Negeri 5 Menara: Kisah Nyantri di PM

Novel karya A. Fuadi ini cukup lama mengusik rasa ingin tahuku. Melihatnya ketika beberapa kali berkunjung ke toko buku Jendela membuatku semakin penasaran dengan isi ceritanya. Alhamdulillah, berkat Google book, aku bisa mengetahui garis besar materi novel ini.

Negeri 5 Menara berkisah tentang masa nyantri si Alif. Dia anak cerdas jebolan sebuah MTs di tepi Danau Singkarak. Cerita berawal dari kekecewaan Alif yang harus memenuhi keinginan emaknya untuk bersekolah di madrasah. Padahal sebenarnya Alif sudah berencana untuk sekolah di SMA agar bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Dalam impiannya, dia ingin menjadi Habibie -sebuah profesi yang mentereng hasil imajinasinya tentang sosok menristek di era Orba itu. Akhirnya, sebagai jalan tengah, Alif memilih mondok di Pondok Madani di Jawa Timur.

Di Pondok Madani, Alif membangun dunia barunya. Bersama 4 orang teman yang berasal dari berbagai daerah, Alif terlibat aktif dalam kegiatan pondok. Kita akan menjumpai paparan perjuangan Alif cs merintis harian yang beredar di lingkungan intern pondok. Misalnya ketika dia harus bisa menyelesaikan satu mission impossible dalam rangka kunjungan presiden ke pondok madani. Kru Kabar Madani berniat membuat satu edisi khusus yang memuat pidato presiden lengkap dengan fotonya dalam waktu singkat. Sanggupkah mereka menyodorkan edisi terbaru harian itu tepat ketika  presiden turun dari panggung?

Ada juga kisah tentang upaya mempersiapkan satu pagelaran seni yang spektakuler. Sudah menjadi tradisi di PM untuk menggelar pentas seni yang harus disiapkan oleh murid-murid kelas 6. Setiap angkatan berusaha membuat konsep yang lebih menarik daripada angkatan sebelumnya. Nah, Alif dan kawan-kawan mencoba mengangkat kisah perjalanan Ibn Batutah berkeliling dunia. Hasilnya luar biasa. Mereka mendapat apresiasi yang besar dari keluarga besar PM dan para tamu undangan.

Muara dari segala romantisme hidup di PM ialah imtihan nihai. Ini ujian akhir yang menguras tenaga para santri kelas 6. Berbulan-bulan mereka membaca tumpukan buku dari kelas 1 hingga 6 agar bisa menghadapi ujian. Makan, tidur, belajar itu berlangsung dalam kamp konsentrasi – istilah Alif untuk menyebut aula besar yang menjadi tempat karantina murid kelas 6.

Persiapan panjang itu memang sepadan dengan masa ujian yang berlangsung satu bulan. Tentu saja tidak mudah menjaga konsentrasi belajar dan stamina fisik agar berhasil melampaui imtihan nihai.  Apalagi ada 2 kejadian yang membebani pikiran Alif.  Baso, sobat Alif dari Sulawesi, memilih pulang kampung agar bisa merawat nenek semata wayangnya yang sakit keras. Dia tidak ikut imtihan nihai. Sementara Randai, teman dekat waktu MTs, berkirim kabar bahwa dirinya kini berhasil masuk ITB. Alif kembali teringat dengan obsesinya menjadi Habibir. Pikirannya semakin kalut karena ijazah PM tidak diakui untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi formal di indonesia. Sementara emak dan bapak memintanya bertahan mengikuti ujian akhir. Mereka menolak keinginan Alif untuk keluar dari PM agar bisa mendaftar di UMPTN. Bagaimana sikap yang dipilih Alif? APakah dia jadi ikut imtihan nihai? Mungkinkah dia lulus dalam ujian akhir yang sangat berat itu?

Anda akan menemukan semua jawabannya dalam novel Negeri 5 Menara ini. Dengan gaya bercerita ringan, kita tidak perlu mengerenyitkan dahi untuk memahami ceritanya. Tahu-tahu sudah sampai di akhir buku setebal 400 halaman ini. Tentu ini suatu kelebihan dan sekaligus kekurangan  dari novel tersebut. yang jelas, novel ini diniatkan oleh A. Fuadi sebagai ibadah sosialnya. Sebagian royalti novel ini akan disumbangkan untuk membangun komunitas Menara, sebuah LSM yang peduli pada kepentingan rakyat kecil.

Iklan

Tag:, ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

4 responses to “Negeri 5 Menara: Kisah Nyantri di PM”

  1. sterilthunder says :

    sekilas baca cuplikannya, cerita nya baguuus,, pastinya sedih dan bakal banyak menguras air mata..

    • Rumah Dzaky says :

      bagi saya, novel ini tidak menguras air mata, bang steril. karena gaya bercerita yang dipilih penulis terlalu datar, mirip reportase berita. ya, mungkin dia terbawa oleh gaya penulisan sewaktu masih bekerja sebagai wartawan tempo. 😦
      moga-moga aja di novel kedua penulis bisa memperbaiki gaya berceritanya.

    • Rumah Dzaky says :

      bukan air mata kesedihan yang tertumpah. namun air mata keharuan melihat perjuangan para santri mewujudkan cita-citanya. kita jadi bersemangat untuk menjalani hidup.

  2. hanna dewi says :

    makasih tulisannya, bisa membantu untu kerja resensi dari sekolah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: