Arsip | puisi religi RSS for this section

Tadarus

Bismillahirrahmanirrahim
Brenti mengalir darahku menyimak firman-Mu

Idzaa zulzilatil-ardlu zilzaalahaa
Wa akhrajatil-ardlu atsqaalahaa
Waqaalal-insaanu maa lahaa
(ketika bumi diguncang dengan dasyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya:
Bumi itu kenapa?)

Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarahaa
Bianna Rabbaka auhaa lahaa
Yaumaidzin yashdurun-naasu asytaatan

Liyurau a’maalahum
(Ketika itu bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu manusia tumpah terpisah-pisah
‘Tuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Faman ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah
Waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah
(Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikan
pun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatan
pun akan melihatnya)

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya bergulir?
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarrah saja
Kebaikan yang pernah kubuat?
Nafasku memburu diburu firmanMu

Dengan asma Allah Yang Pengasih Penyayang
Wa’aadiyaati dlabhan
Falmuuriyaati qadhan
Fa-atsarna bihi naq’an
Fawasathna bihi jam’an
(Demi yang sama terpacu berdengkusan
Yang sama mencetuskan api berdenyaran
Yang pagi-pagi melancarkan serbuan
Menerbangkan debu berhamburan
Dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan)
Innal-insana liRabbihi lakanuud
Wainnahu ‘alaa dzaalika lasyahied
Wainnahu lihubbil-khairi lasyadied
(Sungguh manusia itu kepada Tuhannya
Sangat tidak tahu berterima kasih
Sunggung manusia itu sendiri tentang itu menjadi saksi
Dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta
Luar biasa)
Afalaa ya’lamu idza bu’tsira maa fil-qubur
Wahushshila maa fis-shuduur
Inna Rabbahum bihim yaumaidzin lakhabier
(Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat ini dada ditumpahkan?
Sungguh Tuhan mereka
Terhadap mereka saat itu tahu belaka!)

Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini ‘kan menghambur?
Adakah secercah syukur menempel
Ketika isi dada dimuntahkan
Ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?
Meremang bulu romaku diguncang firmanMu

Bismillahirrahmaanirrahim
Al-Quaari’atu
Mal-qaari’ah
Wamaa adraaka mal-qaari’ah
(Penggetar hati
Apakah penggetar hati itu?
Tahu kau apa itu penggetar hati?)

Resah sukmaku dirasuk firmanMu

Yauma yakuunun-naasu kal-faraasyil-mabtsuts
Watakuunul-jibaalu kal’ihnil-manfusy
(Itulah hari manusia bagaikan belalang bertebaran
dan gunung-gunung bagaikan bulu dihambur-terbangkan)

Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu

Waammaa man tsaqulat mawaazienuhu
Fahuwa fii ‘iesyatir-raadliyah
Waammaa man khaffat mawaazienuhu faummuhu haawiyah
Wamaa adraaka maa hiyah
Naarun haamiyah
(Nah barangsiapa berbobot timbangan amalnya
Ia akan berada dalam kehidupan memuaskan
Dan barangsiapa enteng timbangan amalnya
Tempat tinggalnya di Hawiyah
Tahu kau apa itu?
Api yang sangat panas membakar!)

Ya Tuhan kemanakah gerangan belalang malang ini ‘kan terkapar?
Gunung amal yang dibanggakan
Jadikah selembar bulu saja memberati timbangan
Atau gunung-gunung dosa akan melumatnya
Bagi persembahan lidah Hawiyah?
Ataukah, o, kalau saja maharahmatMu
Akan menerbangkannya ke lautan ampunan
Shadaqallahul’ Adhiem
Telah selesai ayat-ayat dibaca
Telah sirna gema-gema sari tilawahnya
Marilah kita ikuti acara selanjutnya
Masih banyak urusan dunia yang belum selesai
Masih banyak kepentingan yang belum tercapai
Masih banyak keinginan yang belum tergapai
Marilah kembali berlupa
Insya Allah Kiamat masih lama. Amien.

1963+1988

(Antologi Puisi A. Mustofa Bisri “Tadarus”, Prima Pustaka Yogyakarta,
1993)

Iklan

Negeriku

Mana ada negeri sesubur negeriku?

Sawahnya tidak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung

Tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung

Perabot-perabot orang kaya di dunia

Dan burung-burung indah piaraan mereka

Berasal dari hutanku

Ikan-ikan plilihan yang mereka santap

Bermula dari lautku

Emas dan perhiasan mereka

Digali dari tambangku

Air bersih yang mereka minum

Bersumber dari keringatku

Mana ada negeri sekaya negeriku?

Majikan-majikan bangsaku

Memiliki buruh-buruh mancanegara

Brankas-brankas bank ternama di mana-mana

Menyimpan harta-hartaku

Negeriku menumbuhkan konglomerat

Dan mengikis habis kaum melarat

Rata-rata pemimpin negeriku

Dan handai taulannya

Terkaya di dunia

Mana ada negeri semakmur negeriku

Penganggur-penganggur diberi perumahan

Gaji dan pensiun setiap bulan

Rakyat-rakyat kecil menyumbang

Negara tanpa imbalan

Rampok-rampok diberi rekomendasi

Dengan kop sakti instansi

Maling-maling diberi konsesi

Tikus dan kucing

Dengan asyik berkolusi

(Mustofa Bisri, Pahlawan dan Tikus, 1995)

Gus Mustofa Memanggil Sahabatku

Meresapi puisi-puisi Gus Mus (Mustofa Bisri) mengajak saya merenungkan kembali langkah hidup. Adakah semua yang saya jalani ini menjadi pemberat timbangan amal? Ataukah hanya menambah panjang kesia-siaan yang saya lakukan atas masa hidup yang semakin berkurang. Lantas, apakah yang mesti dilakukan untuk kembali di jalan Allah? Itulah pertanyaan besar yang tengah bergelut di benak saya.

Saya teringat pada diskusi kecil yang sering dilakukan selama di kos-kosan dulu. Kebetulan Allah mempertemukan saya dengan ‘orang-orang hebat’ yang mencoba memaknai hidup dengan kearifan. Diskusi yang multiperspektif karena kami berasal dari berbagai latar belakang. Dari mereka saya belajar menemukan hikmah di balik pengalaman hidup Dari mereka saya belajar yakin akan kemahasegalaan Allah. Dari mereka saya belajar berani menjalani hidup. Nuansa puisi Gus Mus menghadirkan kembali memori saya tentang teman-teman itu.

Matur nuwun sanget, Gus Mus. Panjenengan sampun kersa nimbali sedherek-sedherek kula. Mila kula saged atur salam kangge Kang Fahmi (Kebumen), Mas Rahmad (Malang), Kang Son (Boyolali), Kang Pii (Klaten), Wan Salim (Jakarta), Budi (Solo), Hendi (Bondowoso), Imam (Temanggung), Zayin (Yogya), Aang (Jakarta), Seno (Bandung), Mahfud (Klaten). Assalamu’alaikum. Piye kabare?

Berikut salah satu puisi beliau yang membuat saya terkenang pada para sahabat saya.

Nasihat Ramadhan

Buat Mustofa Bisri

Mustofa, jujurlah pada dirimu sendiri.

Mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan?

Apakah hanya menirukan nabi

atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu?

Mustofa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.

Darimu hanya untukNya dan ia sendiri tak ada yang tahu

apa yang akan dianugerahkan kepadamu.

Semua yang khusus untukNya khusus untukmu.

Mustofa, Ramadan adalah bulan-Nya

yang Ia serahkan kepadamu

dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.

Bersucilah untuk-Nya.

Bersalatlah untuk-Nya.

Berpuasalah untuk-Nya.

Berjuanglah melawan dirimu sendiri untuk-Nya.

Sucikan kelaminmu, berpuasalah.

Sucikan tanganmu, berpuasalah.

Sucikan mulutmu, berpuasalah.

Sucikan hidungmu, berpuasalah.

Sucikan wajahmu, berpuasalah.

Sucikan matamu, berpuasalah.

Sucikan telingamu, berpuasalah.

Sucikan rambutmu, berpuasalah.

Sucikan kepalamu, berpuasalah.

Sucikan kakimu, berpuasalah.

Sucikan tubuhmu, berpuasalah.
Sucikan hatimu,

Sucikan fikiranmu, berpuasalah..

Sucikan dirimu.

Mustofa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering

yang mengingatkan kedhaifan dan melembutkan hati.

Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering

ternyata hanya perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.

Barangkali lebih sabar sedkit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin

lebih tahan sedikit berpuasa.

Tapi hanya kau yang tahu hasrat dikekang untuk apa dan untuk siapa

Puasakan kelaminmu untuk memuasai ridho.

Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia.

Puasakan mulutmu untuk merasai firman.

Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi.

Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan.

Puasakan matamu untuk menatap cahaya.

Puasakan telingamu untuk menangkap merdu.

Puasakan rambutmu untuk menyerap belai.

Puasakan kepalamu untuk menekan sujud.

Puasakan kakimu untuk menapak sirat.

Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat.

Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat.

Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran.

Puasakan dirimu untuk menghayati hidup.

Tidak, puasakan hasratmu hanya untuk hadiratNya.

Mustofa, ramadhan bulan suci katamu.

Kau menirukan ucapan nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu?

Tapi bukankah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu?

Mustofa, inilah bulan baik saat baik untuk kerja bakti membersihkan hati.

Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu

yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.

Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhan-ramadhan yang lalu?

Rembang, Sya’ban 1413 H