Berpuasa Agar Tidak Menjadi Zombie

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Di bulan ramadhan, hadits tersebut tentu sering Anda dengar. Melalui televisi, surat kabar, spanduk, atau mimbar agama, kita diingatkan tentang keutamaan puasa di bulan ramadhan. Seperti yang ditegaskan dalam hadits di atas.

Dalam pemahaman saya, terdapat makna yang begitu besar di balik sabda Rasulullah saw itu. Rupanya puasa dimaksudkan untuk melembutkan hati kita. Segumpal darah dalam jiwa manusia itu memiliki peranan penting dalam kehidupan. Nabi Muhammad menegaskan bahwa hatilah yang menentukan baik-buruk perilaku manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh tindak tanduk, tutur kata, dan sikap kita. Sebaliknya, jika hati ini buruk, maka setiap ucapan dan perbuatan kita hanya membawa kerugian bagi diri dan orang lain.

Nah, berpuasa di bulan ramadhan akan menyeting ulang program hati kita. Selama ini, banyak hati manusia yang sudah beku, bahkan mati. Kondisi tersebut akibat kebiasaan manusia memperturutkan hawa nafsu. Pelan-pelan kita mengabaikan suara hati saat berlomba memperebutkan nikmat duniawi. Demi kekuasaan, kita tega membungkam hati yang setia mengingatkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Agar dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, kita rela mengubur hati dengan membenarkan sikap egois yang kita lakukan. Karena hati sering dilecehkan, hati mengeras dan tidak bisa menerima kebenaran yang datang dari ALLAH swt. Jika kondisi tersebut tidak dihiraukan, akhirnya hati menjadi mati. Manusia lalu bertindak tanpa pertimbangan kata hati.

Lantas, apa makna kenikmatan orang berpuasa yang dimaksud oleh hadits di atas? Ternyata terdapat nikmat yang besar di balik kemampuan mengendalikan diri. Menahan makan, minum, dan pelampiasan nafsu lainnya akan membawa kita pada kenikmatan. Ya, puasa memang tidak mematikan keberadaan nafsu dalam diri kita. Nafsu-nafsu itu memang tidak bisa dibunuh. karena saya yakin ada manfaat di balik keberadaannya. Selama berpuasa, kita dituntut untuk berlatih mengendalikannya. Jika terkendali, kita akan dapat merasakan manfaat setiap nafsu. Hal tersebut telah kita rasakan setiap berbuka puasa.

Berpuasa sehari tentu mengajarkan kita rasa haus dan lapar. Dua rasa itu menjadi sahabat setia para dhuafa. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Dari sini akan muncul sikap empati terhadap kondisi mereka. Sikap mental positif ini akan diikuti sikap mental positif lain. Kita menjadi lebih ramah terhadap orang lain. Penghormatan yang tulus kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita. Kasih sayang kita tebarkan pada mereka yang lebih papa. Hati pun akan mendorong kita untuk berbagi bahagia walau hanya melalui seutas senyuman. Ketika perilaku kita penuh dengan kebajikan, saat itulah kita tengah memandang wajah Tuhan. Allah swt adalah dzat yang menguasai keagungan cinta. Lantaran kasih sayang yang disebarkan manusia, kita dapat merasakan betapa agung cinta yang Allah anugerahkan. Kita dapat melihat wajah tuhan di balik senyuman hangat, sapaan tulus, dan solidaritas yang ditunjukkan oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak heran jika Allah mengambil analogi bahwa bau mulut orang yang berpuasa jauh lebih harum daripada bau minyak kasturi.

Wisata ruhani yang tengah kita jalani sekarang sungguh sangat menentramkan jiwa. Karena rahasia besar yang ada di balik puasa, Allah swt sendiri yang akan menilai upaya setiap muslim dalam menjalankan perintahNya.

Iklan

Tag:, , ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: