Yang Keliru tentang Alergi

Oleh Reiny Dwinanda


Alergi tak bisa disembuhkan. Namun, sangat mungkin dikendalikan.

Banyak orang mengira, alergi bisa diusir dari kehidupan. Benarkah alergi dapat disuruh pergi? “Yang paling mungkin adalah menghindarinya,” kata Dr Zakiudin Munasir SpA(K).

Masyarakat kerap berpandangan keliru terhadap alergi. Alergi disebut-sebut hanya bisa dialami oleh individu yang orang tuanya memiliki riwayat alergi. “Padahal, mereka masih punya risiko lima persen untuk terusik alergi,” urai Prof Sibylle Koletzko.

Akan tetapi, memang betul orang tua yang alergi akan mewariskan bakat alergi pada keturunannya. Anak berisiko alergi sebesar 20 persen saat salah satu ayah bundanya alergi. “Risikonya meningkat menjadi 40 persen kalau kedua orang tua alergi,” jelas Kolezko.

Sementara itu, ayah dan ibu yang memiliki kesamaan manifestasi alergi diperkirakan bakal memiliki anak yang juga alergi. Tingkat risikonya mencapai 75 persen. “Faktanya, kini prevalensi alergi meningkat empat sampai lima kali lipat dibandingkan awal tahun 1960-an,” kata pakar internasional kesehatan anak ini.

Koletzko melihat faktor genetik tidak berperan dalam hal ini. Artinya, tak ada perubahan dalam gen yang menjadi pemicu. “Lingkungan dan gaya hidup yang membuatnya demikian.”

Dalam lima dekade terakhir, lanjut Koletzko, di kawasan Asia Tenggara, terjadi fenomena unik. Angka penyakit infeksi semacam tuberkulosis dan campak terpantau menurun. “Sebaliknya, terjadi peningkatan signifikan angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti lupus dan alergi.”

Hygiene hypothesis sedikit-banyak bisa menjelaskan fenomena tersebut. Ketika berada di lingkungan buruk, orang gampang terkena infeksi. “Keseimbangan sel limfosit T helper 1 berubah dan menekan populasi sel limfosit T helper 2 yang berperan pada alergi,” tutur Koletzko dalam media briefing yang digelar Nutricia Indonesia Fund dan Ikatan Dokter Anak Indonesia ini pada Selasa (6/7) lalu di Jakarta.

Saat tubuh digerogoti infeksi, sistem imunitas sibuk. Fokusnya, memberantas bakteri. “Alhasil, ia luput mengenali alergen,” papar kepala Divisi Gastroenterologi dan Hepatologi Pediatrik di Kinderpoliklinik, Jerman, ini.

Koletzko mengungkapkan, penyakit alergi sangat erat kaitannya dengan daya tahan tubuh anak. Ini merupakan bentuk respons sistem imunitas yang menyimpang, reaksi berlebihan terhadap substansi yang biasanya tak berbahaya. “Gejala yang timbul dapat berupa gangguan pernapasan, saluran cerna, ataupun kulit.”

Pada usia dini, tanda-tanda reaksi alergi biasanya berupa infeksi kulit. Penampakannya bervariasi. “Mulai dari eksem di pipi, bengkak di mulut, dan gatal-gatal,” ucap sekretaris GI-committee of the European Society of Paediatric Gastroenterology and Nutrition (ESPGHAN) ini.

Selain itu, pada usia bayi, alergi juga kerap menyerang saluran cerna. Ia akan sering muntah, sakit perut, bahkan diare disertai darah. Sembelit juga kerap ditemui. “Dokter dan orang tua harus menyertakan kemungkinan alergi makanan jika menemui kasus seperti itu,” ujar Koletzko yang juga bertugas di Dr. von Haunersches Kinderspital, Ludwig-Maximilians-University Munich, Jerman, itu.

Seiring bertambahnya usia, ketika anak sudah mulai bersekolah, reaksi utama alergi didominasi oleh gangguan sistem pernapasan. Asma dan rhinitis alergi, contohnya, dipicu oleh debu, bulu hewan, serbuk sari, dan kutu tungau. “Itu terjadi karena anak sudah banyak kontak dengan alergen hirup,” tandas dokter spesialis anak ini. N ed: nina


Agar Hidup Tetap Nyaman

Tiap orang memang berisiko alergi. Namun, Koletzko menuturkan bahwa hidup nyaman masih mungkin diraih. “Upayakan untuk terus menghindari pencetus,” sarannya.

Anak usia dini, lanjut Koletzko, sebaiknya tidak mendapatkan makanan padat terlampau cepat. Upayakan agar terus memberinya ASI selama enam bulan pertama kehidupannya. “Sebab, selama itu, sistem imunitas masih belajar.”

Di Indonesia, ada lima alergen yang paling dominan. Potretnya berbeda dengan negara di Asia Tenggara lainnya. “Di sini, anak-anak lebih sering alergi makanan golongan crustacea, seperti kepiting dan udang, aneka makanan laut lainnya, lalu kacang-kacangan, telur, serta susu sapi,” kata Koletzko yang ke Indonesia untuk bertatap muka dengan 60 dokter anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab alergi pada buah hatinya. Dengan begitu, mereka bisa menghindari anak terpapar alergen. “Menjauhkan anak dari makanan pencetus alergi merupakan cara terbaik mencegah terjadinya alergi,” tegas dokter yang berpartisipasi dalam penyusunan standar nasional dan internasional dalam penanganan alergi susu sapi.

Koletzko mengimbau orang tua agar memantau tumbuh kembang putra-putrinya yang alergi. Jika memang perlu, berikan suplemen makanan untuknya. “Tiap enam sampai 12 bulan sekali cek apakah anak sudah mulai toleran terhadap alergen.”

Koletzko juga meluruskan pandangan yang keliru tentang pencegahan alergi. Ia mengatakan tak ada gunanya diet saat hamil dan menyusui. “Yang terpenting agar tidak mencetuskan asma serta hindari asap rokok dan merokok selama hamil dan usai melahirkan.”

Koletzko juga menyarankan agar bayi tidak diberi makanan pendamping ASI terlalu dini. Bagusnya, tepat pada usia enam bulan. “Ketika itu, maturitas usus sudah tercapai dan ia sudah lebih toleran.”

Di lain sisi, Koletzko mengungkapkan, pemberian ASI tidak akan mencegah timbulnya asma dan rhinitis alergi. ASI hanya dapat menipiskan risiko terkena eksem dan alergi makanan. Silakan singkirkan dari menu ibu menyusui andaikan makanan itu betul-betul menimbulkan keluhan pada bayinya. “Harus diingat, ASI tetap makanan utama yang terbaik sampai bayi berusia enam bulan.”

Lebih detail tentang kondisi anak Indonesia, Zakiudin menguraikan, alergi belum menjadi masalah yang meresahkan. Apalagi mengingat penyakit infeksi masih terus mengintai. “Dalam praktik sehari-hari, kasus alergi terbanyak adalah dermatitis atopi, gangguan pada kulit akibat alergi susu sapi.”

Zakiudin mengatakan, alergi seperti itu biasanya akan lenyap begitu bayi beranjak besar. Pada usia dua atau tiga tahun, bayi akan lebih toleran. “Namun, jika tidak ditangani dengan tuntas, alergi makanan bisa menjadi asma di kemudian hari,” ucap dokter dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Bijakkah mengabaikan alergi dan terus memberikan makanan pencetusnya? Sebagian masyarakat berpendapat, dengan langkah ini, tubuh lama-kelamaan akan toleran terhadap makanan yang mencetuskan alergi. “Fenomena itu terjadi biasanya mengiringi makin sempurnanya fungsi saluran cerna,” jelas Zakiudin.

Akan tetapi, Zakiudin mengingatkan bahwa itu termasuk langkah yang sangat berisiko. Pada anak yang sangat sensitif, reaksi tubuhnya bisa teramat berlebihan. “Ia bisa mengalami shock, hilang kesadaran, dan dapat pula kehilangan nyawa karenanya.”

Bagaimana jika alergi sudah muncul mengganggu? Zakiudin mengatakan, saat itulah diperlukan pengobatan. “Kalau alerginya parah sekali, ada immunotherapy yang bisa dicoba. Namun, itu pengobatan jangka panjang dan belum terjangkau secara massal.”

Fakta Penting
* World Allergy Organization mencatat pengeluaran global untuk menangani hidung (pilek) akibat alergi mencapai 20 miliar dolar per tahun.

* Itu termasuk biaya medis serta kerugian sosial-ekonomi lain yang ditimbulkannya, seperti anak tidak masuk sekolah atau orang tua tak masuk kerja karena menjaga anaknya yang sakit.

* Penyebab alergi belum dapat dijelaskan secara pasti. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik, pola makan, gaya hidup, lingkungan, serta paparan asap rokok selama kehamilan dan periode usia satu tahun pertama sebagai faktor yang meningkatkan risiko alergi pada anak.

Sumber: Republika online, Minggu, 18 Juli 2010 pukul 10:16:00

Iklan

Tag:,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: