Kopi Luwak Halal Setelah Disucikan

JAKARTA –¬† Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan fatwa bahwa kopi luwak halal setelah disucikan. Ketua MUI Bidang Fatwa Ma’ruf Amin mengatakan, masyarakat dibolehkan mengonsumsi kopi luwak yang telah disucikan itu. Demikian pula dengan memproduksi dan memperjualbelikannya.

Ma’ruf Amin mengatakan, pada mulanya kopi luwak merupakan barang mutanajis atau terkena najis. Pada kondisi seperti itu, haram dikonsumsi. Bukan karena biji kopinya yang haram, tetapi ada sebab yaitu feses luwak yang melekat pada biji kopi yang keluar dari luwak tersebut.

Setelah dibersihkan, ternyata unsur feses itu tak ada lagi. “Karena itulah kopi luwak menjadi halal dikonsumsi,” katanya saat konferensi pers terkait fatwa MUI soal vaksin meningitis dan kopi luwak di Jakarta, Selasa (20/7). Lagi pula, jika biji kopi itu ditanam kembali tetap bisa tumbuh.

Menurut dia, fatwa tentang kopi luwak dikeluarkan berdasarkan pertanyaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Perusahaan agrobisnis ini mengembangkan kopi luwak. Mereka juga akan mengembangkannya di Pangalengan, Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka bertanya apakah kopi luwak yang dikembangkan itu halal atau haram.

Kopi luwak yang mereka produksi dibuat dengan bahan dasar biji kopi. Luwak dilepaskan ke dalam sebuah kandang besar untuk memakannya. Setelah itu, produsen menunggu luwak membuang kotoran. Biji kopi yang keluar bersamaan kotoran luwak itu diambil untuk diproses lebih lanjut.

Menurut Ma’ruf, mereka bukan meminta kopi luwak dihalalkan. “Kalau meminta dihalalkan maka tak ada artinya karena sama saja memaksa. Lalu kami membahasnya di Komisi Fatwa,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosemtika (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim mengatakan, tingkat najis yang semula melekat pada kopi luwak adalah najis mutawassithoh atau pertengahan. Bukan najis mughalladhoh atau najis berat. Menurut dia, najis pertengahan bisa hilang setelah dicuci dengan air bersih. Aroma dan rasa tetap.

Ia menjelaskan, biji kopi dibungkus kulit tebal atau kulit tanduk seperti biji melinjo. Ketika melalui proses pencernaan, biji kopi tidak tercemari unsur feses luwak. Unsur najis, hanya ada di bagian luar biji kopi. Sedangan bentuk biji kopi tidak mengalami perubahan.

Lukmanul mengakui, sempat terjadi perdebatan dalam tiga kali rapat anggota MUI terkait halal dan haramnya kopi luwak. Mereka yang mengatakan haram beralasan biji kopi tercemari feses atau bahkan disebut sebagai feses. “Namun, argumen itu gugur karena terbukti¬† kopi itu tidak mengandung feses setelah dicuci air,” ujarnya. c29, ed: ferry

sumber: republika online, Rabu, 21 Juli 2010 pukul 08:57:00

Iklan

Tag:, ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: