Arsip | resensi buku RSS for this section

Negeri 5 Menara: Kisah Nyantri di PM

Novel karya A. Fuadi ini cukup lama mengusik rasa ingin tahuku. Melihatnya ketika beberapa kali berkunjung ke toko buku Jendela membuatku semakin penasaran dengan isi ceritanya. Alhamdulillah, berkat Google book, aku bisa mengetahui garis besar materi novel ini.

Negeri 5 Menara berkisah tentang masa nyantri si Alif. Dia anak cerdas jebolan sebuah MTs di tepi Danau Singkarak. Cerita berawal dari kekecewaan Alif yang harus memenuhi keinginan emaknya untuk bersekolah di madrasah. Padahal sebenarnya Alif sudah berencana untuk sekolah di SMA agar bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Dalam impiannya, dia ingin menjadi Habibie -sebuah profesi yang mentereng hasil imajinasinya tentang sosok menristek di era Orba itu. Akhirnya, sebagai jalan tengah, Alif memilih mondok di Pondok Madani di Jawa Timur.

Di Pondok Madani, Alif membangun dunia barunya. Bersama 4 orang teman yang berasal dari berbagai daerah, Alif terlibat aktif dalam kegiatan pondok. Kita akan menjumpai paparan perjuangan Alif cs merintis harian yang beredar di lingkungan intern pondok. Misalnya ketika dia harus bisa menyelesaikan satu mission impossible dalam rangka kunjungan presiden ke pondok madani. Kru Kabar Madani berniat membuat satu edisi khusus yang memuat pidato presiden lengkap dengan fotonya dalam waktu singkat. Sanggupkah mereka menyodorkan edisi terbaru harian itu tepat ketika  presiden turun dari panggung?

Ada juga kisah tentang upaya mempersiapkan satu pagelaran seni yang spektakuler. Sudah menjadi tradisi di PM untuk menggelar pentas seni yang harus disiapkan oleh murid-murid kelas 6. Setiap angkatan berusaha membuat konsep yang lebih menarik daripada angkatan sebelumnya. Nah, Alif dan kawan-kawan mencoba mengangkat kisah perjalanan Ibn Batutah berkeliling dunia. Hasilnya luar biasa. Mereka mendapat apresiasi yang besar dari keluarga besar PM dan para tamu undangan.

Muara dari segala romantisme hidup di PM ialah imtihan nihai. Ini ujian akhir yang menguras tenaga para santri kelas 6. Berbulan-bulan mereka membaca tumpukan buku dari kelas 1 hingga 6 agar bisa menghadapi ujian. Makan, tidur, belajar itu berlangsung dalam kamp konsentrasi – istilah Alif untuk menyebut aula besar yang menjadi tempat karantina murid kelas 6.

Persiapan panjang itu memang sepadan dengan masa ujian yang berlangsung satu bulan. Tentu saja tidak mudah menjaga konsentrasi belajar dan stamina fisik agar berhasil melampaui imtihan nihai.  Apalagi ada 2 kejadian yang membebani pikiran Alif.  Baso, sobat Alif dari Sulawesi, memilih pulang kampung agar bisa merawat nenek semata wayangnya yang sakit keras. Dia tidak ikut imtihan nihai. Sementara Randai, teman dekat waktu MTs, berkirim kabar bahwa dirinya kini berhasil masuk ITB. Alif kembali teringat dengan obsesinya menjadi Habibir. Pikirannya semakin kalut karena ijazah PM tidak diakui untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi formal di indonesia. Sementara emak dan bapak memintanya bertahan mengikuti ujian akhir. Mereka menolak keinginan Alif untuk keluar dari PM agar bisa mendaftar di UMPTN. Bagaimana sikap yang dipilih Alif? APakah dia jadi ikut imtihan nihai? Mungkinkah dia lulus dalam ujian akhir yang sangat berat itu?

Anda akan menemukan semua jawabannya dalam novel Negeri 5 Menara ini. Dengan gaya bercerita ringan, kita tidak perlu mengerenyitkan dahi untuk memahami ceritanya. Tahu-tahu sudah sampai di akhir buku setebal 400 halaman ini. Tentu ini suatu kelebihan dan sekaligus kekurangan  dari novel tersebut. yang jelas, novel ini diniatkan oleh A. Fuadi sebagai ibadah sosialnya. Sebagian royalti novel ini akan disumbangkan untuk membangun komunitas Menara, sebuah LSM yang peduli pada kepentingan rakyat kecil.

Iklan

Sosok Tegar di Balik 6 Brilian Tanpa Berlian

Buku yang inspiratif

Membaca buku Menembus Batas mendorong saya mengajukan pertanyaan berikut pada anda. Jika anak pertama anda berhasil masuk fakultas kedokteran suatu perguruan tinggi terkenal di indonesia melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah, bagaimana perasaan Anda? Jika anak kedua anda berhasil mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan studi ke fakultas kedokteran, bagaimana perasaan anda?

Saya yakin anda tentu merasa sangat bahagia dan bangga. Mengapa tidak? Profesi dokter masih dianggap prestisius bagi sebagian besar orang. Apalagi biasanya mereka yang berprofesi dokter juga berpeluang untuk hidup lebih makmur di lingkungannya.

Sekarang bayangkan kondisi berikut. Anak pertama dan anak kedua anda memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan langka itu. Anak pertama anda merasa tidak cocok mempelajari ilmu kedokteran Dia memutuskan ikut SNMPTN di tahun berikutnya. Rupanya dia ingin masuk jurusan teknik di UGM. Sementara anak kedua menolak kesempatan itu karena ingin belajar teknik mesin di ITB. Bagaimana perasaan anda?

Saya yakin anda tentu memiliki sikap berbeda-beda. Begitu juga sikap yang diambil Pak Budi Setiadi, seorang bapak yang telah mengalami sendiri dua kondisi tersebut. Dia berusaha menghargai pilihan sikap anak-anaknya. Padahal bagi sebagian orang, sikap tersebut terasa tidak logis. Saya sendiri juga heran dengan pilihan sikap tersebut. Namun, dengan membaca buku Menembus Batas ini, kita akan mendapatkan  gambaran kehidupan Pak Budi dan latar belakang pemikirannya.

Bapak yang Selalu Optimis

Budi setiadi terlahir sebagai anak tentara di solo. Karena bapaknya sering berpindah-pindah tugas, dia merasa kurang mendapat kasih sayang orang tua. Akan tetapi, sejarah hidup yang suram justru mendorong Pak Budi mengubah sikap terhadap anak-anaknya. Pak budi menganggap anak sebagai amanah dari ALLAH yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Anak perlu dibesarkan dengan kasih sayang penuh dari orang tuanya. Dari pemikiran tersebut, dia tergerak untuk mencari ilmu tentang mendidik anak secara benar. Selanjutnya, dia coba praktikkan hal tersebut pada anak-anaknya.

Ternyata tidak mudah mempraktikkan pemahaman tersebut. Ada banyak faktor yang mempengaruhi upaya pak budi. Kesulitan hidup menjadi salah satu faktor yang kerap menghadang langkahnya. Sehari-hari Pak Budi bekerja sebagai petugas penarik iuran Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK). Di waktu lain, dia bekerja serabutan. Dari dua aktivitas tersebut, dia mendapat penghasilan sekitar 450 ribu rupiah setiap bulan. Penghasilan itulah yang harus dibelanjakan untuk mengupayakan kesembuhan istrinya dan membiayai keenam anaknya. Oya, istri pak budi sejak tahun 1995 menderita infeksi pada otak. Bahkan, sempat dua tahun bu budi hanya tergolek lemah di tempat tidur. Selama istrinya sakit, pak budi sendiri yang harus mengatur keluarga dan memenuhi kebutuhan keenam anaknya. Dia mengurus urusan rumah tangga, menyiapkan keperluan sekolah anak, menemani belajar mereka, serta mencari nafkah.

Tantangan lain yang dihadapi pak budi berasal dari lingkungan tempat tinggal. Keluarga pak budi tinggal di lingkungan yang tidak memandang penting pendidikan akademis dan agama. Mereka mencemooh upaya pak budi yang terus memotivasi anak-anaknya meraih cita-cita. Namun atas izin ALLAH, anak-anak pak budi berhasil mempertahankan prestasi belajarnya. Mau bukti?

Sholihah, anak pertama, berhasil lulus sebagai sarjana teknik UGM dalam waktu empat tahun. Dia sekarang sedang melakukan penelitian untuk meneruskan studi ke jerman. Walidah, anak kedua, mendapatkan bea siswa untuk belajar teknik mesin di ITB. Hafidzur rohman al Makhi, anak ketiga, tengah meneruskan studi di teknik geodesi UGM. Malina Mar’atush sholihah, anak keempat, mendapat bea siswa selama bersekolah di MA. Abdullah yahya, anak kelima belajar ke sekolah Smart Ekselensia Indonesia Bogor. Dia mendapat bea siswa untuk meneruskan studi hingga selesai kuliah. Sedangkan Aulia Khoirun Nisa’, anak keenam, sedang belajar di kelas 4 SD dan masuk program khusus bagi siswa berprestasi. Semua prestasi tersebut menyadarkan warga di sekitarnya akan arti penting pendidikan bagi anak.

Kunci Rahasia Sukses

Bagaimana pak budi mengupayakan hal tersebut? Jawaban pertanyaan tersebut menjadi inti pokok buku Menembus Batas. Di sini kita akan menjumpai sejumlah tip yang biasa disampaikan para pakar pendidikan anak. Namun yang lebih menarik ialah paparan tentang upaya Pak Budi menerapkan saran-saran tersebut. Berikut beberapa contoh yang bisa anda jumpai.

1. Bekal kecerdasan setiap anak berbeda-beda

Setiap anak diberi bekal kecerdasan yang berbeda-beda oleh ALLAH. Potensi anak akan tumbuh berkembang atau layu tergantung pada perlakuan orang tua terhadapnya. Mendidik anak bagaikan menyemaikan bibit yang diharapkan tumbuh dengan subur. Orang tua harus memutar otak untuk menemukan cara yang paling baik guna memelihara dan merawat bibit tersebut. Hal ini tentu memerlukan energi dan kesabaran yang sangat besar.

“Bibit yang istimewa bila tidak diberi pupuk dan dirawat dengan baik, akan menghasilkan buah yang biasa-biasa. Bahkan bisa lebih buruk. Sedangkan bibit yang biasa bila diperlakukan dengan baik, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” kata Pak budi.

2. Optimalkan kecerdasan anak

Pak budi meyakini bahwa kecerdasan bahasa itulah yang harus mula-mula diasah oleh anak. dengan bahasa, segala informasi yang masuk ke dalam otak anak akan dapat diproses secara baik dan diterima dengan pemahaman utuh dan benar.

Bercerita menjadi metode yang dipilih pak budi untuk mengembangkan kecerdasan berbahasa anak-anaknya. Bercerita memungkinkan dia menyampaikan berbagai pesan positif dengan cara yang menarik hati. Terkadang, anak-anak yang dimintanya bercerita tentang pengalaman hari itu. Dari cerita yang disampaikan, orang tua dapat mengetahui tingkat imajinasi dan kekuatan memori sang anak.

Selain bercerita, anak juga mengasah kecerdasannya melalui permainan. Pak budi memberi keleluasaan pada anaknya untuk bermain selama fase bermain. Menurutnya, dengan bermain anak sedang mempelajari hal-hal yang ada di sekitarnya. Aktivitas ini akan mengembangkan kemampuan otaknya untuk menganalisis suatu hal.

Supaya kecerdasan anak berkembang optimal, orang tua harus mengembangkan interaksi yang dilandasi rasa kasih sayang kepada anak-anaknya.

3. Temukan metode belajar yang tepat bagi anak

Pak budi memiliki metode sendiri saat menemani belajar anak-anak. dia tidak menyuruh apalagi memaksa anak-anak belajar. Yang dilakukannya hanya mengajak mereka untuk belajar. Cara yang dipilihnya juga halus. Pak budi tidak melakukannya secara lisan, tetapi mencontohkannya dengan perbuatan.

Selain itu, pak budi selalu membiasakan anak-anak untuk belajar mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah. Dia paling tidak tiga kali dalam seminggu menemani anak-anak untuk belajar. Kadang pak budi membahas materi yang akan diajarkan guru hari itu. Dengan cara ini anak-anak pak budi siap menghadapi ujian tanpa perasaan tertekan.

4. Jangan batasi cita-cita anak

Pak budi tidak pernah membatasi cita-cita anaknya. Buktinya seperti yang dia lakukan terhadap Sholihah dan Walidah. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidup walaupun sebenarnya sudah mendapat tiket untuk belajar ilmu kedokteran.

Terhadap nisa, anaknya yang terkecil, sikap pak budi pun sama. Dia tidak mencemooh ketika bocah kelas 4 SD ini bercita-cita belajar ilmu kedokteran di harvard university. Menurut pak budi, “biarkan anak-anak menggantungkan cita-cita setinggi langit. Jangan takut karena kita tidak pernah tahu rejeki orang. Jadi, jalani saja dengan doa dan dukung cita-citanya sehingga anak tidak tertekan dan semakin termotivasi.

Kita masih akan menemukan sejumlah tip lainnya dalam buku ini. dengan kemauan keras dan ketekunan, pak budi berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah perangkap untuk membatasi cita-cita sang buah hati. Inilah yang  bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Selama ini kita yakin bahwa pendidikan menjadi jembatan emas melakukan mobilitas sosial. Perjuangan Pak Budi dan keluarga merupakan bukti nyata yang terpampang di depan mata. Di tengah semakin mahalnya biaya untuk mengakses pendidikan berkualitas, kita disadarkan untuk menjadi guru utama bagi buah hati harapan kita.

Bagi saya, Pak budi meneladankan sikap tawakal setelah berusaha keras sekuat tenaga. Kepasrahan yang tulus kepada ALLAH swt justru menunjukkan titik terang dari masalah yang tengah dihadapi. Jadi, ikhtiar dan tawakal harus berjalan seiring.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, “orang lemah yang optimis, lebih baik daripada orang yang mampu namun pesimis. Optimis sering mengubah kelemahan menjadi sebuah kekuatan.”

The Kite Runner

Novel The Kite Runne

Perang sangat efektif untuk meluluhlantakkan tatanan sosial. Perang juga memungkinkan satu pihak menindas pihak yang dianggap musuh. Nilai-nilai agama pun bebas ditafsirkan sebagai pembenar setiap perilaku pemenangnya. Jika revolusi selalu memakan anaknya sendiri, mengapa ada yang ingin memantik apinya?

Amir terlahir sebagai anak baba, seorang ningrat Pashtun di masa sebelum perang Afganistan. Sementara Hasan hanyalah anak Ali, pelayan baba yang berasal dari suku Hazara. Sebagai anak pelayan, sepatutnya Hasan mengabdi pada Amir. Dia melayani keperluan Amir dan menghibur hatinya ketika gundah. Kegundahan Amir disebabkan oleh festival layang-layang yang akan diselenggarakan tahun itu. Festival ini menyedot perhatian warga kabul. Di langit Kabul layang-layang akan menari dan bertarung. Layang-layang yang berhasil bertahan itulah pemenangnya. Selain itu, kemeriahan festival layang-layang juga diwarnai persaingan anak-anak untuk mendapatkan layang-layang yang terakhir putus. Siapa yang berhasil mendapatkan layang-layang tersebut, dia layak mendapat penghormatan.

Amir sedang berjuang merebut hati baba. Amir merasa baba tidak memberi perhatian yang dia inginkan. Hubungan amir dengan baba terasa kering. Kebersamaan Amir dan baba pun tidak mendekatkan hati-hati mereka. Apalagi baba sering membanding-bandingkan Amir dengan Hasan. Memang Hasan sering memenangkan perebutan layang-layang yang putus dalam festival tersebut. Hasan seolah tahu ke arah mana layang-layang itu akan jatuh. Akan tetapi Hasan selalu menyerahkan layang-layang tersebut pada Amir. Dia ingin Amir mendapat pujian baba. Sayangnya, baba tidak yakin bahwa itu hasil usaha Amir. Merasa harga dirinya dilecehkan, muncul dendam Amir kepada Hasan. Di festival layang-layang nanti, Amir akan menunjukkan bahwa dia sanggup memenangkan perebutan layang-layang tanpa bantuan Hasan. Dia bertekad akan mengabaikan apapun bantuan yang Hasan tawarkan.

Memang, Amir akhirnya berhasil membawa pulang layang-layang tersebut. Namun, keberhasilan Amir harus ditebus dengan pengorbanan termahal oleh Hasan. Dia merelakan dirinya disodomi oleh geng anak-anak nakal. Mereka anak orang kaya dan bersikap merendahkan suku Hazara. Ungkapan kasar dan hinaan mereka tujukan pada warga suku Hazara. Puncaknya ialah perbuatan nista yang ditimpakan pada Hasan.

Sejak itu keceriaan Hasan hilang. Baba merasa cemas dengan kondisi hasan. Amir kembali merasa dirinya tidak berarti. Tatkala tentara Rusia menyerbu Afganistan, Amir harus berpisah dengan Hasan. Baba mengajak Amir mengungsi ke Amerika, sedangkan Hasan bersama ayahnya pergi tetap tinggal di Kabul. Walaupun jarak dan waktu telah memutus kontak mereka, Amir akhirnya berusaha mencari Hasan di Kabul. Langkah tadi ditempuh amir setelah dia mengetahui satu rahasia besar baba. Ternyata hasan itu saudara seayah Amir. Itulah jawaban misteri perlakuan baik baba kepada Hasan.

Pulang ke Afganistan, cari Hasan. Itulah yang Amir putuskan. Dia ingin menebus kesalahannya pada Hasan. Namun, suasana Kabul telah berubah. Milisi Taliban berhasil memenangkan perang. Mereka berusaha menegakkan syariat Islam di bumi Afgan. Terjadilah revolusi sosial yang hebat. Amir menjadi saksi perubahan yang berlangsung di sana. Amir seperti kembali ke masa silam. Dia mengejar layang-layang, berlomba dengan banyak anak, dan lagi-lagi harus menyaksikan pengorbanan Hasan untuknya.

***

Khaled Hosseini begitu memukau dalam melukiskan revolusi di negeri Afganistan. Melalui rangkaian kisah Amir, Khaleed menyampaikan pesan moral yang sangat jelas. Novel tersebut bisa dijadikan cermin bagi Indonesia yang sedang berubah. Beberapa yang membekas di benakku coba kusampaikan padamu.

Pertama, masyarakat multi etnis sangat memerlukan toleransi dan kerja sama. Perasaan superior di kelompok tertentu harus diwaspadai karena bisa memicu perpecahan. Kelompok yang merasa dirinya lebih akan terdorong untuk menindas kelompok lain. Inilah yang terjadi di Afganistan. Hampir semua pelayan yang bekerja di keluarga ningrat Afgan berasal dari suku Hazara. Karena kedudukan sosial yang rendah, mereka menjadi bulan-bulanan kelas di atasnya. Penistaan atas suku Hazara  menunjukkan bahwa derajat mereka selevel binatang di mata suku Pashtun.

Kedua, perang mengubah nilai dan norma sosial yang berlaku. Sebagai pemenang, milisi taliban berkuasa untuk memaksakan penerapan syariat Islam di masyarakat Afgan. Langkah ini diambil guna memulihkan keadaan chaos yang terjadi di sana. Namun, yang menjadi masalah justru pada pihak pelaksananya. Orang-orang yang memegang senjata meraup kenikmatan sendiri atas nama agama. Hak-hak orang lain dirampas, sementara kewajiban mereka tidak dikerjakan. Akhirnya, tujuan tadi gagal tercapai. Tatanan sosial baru yang menentramkan gagal terwujud.

Ketiga, rakyat kecil yang akan sangat menderita akibat revolusi sosial. Taliban berhasil menggulingkan pemerintah Afgan yang disokong Rusia. Kemenangan taliban ini menyemaikan harapan baru di kalangan rakyat. Mereka berharap kondisi menjadi lebih makmur, kehidupan menjadi lebih tertata. Sayangnya, harapan itu masih jauh panggang dari api. Penerapan syariat islam oleh taliban baru menyentuh lapisan kulitnya saja. Esensinya yang berupa kehidupan yang makmur dan tegaknya keadilan terabaikan. Bahkan, mereka melakukan pembantaian terhadap suku Hazara karena sebagian besar mereka penganut Syiah.

Membaca The Kite Runner membuatku tersentak. Apalagi mengingat ancaman separatisme yang muncul di berbagai wilayah Indonesia. Barangkali argumentasi pemerintah tentang pentingnya masyarakat madani tidak bisa menyusup di benak rakyat. Namun, mengingat kondisi multietnis kita, mengapa tidak mencoba menyapa hati nurani melalui novel best seller ini?

Menonton dengan Hati

Buku Kick Andy

Kick Andy menjadi salah satu acara televisi favoritku. Sederhana saja alasannya. Dari acara yang dipandu oleh Andy F. Noya itu aku diajak melihat sisi lain kehidupan.

Topik yang diangkat pun dipilih dengan teliti. Bahkan ada semacam riset pendahuluan oleh tim kreatif Kick Andy untuk menentukan topik. Tidak heran jika tayangan ini bisa memberi pandangan baru tentang suatu hal bagi pemirsa. Di tengah hiruk-pikuknya pembahasan isu terpanas negeri ini, Kick Andy menyentuh jiwa kemanusiaan pemirsa. Begitu pula pemilihan bintang tamunya. Mereka yang hadir dalam talkshow tersebut tidak hanya selebritas. Ada mantan olahragawan, mantan jugun ianfu, korban operasi plastik, foto model majalah Playboy, pasangan gay, sampai para penghuni lapas anak laki-laki di Tangerang.

Ketika menonton Kick Andy, aku seolah disodori cermin untuk mawas diri. Selama ini aku meyakini bahwa cinta orang tua kepada anaknya sangat besar. Beberapa tayangan Kick Andy menguatkan keyakinan itu. Karena cinta, Ronny Pattinasarani berjuang keras untuk membebaskan anak-anaknya dari pengaruh narkoba. Melalui jalan yang berliku dan upaya tiada henti, akhirnya ronny berhasil memutus ketergantungan anaknya terhadap benda haram tadi. cinta juga yang mendorong Rene Suhardono Canoneo. Mantan eksekutif Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) itu melacak jejak sang ayah kandung hingga ke Filipina. Di sana dia berhasil bertemu bapak biologisnya. Peristiwa itu sungguh sangat membahagiakan. Kebahagiaan tadi berlipat ganda ketika menyadari bahwa Anton Singgih, sang bapak tiri, pun selama ini sangat menyayanginya.

Perspektifku tentang hubungan orang tua dan anak semakin lengkap ketika Kick Andy menayangkan kehidupan penghuni lapas anak laki-laki di Tangerang. Banyak dari mereka yang terjerembab ke balik sel penjara karena salah asuhan. Interaksi dengan orang tua buruk. Suasana tidak nyaman di rumah mendorong mereka lari keluar. Karena lingkungan pergaulan yang salah, anak-anak itu lalu berperilaku menyimpang. Seperti yang terjadi pada Danil Sinambela, mantan penghuni lapas anak yang baru dua hari bebas ketika mengikuti acara Kick Andy. Danil merasa harga dirinya terusik sehingga nekat membunuh orang yang menghinanya walau lebih tua umurnya.

Selama di penjara, mereka diberi bimbingan dan fasilitas untuk mengembangkan potensi dirinya. hasilnya pun cukup membanggakan. Ada yang membuat film dokumenter tentang teman-temannya. Ada pula yang menyalurkan bakat bermain musik dan berlatih teater. Memang benar premis ini. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Keinginan terkuat anak-anak binaan itu adalah bertemu kembali dengan orang tua. Mereka sangat rindu kepada orang-orang yang dikasihinya. Contohnya, Rendy Prabowo yang dihukum 17 tahun karena kasus pencurian. Dia ingin minta maaf pada ibunya. Rendy sudah lima tahun tidak bertemu sang ibu. Dia ingin memberi mukena pada ibunya.

“Kapan mukena ini akan diberikan kepada ibu?” tanya Andy Noya sembari memberi Rendy sebuah mukena. “saya akan berikan kalau nanti saya bebas,” kata rendy. Di luar dugaan Rendy, sang ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Rendy tak kuasa menahan air matanya. Dia lalu mendekap sang ibu. Tim Kick Andy lalu mempersilakan rendy memberikan mukena pada sang ibu tercinta. Sri, sang ibu, lalu mencium kening Rendy disaksikan sang kakak yang dulu menurut Rendy melaporkannya ke polisi. “saya tidak dendam pada kakak karena memang saya yang salah,” ujar Rendy dengan wajah bahagia. (dikutip dari Menonton dengan Hati, 2008).

Kejutan yang mempesona sering menjadi ending acara Kick Andy. Itulah daya tarik lain acara tadi bagiku.

(Catatan di milad ke-4 anakku, Akmal Dzaky Mubarok)

***

–         Bagi anda yang ingin merenungkan lebih dalam topik-topik pilihan kick andy, silakan baca buku Kick Andy: Menonton dengan Hati.

–         Bagi yang ingin mengusulkan topik, silakan berkunjung ke http://www.kickandy.com.

Selicik Arok, Selicin Dedes

Novel Arok Dedes

Buku Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer memang pernah dilarang oleh rezim pemerintah Orde Baru. Pada waktu itu berlaku logika bumi hangus. Artinya, jika seseorang dianggap bersalah, maka segala yang berhubungan dengan orang tersebut harus disingkirkan. Karena Pram dituduh sebagai antek PKI lewat organisasi Lekra, maka segala hasil karyanya harus dimusnahkan. Pram sendiri diasingkan di Pulau Buru selama sekian tahun. Selama dalam masa pembuangan, Pramudya tetap aktif menulis. Salah satu karya yang dihasilkan di tempat pembuangan adalah Arok Dedes ini.

Aku sengaja membaca buku tersebut untuk mengetahui apa yang membuat penguasa Orde Baru begitu takut dengan pemikiran Pram. Dalam pemahamanku tidak ada hal yang perlu ditakuti karena novel tersebut bercerita tentang Dedes dan upaya Arok menjungkirkan kekuasaan Tunggul Ametung. Namun, ada beberapa hal yang kemudian menjadi catatan di benakku.

  1. Penguasa Kediri berupaya menyakralkan raja Erlangga guna memperkokoh kekuasaan. Ini dilakukan melalui perintah pada rakyat untuk memuja Dewa Wisnu. Pada saat yang sama, rakyat juga harus meninggalkan pemujaannya terhadap Dewa Syiwa dan Dewi Durga. Karena kedua dewa terakhir itu merupakan pujaan kasta brahmana, lahirlah perlawanan mereka terhadap kasta ksatria. Apalagi aturan triwangsa dilanggar oleh penguasa. Seorang berstatus sudra bisa naik ke kasta ksatria jika dia dianggap berjasa oleh penguasa. Hal ini dialami sendiri oleh Tunggul Ametung (ini nama jabatan yang disandang oleh orang yang memimpin suatu daerah, bukan nama orang). Dia semula hanyalah sudra yang gemar merampok harta orang lain. Berkat keberaniannya, dia dipercaya penguasa kediri untuk menjadi tunggul ametung.
  2. Kasta Brahmana tidak suka wayang. Selama ini pemahaman awam tentang wayang selalu dikaitkan dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Wayang dengan para dewa di kahyangan disebut secara serampangan sebagai kesenian ‘resmi’ agama Hindu. Oleh wali sanga, wayang tersebut disesuaikan dengan nilai-nilai dan ajaran agama Islam sehingga berkembang seperti bentuknya yang sekarang. Nah, jika wayang identik dengan Hindu, mengapa kasta brahmana menolak pertunjukan wayang? Dari dialog antara Dedes dengan embannya, aku mengetahui alasannya. Rupanya kaum brahmana menganggap titah manusia ini tidak sepatutnya mempersonifikasikan para dewa. Dewa itu suci, dan terlalu tinggi untuk disejajarkan dengan manusia. Apalagi dalam wayang dewa ditempeli pula dengan sifat-sifat manusiawi seperti lupa, kecewa, marah, dan terbakar nafsu birahi. Bagi kaum brahmana, semua ini dinilai sebagai suatu pelecehan.
  3. Budaya suap, korupsi, dan nepotisme sudah lazim dilakukan di waktu itu. Raja di Kediri meminta upeti dari para bawahannya –termasuk tunggul ametung- sebagai tanda kesetiaan mereka. Nah, agar dapat mempersembahkan upeti yang besar, Tunggul Ametung membuat sejumlah kebijakan yang merugikan rakyat. Mereka dipaksa membayar pajak yang mencekik leher. Kaum paria –orang tanpa kasta, misalnya gelandangan atau narapidana- dipekerjakan di pertambangan emas milik Tunggul Ametung dengan tidak manusiawi. Kematian mengancam jiwa mereka setiap saat akibat penyakit, kelaparan, atau kebengisan para penjaga.
  4. Tidak ada yang abadi dalam politik. Koalisi antara Tunggul Ametung-Belakangka (penasihat pemerintahan, utusan dari Kediri)-para prajurit ternyata rapuh. Upeti yang gagal sampai ke Kediri membuat Tunggul Ametung dipertanyakan kesetiaannya oleh Kediri. Bayang-bayang serbuan tentara kediri membuat sebagian panglima desertir dan bergabung dengan Kediri. Kondisi lemah itu mengobarkan keberanian kelompok mpu sendok untuk merebut kekuasaan. Di bawah pimpinan Kebo Ijo, panglima dan prajurit yang bergabung dalam kelompok Mpu Sendok merampok rakyat dan merayakan kemenangannya atas Tunggul Ametung. Namun, kemenangan itu hanya berlangsung sekejap. Pasukan Arok segera menggulung kelompok Mpu Sindok.
  5. Arok adalah jago para brahmana dalam menghancurkan Tunggul Ametung yang mewakili kekuasaan Kediri di Tumapel. Walaupun asal usulnya tidak jelas, Arok telah membuktikan dirinya sebagai murid yang cerdas. Dia berguru ke sejumlah guru terkemuka. Sejak remaja dia dan gerombolannya sering merampas upeti yang akan dikirim tumapel ke kediri. Berkat reputasi tadi, para brahmana mempercayainya mengemban tugas suci tadi.
  6. Dedes bukanlah wanita lemah walaupun gagal melawan saat diculik Tunggul Ametung. Sebagai seorang keturunan brahmana, Dedes mendapat didikan yang baik. Yang ditanamkan bapaknya termasuk bibit kebencian terhadap para ksatria. Dengan mengandalkan pesona pribadinya, Dedes membalut tipu daya guna mengurangi kekuasaan Tunggul Ametung dari dalam. Konspirasi antara Arok dan Dedes berhasil menyingkirkan kekuasaan Tunggul Ametung dengan meminjam tangan Kebo Ijo. Mereka lalu menikah dan berkuasa di Tumapel.

Melihat materi cerita tersebut, sebagian pembaca lalu mengaitkannya dengan tragedi G30S di tahun 1965. sepak terjang arok mencerminkan polah tingkah panglima kostrad saat itu. Arok menjadi dalang atas skenario perebutan kekuasaan di tumapel. Selanjutnya, dia mengadu domba pihak-pihak yang bertarung memperebutkan kekuasaan. Setelah hancur, naiklah arok sebagai pemimpin tumapel dengan mendapat legitimasi dari kaum brahmana. Jika kita harus belajar dari sejarah, apakah yang perlu dilakukan agar kita tidak mengulang sejarah pahit di masa lampau?

Para Priyayi

Para Priyayi

Para Priyayi

Aku penasaran dengan budaya orang Jawa. Walaupun aku lahir dalam keluarga Jawa, tidak otomatis aku memahami budayanya dengan baik. Memang di keluargaku, bapak konsisten menanamkan nilai-nilai budaya Jawa itu. Tata krama berbicara, etiket bergaul dengan orang lain, secara intensif dipahamkan beliau pada kami. Apalagi bapakku seorang dalang pengantin/pranata adicara. Ini sebutan untuk orang yang mengatur (master of ceremony) jalannya upacara pernikahan adat jawa. Dari sini aku terdorong untuk mengenal budaya Jawa lebih jauh lagi.

Cara asyik belajar budaya Jawa yang kupilih ialah dengan membaca karya sastra. Mengapa karya sastra? Menurutku, karena karya sastra merupakan cerminan kondisi masyarakat. Artinya, ketika aku membaca suatu karya sastra, aku sedang melihat gambaran riil yang ada di lingkungan sekitar penciptanya. Berbekal pemikiran seperti itu, aku merasa enjoy hunting buku bekas di lapak pedagang buku bekas. Jika di Solo, aku sering mengaduk-aduk tumpukan buku bekas di sriwedari dan gladag. Kalau pergi ke Jogja, aku mampir di shopping, belakang Malioboro. Ketika apel istri di Jakarta, aku singgah di Kwitang, Pasar Senen. Hingga suatu ketika aku menemukan Para Priyayi di antara tumpukan buku bekas.

Novel karya umar khayam ini pernah kubaca waktu SMA. Waktu itu aku mesti membaca novel ini supaya bisa menggarap tugas mata pelajaran sastra Indonesia. Ternyata aku tidak rugi. Para priyayi langsung merebut hatiku. Maka, ketika bersua kembali dengannya, langsung Para Priyayi kuboyong pulang.

Tidak berlebihan jika Para Priyayi menjadi masterpiece Umar Kayam. Beliau sangat jeli memasukkan nilai dan falsafah budaya Jawa ke dalam jalinan cerita. Hasilnya, kita seperti terhanyut dan tanpa sadar menemukan mutiara yang diagungkan orang Jawa. Beberapa yang masih melekat di benakku coba kusampaikan lewat coretan ini.

  1. Ajining raga saka busana, ajining diri saka obahing lathi. Obahing lathi secara harfiah berarti kata-kata yang terucap. Jika dimaknai lebih dalam, kata-kata merupakan cetusan sikap diri. Sering kali sikap juga ditampakkan pada perbuatan (ekspresi tubuh, mimik muka) kita. Tampilan luar (kekayaan, kekuasaan) memang dapat menumbuhkan penghormatan dari orang lain. akan tetapi, semua itu hanya artifisial. harga diri sesungguhnya ditentukan oleh sikap kita ketika berinteraksi dengan orang lain. barangkali inilah yang membuat orang jawa sensitif dengan gerak-gerik mitra bicaranya.
  2. Kacang ora ninggal lanjaran. Tindak tanduk orang tua sangat membekas di hati anak. Bahkan, tanpa sadar anak menjadikan orang tuanya sebagai tipe ideal. Segala perbuatan orang tua ditiru anak. Sikap yang ditunjukkan orang tua akan ditunjukkan pula oleh anak di lain waktu. Hal ini terbukti pada ketertarikan hari pada kesenian. Kedudukan bapaknya sebagai salah satu abdi dalem mendorong hari untuk mengabdikan diri dalam kesenian jawa. Sayangnya, dia tidak sadar jika terseret arus pergolakan budaya saat itu. Yang dia ikuti kelak dianggap salah oleh penguasa. sementara merry (cucu sulung sudarsana, bapaknya menjadi perwira militer) justru salah gaul. Kemewahan yang dilimpahkan orang tuanya, tidak membuatnya bahagia. Merry merasa mendapatkan cinta dari seorang pemuda desa, culun, dan menganggur. Akibatnya dia hamil di luar nikah.
  3. Utang budi ginawa mati. Hutang budi tidaklah mungkin terbayarkan. Inilah prinsip hidup Lantip, anak haram yang diserahkan simboknya pada Eyang guru Sudarsono. Lantip diterima sebagai anggota keluarga: diberi makan, pakaian yang layak, dan dilibatkan dalam kesibukan rumah tangga priyayi. Lantip juga disekolahkan – suatu kemewahan bagi anak penjual tempe di masa jepang datang ke indonesia. Berkat kecerdasannya, dia akhirnya lebih unggul daripada cucu-cucu kandung sudarsana. Namun lantip merasa sangat berhutang budi kepada keluarga priyayi tadi. ketika keluarga besar tercemar namanya akibat perbuatan dua cucunya – merry  hamil di luar nikah dan hari dipenjara karena dituduh terlibat lekra -, lantiplah yang berusaha mengurai masalah. Dengan ikhlas, lantip menempuh langkah-langkah yang perlu untuk menenangkan badai keluarga besar itu.
  4. Becik ketitik, ala ketara. Lantip memang anak haram. Bapaknya dulu keponakan sudarsono yang ditempatkan sebagai guru sekolah rintisan yang dibangun sudarsono. Sekolah ini lalu mendapat cap sekolah liar dari penguasa kolonial belanda. Walaupun berlatar belakang suram, lantip bukanlah orang yang tidak bervisi masa depan. Dia berusaha mengoptimalkan peluang belajar yang diberikan sudarsono. Bakat seni dan potensinya terus diasah. Lantip kemudian terbukti lebih unggul daripada cucu-cucu kandung sudarsono. Berdasarkan kenyataan tersebut, sudarsono akhirnya legawa mengakui keunggulan cucu haramnya atas cucu kandungnya.

Ah, aku jadi sentimentil jika membahas Para Priyayi-nya Umar Kayam. Supaya memiliki penilaian yang berimbang, sepatutnya anda baca sendiri buku tersebut. Insya ALLAH tidak merasa rugi.

Gadis Pantai

Gadis Pantai

Ini salah satu novel Pramoedya Ananta Toer yang terselamatkan dari pemusnahan oleh rezim Orde Baru. Sebenarnya terdapat tiga novel lain yang menyertai novel Gadis Pantai. Sayangnya trilogi ini terpencar, dan saat ini baru bisa diselamatkan secara utuh yang pertama. Karena alasan tersebut dan karena Pramoedya adalah penulis produktif di masa awal kemerdekaan Indonesia, aku mencoba membacanya. Ternyata ceritanya mengharukan.

Gadis pantai adalah sebutan yang Pram pilih untuk neneknya. Memang neneknya berasal dari pesisir utara Jawa dan pernah dijadikan ‘istri percobaan’ oleh seorang kaya. Dari ‘perkawinan uji coba’ ini lahir seorang bayi perempuan yang kelak melahirkan Pram.

Ada kekaguman yang diungkapkan Pram terhadap Gadis Pantai. Walaupun tidak bisa membaca, menulis, dan mengaji, Gadis Pantai layak disebut wanita hebat. Di mana letak kehebatannya? Bagiku, kehebatan Gadis Pantai pada keberaniannya untuk menentang kehendak suaminya demi sang buah hati. Supaya pujian ini tidak hampa, kita perlu melihat konteks situasi dan kondisi saat itu.

Di awal abad ke-20, tanah Jawa masih sangat lekat dengan budaya feodal. Budaya ini terbentuk dari pola hubungan antara para bangsawan Jawa dengan pemerintah kolonial Belanda. Golongan darah biru menempati kelas sosial atas dalam struktur masyarakat Jawa. Karena sifatnya yang ekslusif, hanya bangsawan dan saudagar saja yang berhak memakai gaya hidup feodal. Salah satunya kebiasaan memiliki ‘istri percobaan’ sebelum sang bangsawan menentukan ‘istri resmi’. Wajar jika saat itu, seorang bangsawan dianggap masih bujangan karena belum memiliki istri resmi, walaupun sudah memiliki sejumlah istri percobaan dan anak-anak yang lahir dari perkawinan uji cobanya.

Adanya budaya tersebut mendorong bangsawan laki-laki rutin berburu calon istri percobaan. Jika sedang melintasi suatu desa lalu melihat ada perawan yang menggugah selera, dia akan menikahinya. Sejumlah harta benda diberikan sebagai tukon (jw: tuku artinya beli) pada bapak dan ibu si perawan. Selanjutnya anak gadisnya akan tinggal di rumah gedung sang bangsawan. Namun masa tinggal itu biasanya tidaklah lama. Begitu lahir anak dari perkawinan uji coba tadi, sang bangsawan segera menceraikannya, lalu berburu perawan baru.

Gadis Pantai pernah menjadi istri percobaan seorang saudagar kaya. Dia dicabut dari perkampungan nelayan yang miskin melalui perkawinan tadi. dia menangis sedih ketika bapak dan emaknya meninggalkannya di rumah ndoro, suaminya. Itu sebuah rumah gedung bertembok tinggi dengan banyak pelayan dan beberapa anak kecil hasil perkawinan uji coba sebelumnya. Mulai saat itu gadis pantai harus beradaptasi dengan budaya rumah gedongan. Dia harus belajar membatik dan sejumlah keterampilan khas perempuan gedongan lainnya. Dia harus belajar memerintah para pelayan – sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama hidup bersama emak dan bapak. Dia juga harus bersikap waspada dan tidak percaya kepada siapapun di rumah itu karena kedudukannya sebagai istri percobaan setiap saat dapat dicopot. Ya, walaupun bersifat sementara, status sebagaimana yang dimiliki gadis pantai tetap diperebutkan oleh banyak orang. Sementara itu dia harus memperlakukan ndoro sebagai majikan, bukan sebagai suami. Perlakuan semacam itu tidak pernah dia pelajari dari sikap emak terhadap bapak. Sungguh suatu adaptasi yang revolusioner bagi seorang Gadis Pantai.

Puncak dari segala gejolak batin itu berupa sikap ndoro mengembalikannya kepada orang tuanya. Itu terjadi beberapa saat setelah anaknya lahir. Dengan diberi sejumlah harta, ndoro memintanya pergi dari rumah gedong tadi. tentu saja tanpa membawa serta anaknya. Perlakuan tersebut mendorong Gadis Pantai untuk berontak. Dia melawan perintah itu. Gadis Pantai ingin pergi dari rumah gedong tadi bersama bayinya. Dia tidak rela anaknya akan bernasib sama dengan anak-anak lain di rumah itu.

Mendapat perlawanan semacam itu, ndoro naik pitam. Hilang sudah kasih sayangnya sebagai suami. Apalagi dia merasa sudah membayar semua yang pantas diterima oleh Gadis Pantai dan orang tuanya. Akhirnya, dengan menggunakan paksaan, Gadis Pantai digelandang ke luar pagar. Dia tinggalkan semua yang pernah dimilikinya. Harta benda yang diberikan sebagai upah dari ndoro tidak menyenangkan hatinya. Hatinya hancur lebur, menyadari anaknya – harta yang paling berharga – harus ditinggal di rumah itu.

Akan tetapi, Gadis Pantai masih setia hadir dalam kehidupan anaknya setelah berkeluarga. Pram, cucunya, mengenal Gadis Pantai hingga masa remajanya. Dia tidak pernah tahu nama asli Gadis Pantai. Bahkan dia tidak tahu mengapa gadis pantai menyebut ibunya – si anak hasil pernikahan uji cobanya dengan ndoro – dan Pram bersaudara dengan panggilan ndoro. Yang dia tahu, Gadis Pantai begitu mengasihinya dalam kesahajaan.