Etiket Hidup di Kompleks Perumahan

Genap setahun saya tinggal di sebuah kawasan perumahan baru. Dulu ini bekas pabrik budidaya dan pengolahan jamur yang terbesar di klaten. Setelah bangkrut, lahan pabrik ini dibeli oleh pengembang. Menurut rencana, di sana akan dibangun 500 unit rumah dengan berbagai tipe. Saat ini, pengembang tengah membangun ruki (rumah kios) untuk melengkapi deretan ruko yang sudah ada.

Rumahku surgaku.

Saya merasa sangat bersemangat ketika pindah ke sini. Penyebabnya ada dua. Pertama, karena kami akan tinggal di rumah sendiri. Setelah 4 tahun pindah-pindah kontrakan, akhirnya ALLAH memberi cukup rezeki untuk memiliki rumah sendiri. Walaupun hanya rumah sederhana, tetapi anugerah ini sangat membahagiakan saya sekeluarga. Anda akan bisa merasakan euphoria tersebut jika anda mengusahakan sendiri segala persyaratan biaya dan administrasi rumah – tanpa bantuan keuangan dari orang tua. Bukan berniat sombong jika kami tidak meminta bantuan finansial pada orang tua. Langkah tersebut kami tempuh karena kami yakin bahwa dengan pertolongan ALLAH, usaha kami mendapatkan rumah impian akan terlaksana. Bertahun-tahun istri saya menyisihkan sebagian upah kerja yang saya terima. Ketika menerima royalti buku-buku yang saya tulis, kami berusaha menyimpannya dengan baik. Sedikit demi sedikit, akhirnya tabungan kami terkumpul sehingga bisa digunakan untuk memenuhi segala persyaratan KPR. Alhamdulillah. Memang benar, setiap rumah memiliki sejarahnya sendiri.

Kedua, karena kami akan merumuskan kontrak sosial baru bersama para tetangga. Saya dan para tetangga di sini adalah generasi pertama penghuni perumahan itu. Walaupun berasal dari beragam latar belakang, kami punya niat yang sama. Kami ingin membangun lingkungan hunian yang nyaman, sehat, dan kondusif bagi pendidikan anak-anak kami. Untuk itu diperlukan aturan hidup yang akan dipatuhi bersama. Adanya peluang mengutarakan ide-ide bagi keharmonisan lingkungan membuat saya begitu antusias. Tampaknya, para tetangga pun merasakan hal yang sama.

Pembahasan kontrak sosial melingkupi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga. Hal-hal yang boleh kita lakukan biasa disebut hak. Sementara hal-hal yang tidak boleh dilakukan dapat disebut kewajiban. Antara hak dan kewajiban dalam pemahaman saya selalu berjalan seiring. Ibarat dua sisi mata uang, hak dan kewajiban tidak bisa dipisahkan. Sewaktu kita menjalankan kewajiban, pada saat yang sama kita tengah memberikan hak orang lain. Demikian pula sebaliknya.

Banyak ide disampaikan para tetangga dalam merumuskan kontrak sosial tadi. Sebagian ide sudah disepakati bersama menjadi etiket hidup di perumahan. Sementara ide yang lain menjadi wacana yang hangat kami bahas. Saya sendiri mencoba mencari tahu tentang etiket hidup bertetangga menurut Rasulullah saw. Dari sekian banyak hadits yang membahas masalah ini, ada satu hadits yang menurutku perlu dipahami benar oleh orang yang tinggal di kawasan perumahan. Hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani sebagai berikut.

‘Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu kunjungi dan bila wafat kamu menghantar jenazahnya. Bila dia membutuhkan uang kamu pinjami dan bila dia mengalami kemiskinan (kesukaran) kamu tutup-tutupi (rahasiakan). Bila dia memperoleh kebaikan kamu mengucapkan selamat kepadanya dan bila dia mengalami musibah kamu datangi untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya.’ (HR. Ath-Thabrani)

wah, lingkungan perumahan pasti menjadi harmonis jika warganya bisa menerapkan etiket yang tersurat dalam hadits tersebut. Ternyata kunci menciptakan interaksi sosial yang harmonis terletak pada perilaku setiap pihak yang berhubungan. Hal ini sudah disampaikan Rasulullah saw dalam hadits berikut.

‘Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu, tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik.’ (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

Namun, etiket bermuamalah tentu tidak sebatas itu. Menurut anda, etiket apa lagi yang perlu diperhatikan oleh warga sebuah perumahan? Masukan yang anda berikan sangat berharga bagi kami yang tengah merumuskan kontrak sosial di lingkungan baru ini. Terima kasih.

Iklan

Tag:, , , ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

3 responses to “Etiket Hidup di Kompleks Perumahan”

  1. Mochammad says :

    Asalamu’alaikum Wr. Wb.
    Apa ya? Sepertinya apa yang ditulis di atas sudah menunjukkan pemahaman Anda akan etiket seperti itu, ditambah dengan hadits2 yang anda gali. Untuk kita tanamkan secara pribadi kepada diri kita, tampaknya apa yang dikemukakan dalam hadits itu akan membuat tetangga-tetangga senang bergaul dengan Anda.
    Yang tidak gampang adalah merancang etiket bertetangga yang disepakati bersama. Yang penting menurut saya etiket itu meliputi etiket untuk kenyaman, keamanan, dan keguyuban sesama warga. Kenyamanan itu misalnya aturan-aturan yang disepakati bersama untuk kebersihan lingkungan. Berkaitan dengan keamanan, kira aturan-aturan yang berkaitan dengan menjaga keamanan tempat tinggal, ya, contoh kecilnya aturan tentang ronda malam misalnya. Sementara itu, etiket untuk keguyuban sesama warga misalnya aturan yang mengatur apa yang dilakukan ketika ada tetangga sakit atau punya hajat, dan sebagainya.
    Mungkin organisasinya jangan RT lagi, tetapi semacam komite (komite rukun tetangga). Jadi ada ketua, skeretaris, dan kordinataor-kordinator atau ketua-ketua yang menangani bidang tertentu. Mungkin dengan hal itu, kebersamaan lebih terasa.
    Mudah-mudahan bisa jadi tambahan masukan tentang etiket bertetangga ini.

    Wasalamu’alaikum Wr. Wb.

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • Rumah Dzaky says :

      Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

      Masukan yang sangat berharga, Cak Asyhari. Etiket hidup bertetangga itu yang terus dibenahi. Berbagai ide coba dilontarkan. Ini sangat mengasyikkan, cak. Kita seperti mendesain suatu lokasi hunian yang maunya terbaik dan ternyaman. Makanya, teman-teman pun rela mendapat jatah ronda 2 kali seminggu. Demi keamanan dan keguyuban.
      Saat ini kita sedang menggagas etiket keguyuban antartetangga. Juga tentang masalah sampah yang belum kelar juga. alhamdulillah, Sedang dirintis kegiatan pengajian rutin buat warga dan TPA buat anak-anak. Moga-moga ke depan kondisinya semakin sehat bagi jiwa penghuninya. Terima kasih masukannya, cak.

      wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    • Rumah Dzaky says :

      assalamu’alaikum wr. wb. perkembangannya sekarang semakin banyak warga semakin rumit pola interaksi sosialnya. ternyata tidak mudah mengorganisir warga agar bisa bersama-sama meletakkan pondasi hubungan sosial yang sehat, Pak Mochammad. yang memprihatinkan ada 2 keluarga yang dari masuk hingga pindah tidak bersosialisasi dengan tetangga. kami sudah dua kali mengalaminya.
      namun saya melihat di situlah tantangan baru muncul. sebelum ritme kehidupan di kompleks menggelundung tak terkendali, kini perlu berkonsolidasi diantara pengurus RT yang ada. ide komite RT apakah tidak bisa diakomodir oleh RW, Pak? terima kasih.
      wassalamu’alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: