utuh dan benar.

Bercerita menjadi metode yang dipilih pak budi untuk mengembangkan kecerdasan berbahasa anak-anaknya. Bercerita memungkinkan dia menyampaikan berbagai pesan positif dengan cara yang menarik hati. Terkadang, anak-anak yang dimintanya bercerita tentang pengalaman hari itu. Dari cerita yang disampaikan, orang tua dapat mengetahui tingkat imajinasi dan kekuatan memori sang anak.

Selain bercerita, anak juga mengasah kecerdasannya melalui permainan. Pak budi memberi keleluasaan pada anaknya untuk bermain selama fase bermain. Menurutnya, dengan bermain anak sedang mempelajari hal-hal yang ada di sekitarnya. Aktivitas ini akan mengembangkan kemampuan otaknya untuk menganalisis suatu hal.

Supaya kecerdasan anak berkembang optimal, orang tua harus mengembangkan interaksi yang dilandasi rasa kasih sayang kepada anak-anaknya.

3. Temukan metode belajar yang tepat bagi anak

Pak budi memiliki metode sendiri saat menemani belajar anak-anak. dia tidak menyuruh apalagi memaksa anak-anak belajar. Yang dilakukannya hanya mengajak mereka untuk belajar. Cara yang dipilihnya juga halus. Pak budi tidak melakukannya secara lisan, tetapi mencontohkannya dengan perbuatan.

Selain itu, pak budi selalu membiasakan anak-anak untuk belajar mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah. Dia paling tidak tiga kali dalam seminggu menemani anak-anak untuk belajar. Kadang pak budi membahas materi yang akan diajarkan guru hari itu. Dengan cara ini anak-anak pak budi siap menghadapi ujian tanpa perasaan tertekan.

4. Jangan batasi cita-cita anak

Pak budi tidak pernah membatasi cita-cita anaknya. Buktinya seperti yang dia lakukan terhadap Sholihah dan Walidah. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidup walaupun sebenarnya sudah mendapat tiket untuk belajar ilmu kedokteran.

Terhadap nisa, anaknya yang terkecil, sikap pak budi pun sama. Dia tidak mencemooh ketika bocah kelas 4 SD ini bercita-cita belajar ilmu kedokteran di harvard university. Menurut pak budi, “biarkan anak-anak menggantungkan cita-cita setinggi langit. Jangan takut karena kita tidak pernah tahu rejeki orang. Jadi, jalani saja dengan doa dan dukung cita-citanya sehingga anak tidak tertekan dan semakin termotivasi.

Kita masih akan menemukan sejumlah tip lainnya dalam buku ini. dengan kemauan keras dan ketekunan, pak budi berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah perangkap untuk membatasi cita-cita sang buah hati. Inilah yang  bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Selama ini kita yakin bahwa pendidikan menjadi jembatan emas melakukan mobilitas sosial. Perjuangan Pak Budi dan keluarga merupakan bukti nyata yang terpampang di depan mata. Di tengah semakin mahalnya biaya untuk mengakses pendidikan berkualitas, kita disadarkan untuk menjadi guru utama bagi buah hati harapan kita.

Bagi saya, Pak budi meneladankan sikap tawakal setelah berusaha keras sekuat tenaga. Kepasrahan yang tulus kepada ALLAH swt justru menunjukkan titik terang dari masalah yang tengah dihadapi. Jadi, ikhtiar dan tawakal harus berjalan seiring.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, “orang lemah yang optimis, lebih baik daripada orang yang mampu namun pesimis. Optimis sering mengubah kelemahan menjadi sebuah kekuatan.”

Iklan

Adakah Asa Bagi Yang Papa?

“Bapak dan ibu tidak bisa mewariskan harta. Karena itu mumpung kamu masih bisa bersekolah, belajarlah yang benar. Bapak yakin ilmu itu akan bermanfaat bagimu kelak.”

Pesan bapak itu masih melekat kuat di benak saya. Pesan tersebut mungkin mencerminkan harapan  banyak orang tua dari kalangan tidak berpunya terhadap anaknya. Mereka memimpikan agar si anak tidak terjerat dalam keterbatasan seperti yang dialaminya sekarang. karena tekad tersebut, banyak orang tua yang legawa berujar, “biarlah segala duka lara ini aku tanggungkan asal engkau mendapatkan yang lebih baik, anakku.”

Mengapa muncul harapan seperti itu? Ternyata sebagian besar masyarakat meyakini bahwa pendidikan merupakan  jembatan emas untuk melakukan mobilitas sosial. Melalui pendidikan, seseorang dapat naik ke jenjang sosial yang lebih tinggi. Dengan memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, sang anak akan memiliki penghidupan yang lebih baik. Sungguh ini bukan impian di siang bolong. Kita tentu bisa menemukan contoh orang yang berhasil melakukan mobilitas sosial vertikal tadi.

Mungkinkah memupuk impian tersebut saat ini? ketika melihat realitas dunia pendidikan indonesia, rasanya tidak semua orang tua bisa mendendangkan impian tersebut ke telinga anaknya. memang konstitusi indonesia mewajibkan negara untuk menjamin terpenuhinya hak-hak dasar fakir miskin dan anak-anak telantar. Memang undang-undang tentang sistem pendidikan nasional mengatur agar setiap warga negara mendapatkan pendidikan dasar 12 tahun. Memang pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari APBN. Akan tetapi, justru dari landasan hukum tersebut melahirkan sejumlah kebijakan pendidikan yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Simak saja fenomena kastanisasi pendidikan yang membagi sekolah menjadi tiga. Jenjang tertinggi ialah sekolah bertaraf internasional (SBI). Di bawahnya terdapat rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Sementara kasta terendah ialah sekolah reguler. Siapa yang bisa masuk ke SBI dan RSBI? Tentu hanya siswa dengan kecerdasan tinggi dan kemampuan finansial kuat. Berbagai kegiatan dan fasilitas yang diberikan menjadi alasan utama mahalnya biaya masuk dan biaya bulanan di dua sekolah ini. tahukah anda berapa kisaran biaya-biaya tersebut? Kompas edisi 3 Juni 2010 menyebutkan, “Biaya masuk di sekolah-sekolah berstatus RSBI umumnya 8 juta hingga 10 juta rupiah, sementara biaya bulanan Rp 450.000,00 hingga Rp850.000,00.” tentu orang tua harus merogoh kocek lebih dalam untuk membiayai anaknya yang bersekolah di sekolah berstatus SBI.

Para siswa di kedua sekolah tersebut belajar menggunakan metode pembelajaran dwibahasa (bahasa Indonesia dan Inggris). Sekolah akan menghadirkan guru asing (native teacher) untuk mengajar mata pelajaran matematika, sains, dan bahasa inggris seminggu sekali. Penerapan metode tersebut tentu menambah mahal biaya sekolah di sana.

Menurut Musni Umar, Ketua Komite SMA Negeri 70 Jakarta, penerapan metode tersebut dinilai mubazir. Alasannya karena orientasi dan mimpi mayoritas siswa SMA setelah tamat sekolah di dalam negeri adalah melanjutkan pendidikan ke UI, UGM, ITB, dan lain-lain. Mereka tidak berpikir untuk  bersekolah ke luar negeri. Di sini terdapat asumsi yang keliru bahwa Sekolah Bertaraf InternasionaI harus mengajarkan pelajaran dalam bahasa Inggris. Padahal negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, dan Korea menggunakan bahasa nasional mereka sebagai bahasa pengantar. “sebaiknya sekolah bertaraf internasional perlu dikaji ulang. Sepatutnya kita berkiblat ke tujuan sistem pendidikan nasional kita, bukan ke sistem luar macam Cambridge,” ujar Musni (kompas, 25 april 2010).

Memang ada ketentuan untuk menyisihkan sekian persen kuota bagi siswa berprestasi dari golongan ekonomi lemah. Namun pada praktiknya,  sekolah akan secara bertahap mengurangi prosentase tadi supaya bisa menutup besarnya biaya operasional. Tidak mengherankan jika sebagian warga lalu berpikir pemerintah berperilaku seperti di zaman penjajahan belanda. Salah satunya Utomo Dananjaya, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina.  “Yang kaya diutamakan, yang miskin tidak diperhatikan. Perlakuan membedakan ini diskriminasi,” tuturnya. (kompas, 3 juni 2010)

Lantas, benarkah sekolah reguler merupakan pilihan terbaik bagi mayoritas rakyat kecil di indonesia? Memang sumbangan pengembangan pendidikan (SPP) telah dibayarkan oleh pemerintah. Mereka yang belajar di sekolah negeri berhak mendapatkan fasilitas tersebut. Dana bantuan operasional sekolah (BOS) pun dibagikan pada setiap siswa. Namun, pemikiran komersial yang merasuk ke dalam benak para penyelenggara pendidikan mendorong mereka menempatkan wali murid sebagai objek bisnis. Ada saja celah yang dapat dimasuki untuk menarik dana dari orang tua. Semuanya dibungkus dengan dalih ‘demi kemajuan pendidikan putra-putri anda sendiri’. Tidak heran jika muncul keluhan, “katanya sekolah gratis. Kok masih bayar?”

Ketika orang tua gagal memenuhi segala pungutan tersebut, akhirnya anaklah yang menjadi korban.Di tahun 2007 saja, lebih dari 1,1 juta anak terpaksa memilih berhenti bersekolah di indonesia. Artinya, setiap menit ada 4 siswa yang putus sekolah waktu itu. Berdasarkan kenyataan empiris di lapangan, diperkirakan jumlah anak putus sekolah masih akan meningkat.

Ketula-tula ketali. Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itu tepat menggambarkan kondisi orang tua murid sekarang. bayangkan saja. walaupun mereka sudah menangis batin melihat anaknya putus sekolah, orang tua masih bisa terancam membayar denda pada pemerintah. Mengapa hal itu terjadi? hal ini bisa terjadi jika masing-masing pemerintah daerah menyetujui aturan seperti yang diajukan anggota DPRD  kota depok. Mereka menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Sistem dan Mekanisme Penyelenggaraan Pendidikan. Raperda tersebut mengatur sanksi bagi orangtua yang lalai menyekolahkan anaknya berupa denda. Jika secara sah dan meyakinkan orangtua sengaja menelantarkan hak anak untuk menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun, yang bersangkutan dapat dikenai tuduhan perdata dengan hukuman denda maksimal 10 kali lipat biaya pendidikan anak pada masa penelantaran pendidikannya. Namun sanksi tidak serta-merta diterapkan kepada setiap orangtua yang tak bisa menyekolahkan anaknya. Penjatuhan sanksi tadi akan mempertimbangkan kemampuan orangtua siswa (kompas, 23 april 2010).

Sungguh ironis dunia pendidikan kita. Pemerintah seperti menutup mata tentang keadaan rakyat. Bukankah kebanyakan kasus anak putus sekolah disebabkan karena orang tua tidak mampu membayar biaya sekolah? Jangankan untuk membayar aneka pungutan tadi, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja semakin banyak yang kerepotan. Kondisi ini diperparah dengan menyempitnya lapangan pekerjaan dan banyaknya PHK. Bagaimana mungkin pemerintah membuat kebijakan yang tidak berpihak pada mayoritas rakyat? Masihkah pemerintah menjadi abdi masyarakat seperti yang digembar-gemborkannya? Tolong, jangan pupus mimpi kami!

Mengapa Harus Marah?

Lho, kok marah? Heran aku dengan kemarahan yang tiba-tiba muncul ketika mendengar anakku marah. Dia memukulkan layang-layang ke lantai. Gara-gara aku tidak mendengar permintaannya. Waktu itu aku, istriku, dan mbak ika sedang mengobrol tentang pembuatan pagar bambu rumah mbak ika. Anakku merasa terganggu dengan suara ramai kami. Dia lalu  minta volume suara film upin dan ipin dikeraskan. Sekali permintaannya tidak direspon orang tuanya, dia marah dan mencoba mencari perhatian dengan tindakan tadi.

Aku sebagai orang tua tentu terganggu dengan kerewelannya. Menurutku dia sudah bertindak tidak sopan di depan orang lain. Ini memalukan keluargaku di mata tamu. Sebagai reaksiku, aku menjewer telinganya. Anakku menangis. Namun aku tidak mencoba menghiburnya supaya reda tangisnya. Yang kulakukan justru mengancamnnya: Berhenti menangis atau film kumatikan. Tentu saja dia semakin keras menangis.

Yang lebih mengherankan lagi ternyata emosiku langsung meluap. Hebat!!! Masalahnya apa, eh tahu-tahu aku jadi punya kambing hitam. Aku menuduh anakku penyebab masalah pagi ini.

Bukankah seharusnya aku bersikap lebih sabar lagi kepada anakku? Bukankah aku harus bertanya dengan lembut penyebab sikap kasarnya? Selanjutnya tinggal aku penuhi permintaannya. Selesai. Tidak perlu terjadi insiden itu. Namun semua itu tidak kulakukan.

Barangkali kemarahanku sebenarnya muncul dari rasa terkejutku atas ekspresi emosi anakku. Aku tidak suka dengan sikap kasar yang ditunjukkan anakku. Karena aku merasa tidak pernah mengajarinya bersikap kasar, maka aku marah. Akan tetapi jika mau berpikir lebih jernih, aku sebenarnya tengah disodori sebuah cermin. Jangan-jangan inilah yang kuajarkan kepada anakku selama ini. Bahwa merajuk dan sikap kasar akan membuatnya berhasil meraih tujuan. Jika benar dia memperlajari hal itu dari orang tuanya, berarti aku sesungguhnya telah mendidiknya secara keliru. Ini harus diwaspadai. Aku harus mengubah gaya mendidikku agar anakku tidak menjadi orang yang merugi kelak.