Arsip | berita pilihan RSS for this section

NU:Arah Kiblat Barat Laut

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghazali Masruri menegaskan, arah kiblat dari Indonesia adalah barat laut, bukan arah barat seperti yang selama ini dipahami khalayak awam.

“Kiblat bukan di barat, tetapi di barat laut. Dari arah barat lurus bergeser sedikit ke utara kira-kira antara 20-25 derajat,” kata Kiai Ghazali dalam seminar bertajuk “Kontroversi Arah Kiblat” yang digelar Lembaga Ta`mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) di Jakarta, Kamis.

Namun demikian, lanjutnya, untuk meluruskan arah kiblat tidak harus dilakukan pembongkaran masjid atau mushala, cukup shaf atau barisannya saja yang digeser.

“Pengelola masjid cukup menggeser arah sajadah saja, arah barisan salatnya. Ini kan tidak harus lurus dengan tembok, kalau memang temboknya tidak lurus kiblat,” katanya.

Menurut Ghazali, hari Jumat (16/7) merupakan saat yang tepat untuk meluruskan arah kiblat. Berdasar data hisab LFNU, pada pukul 16.26 WIB besok matahari akan tepat berada di atas Ka`bah. Ini akan membantu umat Islam dalam meluruskan arah kiblat dengan cara yang sederhana, karena saat matahari tepat di atas Ka`bah segala sesuatu yang berdiri tegak bayangannya menuju kiblat.

“Harap kaum muslimin dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mengukur arah kiblat di rumah masing-masing, mushala dan masjid setempat,” katanya.

LFNU sendiri mengimbau jajarannya di seluruh Indonesia untuk memelopori Gerakan Peduli Rosydul Qiblat (GPRQ), gerakan pelurusan arah kiblat, seperti yang pernah dilakukan pada bulan Mei lalu.(*)
(ANT/R009)

Iklan

Yang Keliru tentang Alergi

Oleh Reiny Dwinanda


Alergi tak bisa disembuhkan. Namun, sangat mungkin dikendalikan.

Banyak orang mengira, alergi bisa diusir dari kehidupan. Benarkah alergi dapat disuruh pergi? “Yang paling mungkin adalah menghindarinya,” kata Dr Zakiudin Munasir SpA(K).

Masyarakat kerap berpandangan keliru terhadap alergi. Alergi disebut-sebut hanya bisa dialami oleh individu yang orang tuanya memiliki riwayat alergi. “Padahal, mereka masih punya risiko lima persen untuk terusik alergi,” urai Prof Sibylle Koletzko.

Akan tetapi, memang betul orang tua yang alergi akan mewariskan bakat alergi pada keturunannya. Anak berisiko alergi sebesar 20 persen saat salah satu ayah bundanya alergi. “Risikonya meningkat menjadi 40 persen kalau kedua orang tua alergi,” jelas Kolezko.

Sementara itu, ayah dan ibu yang memiliki kesamaan manifestasi alergi diperkirakan bakal memiliki anak yang juga alergi. Tingkat risikonya mencapai 75 persen. “Faktanya, kini prevalensi alergi meningkat empat sampai lima kali lipat dibandingkan awal tahun 1960-an,” kata pakar internasional kesehatan anak ini.

Koletzko melihat faktor genetik tidak berperan dalam hal ini. Artinya, tak ada perubahan dalam gen yang menjadi pemicu. “Lingkungan dan gaya hidup yang membuatnya demikian.”

Dalam lima dekade terakhir, lanjut Koletzko, di kawasan Asia Tenggara, terjadi fenomena unik. Angka penyakit infeksi semacam tuberkulosis dan campak terpantau menurun. “Sebaliknya, terjadi peningkatan signifikan angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti lupus dan alergi.”

Hygiene hypothesis sedikit-banyak bisa menjelaskan fenomena tersebut. Ketika berada di lingkungan buruk, orang gampang terkena infeksi. “Keseimbangan sel limfosit T helper 1 berubah dan menekan populasi sel limfosit T helper 2 yang berperan pada alergi,” tutur Koletzko dalam media briefing yang digelar Nutricia Indonesia Fund dan Ikatan Dokter Anak Indonesia ini pada Selasa (6/7) lalu di Jakarta.

Saat tubuh digerogoti infeksi, sistem imunitas sibuk. Fokusnya, memberantas bakteri. “Alhasil, ia luput mengenali alergen,” papar kepala Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi Pediatrik di Kinderpoliklinik, Jerman, ini.

Koletzko mengungkapkan, penyakit alergi sangat erat kaitannya dengan daya tahan tubuh anak. Ini merupakan bentuk respons sistem imunitas yang menyimpang, reaksi berlebihan terhadap substansi yang biasanya tak berbahaya. “Gejala yang timbul dapat berupa gangguan pernapasan, saluran cerna, ataupun kulit.”

Pada usia dini, tanda-tanda reaksi alergi biasanya berupa infeksi kulit. Penampakannya bervariasi. “Mulai dari eksem di pipi, bengkak di mulut, dan gatal-gatal,” ucap sekretaris GI-committee of the European Society of Paediatric Gastroenterology and Nutrition (ESPGHAN) ini.

Selain itu, pada usia bayi, alergi juga kerap menyerang saluran cerna. Ia akan sering muntah, sakit perut, bahkan diare disertai darah. Sembelit juga kerap ditemui. “Dokter dan orang tua harus menyertakan kemungkinan alergi makanan jika menemui kasus seperti itu,” ujar Koletzko yang juga bertugas di Dr. von Haunersches Kinderspital, Ludwig-Maximilians-University Munich, Jerman, itu.

Seiring bertambahnya usia, ketika anak sudah mulai bersekolah, reaksi utama alergi didominasi oleh gangguan sistem pernapasan. Asma dan rhinitis alergi, contohnya, dipicu oleh debu, bulu hewan, serbuk sari, dan kutu tungau. “Itu terjadi karena anak sudah banyak kontak dengan alergen hirup,” tandas dokter spesialis anak ini. N ed: nina


Agar Hidup Tetap Nyaman

Tiap orang memang berisiko alergi. Namun, Koletzko menuturkan bahwa hidup nyaman masih mungkin diraih. “Upayakan untuk terus menghindari pencetus,” sarannya.

Anak usia dini, lanjut Koletzko, sebaiknya tidak mendapatkan makanan padat terlampau cepat. Upayakan agar terus memberinya ASI selama enam bulan pertama kehidupannya. “Sebab, selama itu, sistem imunitas masih belajar.”

Di Indonesia, ada lima alergen yang paling dominan. Potretnya berbeda dengan negara di Asia Tenggara lainnya. “Di sini, anak-anak lebih sering alergi makanan golongan crustacea, seperti kepiting dan udang, aneka makanan laut lainnya, lalu kacang-kacangan, telur, serta susu sapi,” kata Koletzko yang ke Indonesia untuk bertatap muka dengan 60 dokter anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab alergi pada buah hatinya. Dengan begitu, mereka bisa menghindari anak terpapar alergen. “Menjauhkan anak dari makanan pencetus alergi merupakan cara terbaik mencegah terjadinya alergi,” tegas dokter yang berpartisipasi dalam penyusunan standar nasional dan internasional dalam penanganan alergi susu sapi.

Koletzko mengimbau orang tua agar memantau tumbuh kembang putra-putrinya yang alergi. Jika memang perlu, berikan suplemen makanan untuknya. “Tiap enam sampai 12 bulan sekali cek apakah anak sudah mulai toleran terhadap alergen.”

Koletzko juga meluruskan pandangan yang keliru tentang pencegahan alergi. Ia mengatakan tak ada gunanya diet saat hamil dan menyusui. “Yang terpenting agar tidak mencetuskan asma serta hindari asap rokok dan merokok selama hamil dan usai melahirkan.”

Koletzko juga menyarankan agar bayi tidak diberi makanan pendamping ASI terlalu dini. Bagusnya, tepat pada usia enam bulan. “Ketika itu, maturitas usus sudah tercapai dan ia sudah lebih toleran.”

Di lain sisi, Koletzko mengungkapkan, pemberian ASI tidak akan mencegah timbulnya asma dan rhinitis alergi. ASI hanya dapat menipiskan risiko terkena eksem dan alergi makanan. Silakan singkirkan dari menu ibu menyusui andaikan makanan itu betul-betul menimbulkan keluhan pada bayinya. “Harus diingat, ASI tetap makanan utama yang terbaik sampai bayi berusia enam bulan.”

Lebih detail tentang kondisi anak Indonesia, Zakiudin menguraikan, alergi belum menjadi masalah yang meresahkan. Apalagi mengingat penyakit infeksi masih terus mengintai. “Dalam praktik sehari-hari, kasus alergi terbanyak adalah dermatitis atopi, gangguan pada kulit akibat alergi susu sapi.”

Zakiudin mengatakan, alergi seperti itu biasanya akan lenyap begitu bayi beranjak besar. Pada usia dua atau tiga tahun, bayi akan lebih toleran. “Namun, jika tidak ditangani dengan tuntas, alergi makanan bisa menjadi asma di kemudian hari,” ucap dokter dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Bijakkah mengabaikan alergi dan terus memberikan makanan pencetusnya? Sebagian masyarakat berpendapat, dengan langkah ini, tubuh lama-kelamaan akan toleran terhadap makanan yang mencetuskan alergi. “Fenomena itu terjadi biasanya mengiringi makin sempurnanya fungsi saluran cerna,” jelas Zakiudin.

Akan tetapi, Zakiudin mengingatkan bahwa itu termasuk langkah yang sangat berisiko. Pada anak yang sangat sensitif, reaksi tubuhnya bisa teramat berlebihan. “Ia bisa mengalami shock, hilang kesadaran, dan dapat pula kehilangan nyawa karenanya.”

Bagaimana jika alergi sudah muncul mengganggu? Zakiudin mengatakan, saat itulah diperlukan pengobatan. “Kalau alerginya parah sekali, ada immunotherapy yang bisa dicoba. Namun, itu pengobatan jangka panjang dan belum terjangkau secara massal.”

Fakta Penting
* World Allergy Organization mencatat pengeluaran global untuk menangani hidung (pilek) akibat alergi mencapai 20 miliar dolar per tahun.

* Itu termasuk biaya medis serta kerugian sosial-ekonomi lain yang ditimbulkannya, seperti anak tidak masuk sekolah atau orang tua tak masuk kerja karena menjaga anaknya yang sakit.

* Penyebab alergi belum dapat dijelaskan secara pasti. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, pola makan, gaya hidup, lingkungan, serta paparan asap rokok selama kehamilan dan periode usia satu tahun pertama sebagai faktor yang meningkatkan risiko alergi pada anak.

Sumber: Republika online, Minggu, 18 Juli 2010 pukul 10:16:00

Kopi Luwak Halal Setelah Disucikan

JAKARTA –¬† Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan fatwa bahwa kopi luwak halal setelah disucikan. Ketua MUI Bidang Fatwa Ma’ruf Amin mengatakan, masyarakat dibolehkan mengonsumsi kopi luwak yang telah disucikan itu. Demikian pula dengan memproduksi dan memperjualbelikannya.

Ma’ruf Amin mengatakan, pada mulanya kopi luwak merupakan barang mutanajis atau terkena najis. Pada kondisi seperti itu, haram dikonsumsi. Bukan karena biji kopinya yang haram, tetapi ada sebab yaitu feses luwak yang melekat pada biji kopi yang keluar dari luwak tersebut.

Setelah dibersihkan, ternyata unsur feses itu tak ada lagi. “Karena itulah kopi luwak menjadi halal dikonsumsi,” katanya saat konferensi pers terkait fatwa MUI soal vaksin meningitis dan kopi luwak di Jakarta, Selasa (20/7). Lagi pula, jika biji kopi itu ditanam kembali tetap bisa tumbuh.

Menurut dia, fatwa tentang kopi luwak dikeluarkan berdasarkan pertanyaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Perusahaan agrobisnis ini mengembangkan kopi luwak. Mereka juga akan mengembangkannya di Pangalengan, Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka bertanya apakah kopi luwak yang dikembangkan itu halal atau haram.

Kopi luwak yang mereka produksi dibuat dengan bahan dasar biji kopi. Luwak dilepaskan ke dalam sebuah kandang besar untuk memakannya. Setelah itu, produsen menunggu luwak membuang kotoran. Biji kopi yang keluar bersamaan kotoran luwak itu diambil untuk diproses lebih lanjut.

Menurut Ma’ruf, mereka bukan meminta kopi luwak dihalalkan. “Kalau meminta dihalalkan maka tak ada artinya karena sama saja memaksa. Lalu kami membahasnya di Komisi Fatwa,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosemtika (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim mengatakan, tingkat najis yang semula melekat pada kopi luwak adalah najis mutawassithoh atau pertengahan. Bukan najis mughalladhoh atau najis berat. Menurut dia, najis pertengahan bisa hilang setelah dicuci dengan air bersih. Aroma dan rasa tetap.

Ia menjelaskan, biji kopi dibungkus kulit tebal atau kulit tanduk seperti biji melinjo. Ketika melalui proses pencernaan, biji kopi tidak tercemari unsur feses luwak. Unsur najis, hanya ada di bagian luar biji kopi. Sedangan bentuk biji kopi tidak mengalami perubahan.

Lukmanul mengakui, sempat terjadi perdebatan dalam tiga kali rapat anggota MUI terkait halal dan haramnya kopi luwak. Mereka yang mengatakan haram beralasan biji kopi tercemari feses atau bahkan disebut sebagai feses. “Namun, argumen itu gugur karena terbukti¬† kopi itu tidak mengandung feses setelah dicuci air,” ujarnya. c29, ed: ferry

sumber: republika online, Rabu, 21 Juli 2010 pukul 08:57:00

Menteri Harapkan Anak Indonesia Gemar Menanam Pohon

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar mengharapkan anak-anak Indonesia membiasakan diri untuk gemar menanam dan memelihara pohon.

“Kebiasaan baik tersebut harus dimulai sejak usia dini,” kata Linda Amalia Sari melalui pesan singkat kepada ANTARA dari Kepulauan Bangka Belitung usai memberi sambutan pada acara Kongres Anak Indonesia Tahun 2010 di Pangkal Pinang, Rabu.

Linda menjelaskan, jumlah anak di Indonesia sekitar 81 juta jiwa, maka jika satu anak mau menanam lima batang pohon saja, maka dalam satu tahun akan tumbuh 405 juta pohon.

“Jumlah tersebut setara dengan 400 kali gerakan menanam sejuta pohon, bila hal ini dapat kita wujudkan berarti kita telah berperan aktif dalam gerakan penyelamatan bumi untuk kehidupan,” katanya.

Menteri menjelaskan, Indonesia dikaruniai lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang kaya.

“Oleh sebab itu anak-anak Indonesia harus menjaga lingkungan hidup tersebut agar tidak rusak,” katanya.

Dia menambahkan, gerakan positif seperti itu perlu digelorakan agar waktu dan energi yang dimiliki anak-anak dapat tersalurkan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan dirinya sendiri.

“Di samping itu, anak-anak harus terlibat aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang positif, seperti olahraga, melukis, atau pelatihan keterampilan lainnya, sehingga tidak akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal sifatnya konsumtif, baik itu yang dilakukan melalui media elektronik, maupun media cetak,” katanya.

Menteri juga mengatakan gerakan gemar menanam pohon sangat sesuai dengan tujuan Kongres Anak Indonesia Tahun 2010 untuk mewujudkan “Anak Indonesia yang sehat, tumbuh dan berkembang, cerdas, ceria, berakhlak mulia, terlindungi, aktif berpartisipasi dan cinta tanah air”.

TKI Purna Diarahkan Buka Usaha

SEMARANG, KOMPAS – Tenaga kerja Indonesia yang pulang ke Tanah Air dan tidak lagi memperpanjang kontrak kerja diarahkan memanfaatkan tabungannya untuk hal-hal produktif, seperti merintis usaha. Selama ini TKI purna cenderung membeli barang konsumsi sehingga dalam waktu singkat mereka akan kembali kesulitan keuangan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Semarang Tyas Iswinarso di Ungaran, Kamis (29/4). TKI yang sudah kehabisan uang akhirnya kembali kesulitan mencari pekerjaan sehingga kembali menjadi TKI. Siklus itu tidak berubah.

“Hanya sedikit sekali TKI purna setelah pulang membuka usaha. Juni mendatang kami berencana menggandeng Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk memberi pembekalan kepada sekitar 400 TKI purna,” ujar Tyas.

Menjadi wirausaha juga akan berdampak pada pengembangan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja di Kabupaten Semarang. Setiap tahun, kata Tyas, Kabupaten Semarang memberangkatkan 1.500 TKI ke sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Hong Kong, Malaysia, dan Singapura.

Menurut Ketua Center for Micro and Small Enterprise Dynamic (CEMSED) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Bayu Wijayanto, mendorong tumbuhnya wirausahawan dari kalangan TKI bukan hal mudah. TKI mesti mengubah pola pikir menjadi lebih aktif sekaligus memiliki motivasi kuat.

“Mereka bisa berkaca dengan apa yang ada di sana, menilai selera pasar. Kalau ada 25 persen saja bisa menjadi wirausahawan itu sudah bagus sekali,” ujar Bayu.

Pemerintah lemah

Sementara dari Banyumas, kasus tenaga kerja Indonesia asal Cilacap di luar negeri masih terus bertambah, baik masalah perdagangan manusia, tak dibayar majikan, maupun yang hilang bertahun-tahun. Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran Banyumas melaporkan, selama 2009 ditemukan 65 kasus TKI asal Cilacap.

Menurut Ketua LBH Perisai Kebenaran Sugeng, Kamis (29/4), jumlah itu belum termasuk kasus TKI di Banyumas. Tahun sebelumnya, ada 75 kasus TKI yang ditemukan di Cilacap dan Banyumas. “Dari 65 kasus itu, kami menemukan ada tiga TKI yang hilang sejak belasan tahun lalu dan sampai sekarang belum ditemukan,” kata Sugeng.

Kasus TKI tak lain karena kelemahan pengawasan pemerintah. Misal, tak sedikit TKI menggunakan dokumen palsu yang dibuatkan oleh agen pencari kerja agar dapat bekerja keluar negeri, mulai dari kartu tanda penduduk hingga paspor. Di luar negeri, TKI kurang perlindungan dari pemerintah Indonesia. (gal/mdn)

sumber: Kompas, 30 April 2010

Kondom Perempuan Rancangan Baru, Bikin Kapok Pemerkosa

Jakarta (ANTARA News) – Seorang dokter di Afrika Selatan merancang kondom perempuan yang bisa membuat jera pemerkosa.

Seperti diberitakan Daily Mail, kondom yang bernama “Rape-Axe” itu dilengkapi kait yang bentuknya mirip gigi.

Rape-Axe sudah dipikirkan sejak empat puluh tahun lalu oleh seorang perempuan dokter, Sonnet Ehlers. Saat itu dia masih berusia 20 tahun sebagai periset medis.

Ehlers mengatakan, ketika itu melihat seorang korban pemerkosaan yang “sudah seperti mayat bernafas”.

Dalam wawancara dengan CNN, Ehlers mengutip perkataan korban perkosaan itu : “Kalau saja di bagian pribadiku itu ada gigi”. Ehlers pun tersentuh. “Saya berjanji suatu saat akan berbuat sesuatu untuk menolong korban seperti dia.”

Rape-Axe punya gigi mirip kait yang akan tersangkut di penis pemerkosa saat penetrasi.

Kait itu hanya bisa dilepas oleh dokter, dan Ehlers berharap dengan demikian si pemerkosa mudah diringkus.

“Kondom itu akan membuat pelaku kesakitan, tidak bisa buang air kecil maupun berjalan. Kalau dia coba-coba melepasnya, justru kait itu akan makin dalam meski tidak merusak kulit serta tidak membuat berbagai cairan tubuh berceceran,” kata Ehlers.

Dia mengemukakan telah melakukan riset dan berbagai pengembangan sebelum meluncurkan produk tersebut.

“Saya berkonsultasi dengan ahli teknik, ginekolog maupun psikolog untuk merancang dan memastikan kondom yang aman,” katanya. Jika masa ujicoba usai, kondom itu akan dipasarkan seharga 1,5 pounds.

“(Dengan adanya kondom ini) laki-laki yang mau menyerang perempuan, akan berpikir ulang,” kata Ehlers.

Menurut dia, kondom ini cocok dipakai perempuan yang misalnya akan melakukan blind date atau ke wilayah yang berisiko.

Tapi, kondom itu juga menuai kritik yang menyatakan perempuan pemakainya jadi lebih rentan jadi korban kekerasan oleh laki-laki yang terkena kait kondom.

“Kondom itu juga jadi semacam perbudakan,” kata Victoria Kajja dari Centers for Disease Control and Prevention in the east African country of Uganda.

“Rasa khawatir, dan tindakan memakai kondom itu untuk antisipasi jika mendapat hal buruk, ini merupakan perbudakan yang seharusnya tidak boleh terjadi pada perempuan,” kata Kajja.

Afrika Selatan menurut Human Rights Watch adalah salah satu negara yang tertinggi kasus pemerkosaannya.

Menurut Medical Research Council dalam laporan mereka tahun 2009, sebanyak 28 persen laki-laki yang disurvai mengatakan pernah memperkosa perempuan.

Ehlers mengemukakan banyak perempuan menempuh cara drastis untuk mencegah dirinya jadi korban perkosaan. Salah satunya adalah dengan memasukkan silet ke bagian tubuh pribadi.

Jangan Paksa Anak Belajar Terus, Bisa Stres

Surabaya (ANTARA News) – Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengingatkan seluruh orangtua untuk tidak memaksa anaknya terus belajar dan kehilangan kesempatan bermain bagi anak bisa memicu ia mudah stres.

“Tanda-tandanya, anak-anak menjadi nggak suka makan atau bahkan berperilaku menyimpang seperti merokok,” kata pemerhati anak yang akrab dipanggil Kak Seto itu di Surabaya, Rabu.

Sebagai bentuk perhatian terhadap anak, kata Kak Seto, pada Hari Anak Internasional setiap tanggal 1 Juni perlu disikapi dengan tekad untuk menyediakan taman bermain di mana-mana.

“Saya setuju kalau mahasiswa merancang playhouse yang bisa dipindahkan dengan sistem bongkar pasang, dan cocok untuk gang yang sempit di kampung-kampung. Masyarakat menengah ke bawah membutuhkan tempat bermain yang tidak mahal,” paparnya.

Di Jepang atau Korea, ungkapnya, kantor-kantor sudah menyediakan tempat bermain bagi anak-anak yang mengikuti orangtua bekerja.

“Pemenuhan hak bermain itu bagus, karena anak-anak akan lebih bahagia, lebih kreatif, dan saat dewasa kelak tidak akan mempermainkan rakyat,” tandasnya.

Ia mengaku anak-anak sebenarnya membutuhkan lapangan rumput yang lebih luas, tapi taman bermain seadanya juga cukup dibandingkan dengan tidak ada sama sekali.

“Masalahnya, ada taman bermain yang masih membahayakan anak-anak, seperti ada besi yang tajam, cat yang beracun, dan tempatnya tidak bersih,” kilahnya.

Di sela waktunya menjadi juri lomba desain ruang bermain anak di Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya (12/4/2010), Kak Seto juga mengingatkan semua orangtua bahwa hak bermain bagi anak penting untuk menumbuhkan kreatifitas moral atau budaya dalam mengendalikan emosi lebih positif.

Arsinah, Selamatkan Buruh dari Perdagangan Manusia

Liputan6.com, Palembang: Kemiskinan dan tekanan ekonomi membuat banyak orang tergiur bekerja di Negeri Jiran. Padahal, tidak sedikit di antara mereka yang akhirnya menjadi korban perdagangan manusia. Berangkat dari persoalan itulah, Arsinah Soemitro terus menerus mengingatkan calon tenaga kerja Indonesia. “Jangan sampai mereka juga menjadi korban,” ujar Arsinah, ketika ditemui SCTV di Palembang, Sumatra Selatan, baru-baru ini.

Arsinah Soemitro berasal dari Entikong, Kalimantan Barat. Sudah 10 tahun terakhir, dia menjadi relawan buruh migran. Tak hanya menyelamatkan para TKI yang menjadi korban perdagangan manusian, Arsinah juga memulangkan mereka ke kampung halaman.

Ibu empat anak ini juga rajin datang ke desa dan pelosok. Arsinah merasa perlu mencerdaskan para calon TKI sebelum berangkat ke luar negeri. Dia tak ingin “pahlawan devisa” Indonesia menjadi korban selama berada di negeri orang. “Biar cuma makan garam, lebih baik kita bekerja di negeri sendiri,” ujar Arsinah.

Namun, memang tidak mudah bagi Arsinah untuk menyadarkan para calon TKI. Banyak di antara mereka terpaksa berangkat ke luar ngeri, karena tak banyak lahan pekerjaan yang disediakan di dalam negeri. “Perlu uang soalnya,” ujar Teti, buruh migran asal Desa Tanjung Merbu, Kecamatan Rambutan, Banyu Asin, Sumsel.

Kendati begitu, Arsinah tak pernah menyerah. Sepekan sekali, dia pergi ke Konjen RI di Kuching, Malaysia, untuk membantu memulangkan TKI yang gagal di perantauan. Tekad dan naluri keibuan membuat Arsinah sungguh-sungguh ingin menolong dan menyelamatkan para buruh migran.(ULF)

Indonesia Perjuangkan Pemutihan TKI Ilegal di Malaysia

Kuala Lumpur (ANTARA) – Indonesia sedang perjuangkan agar ada program pemutihan tenaga kerja ilegal di Semenanjung Malaysia karena banyak sekali tenaga kerja Indonesia yang ilegal, terutama di sektor konstruksi.

“Saya pernah datangi ke agen tenaga kerja di Shah Alam. Di sana ada sekitar 5.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sebagian besar ilegal,” kata Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Malaysia, Da`i Bachtiar, di Kuala Lumpur, Jum`at.

“Dari pada dikejar-kejar oleh polisi, dan petugas imigrasi kami usulkan kepada pemerintah Malaysia untuk melakukan program pemutihan,” kata Da`i Bachtiar.

Dalam acara dialog dengan masyarakat Indonesia dan peluncuran website KBRI yang baru, mantan Kapolri itu mengatakan, telah mengusulkan kepada menteri dalam negeri Malaysia untuk melakukan program pemutihan atau legalisasi bagi TKI ilegal di Semenanjung Malaysia.

“Jika dijawab tidak bisa karena dalam UU mereka tidak ada klausul pemutihan mengapa di negara bagian Sabah bisa dilakukan program pemutihan sekitar 200.000 TKI ilegal di sana,” ungkap Da`i.

Program pemutihan atau yang dikenal dengan legalisasi pekerja Indonesia ilegal dengan memberikan paspor dan ijin kerja.

Da`i kemudian menceritakan, bagaimana perjuangannya di Sabah dari rencana melakukan operasi besar-besaran pekerja dan pendatang ilegal menjadi program pemutihan.

“Ketika bertemu dengan Menteri Besar Sabah, saya mengatakan jangan operasi PATI (pendatang asing tanpa izin) hanya dilakukan di jalan dan dalam kota. Mengapa tidak dilakukan juga di perkebunan kelapa sawit. Kami tahu 90 persen pekerja kelapa sawit adalah warga Indonesia dan sebagian besar ilegal,” katanya.

“Mendengar tawaran itu, Menteri Besar Sabah terdiam. Para pengusaha perkebunan kemudian memprotes dan menekan pemerintah setempat agar tidak melakukan operasi pekerja ilegal karena akan membuat bangkrut usaha mereka. Mereka setuju agar dilakukan pemutihan,” jelas Da`i.

Tapi, lanjut dia, pemutihan itu bukan seperti pola lama yang hanya memberikan paspor hijau kepada TKI. “Kami akan memberikan paspor hijau jika TKI itu sudah diuruskan izin kerja, membayar pajak, asuransi dan membuat kontrak kerja maka baru kami bagikan paspor,” katanya.

Negara bagian Sabah dan perusahaan perkebunan setuju dengan pola pemutihan seperti itu karena mereka butuh TKI. Namun setahun kemudian program ini tersendat karena, para pengelola perkebunan merasa berat membayar pajak sekitar 200.000 TKI ilegal yang nilainya mencapai ratusan juta ringgit. “Akhirnya negara bagian Sabah meringankan pajak hingga 50 persen,” ungkap Da`i.

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia atau KBRI kini tengah mengupayakan pula program pemutihan bagi TKI ilegal yang tinggal di Kuala Lumpur dan sekitarnya dimana jumlahnya cukup besar.

400 Majikan Malaysia Ditangkap, 3 Dicambuk

Kuala Lumpur (ANTARA) – Pemerintah Malaysia telah menahan 400 majikan dan tiga di antaranya dikenakan hukuman cambuk sepanjang tahun 2009 karena mempekerjakan pekerja asing secara ilegal.

“Tidak benar kami melakukan diskriminasi dalam penanganan pekerja asing ilegal di Malaysia,” kata Shahul Hamid Kabag UU dan Internasional Imigrasi Malaysia, di Universitas Kebangsaan Malaysia, Kajang, Selangor, Kamis.

Ia mengatakan, banyak majikan Malaysia ditangkap, dikenakan denda, dan ada juga yang dicambuk karena gunakan pekerja asing secara ilegal.

“Kami tindak juga majikan yang gunakan pekerja asing secara ilegal. Namun kebanyakan majikan dikenakan denda karena gunakan pekerja asing legal. Mereka membayar. Tapi memang hukuman dan tindakan kepada majikan kurang dipublikasikan oleh media massa,” katanya.

Pejabat imigrasi itu mengatakan hal tersebut menjawab pertanyaan peserta seminar agar pola penanganan pekerja asing di Malaysia di ubah dari fokus kepada pekerja asing menjadi fokus kepada majikan yang pergunakan pekerja asing karena puluhan tahun penanganan pekerja asing ilegal di Malaysia tetap saja kebanjiran pekerja asing ilegal.

Ia mengatakan hal itu dalam seminar Migrasi 2 “Migrasi, Keadilan Sosial dan Tantangan Pembangunan” yang diselenggarakan kerja sama antara Universitas Indonesia dan Universitas Kebangsaan Malaysia, di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) Kajang.

Dalam seminar tiga hari itu menampilkan pembicara di antaranya Dubes RI untuk Malaysia Da`i Bachtiar, pejabat imigrasi Malaysia Shahul Hamid, dan Prof Dr Kamal Halili Hassan.

Menurut Shahul Hamid, pembangunan ekonomi Malaysia telah menyedot pekerja asing. Makin lama makin besar. Tahun 1986, pekerja asing di Malaysia mencapai 215.200 orang, tahun 2005 naik menjadi 1,25 juta orang, tahun 2007 naik lagi menjadi 1,91 juta orang, dan April 2010 mencapai 2,3 juta pekerja asing.

“Kehadiran pekerja asing diakui telah mempercepat pembangunan ekonomi Malaysia dan banyak memberikan dampak positif, walaupun ada sedikit dampak negatif di bidang sosial,” kata pejabat imigrasi Malaysia itu.