Anda Tetap Perawan, Jika …

Berburu kisah tentang para  buruh migran Indonesia.  Itulah yang seminggu ini aku lakukan. Dalam catatanku, ada 32  kompasianer yang kini masih berkarya di negeri orang. Aku  berusaha singgah ke lapak teman-teman tadi. Namun saat ini keinginan  tersebut belum terlaksana. Beberapa yang sudah aku sambangi antara lain  lapak kang Mukti Ali (Dubai), mas Delta Bvlgari Bvlgari (Jeddah), mbak  Moona Muhammad (Saudi Arabia), pak Andika (Malaysia),  mbak Uly Giznawati (Hong Kong),  serta mbak Anaz Kia (Malaysia).
Dari tulisan teman-teman tadi,  ada satu hal yang membuatku miris. Ini tentang pengalaman buruk sebagian  TKW yang dipaksa melayani nafsu bejat majikannya. Pemerkosaan menurutku  sangat menyakitkan. Bagaimana tidak? Peristiwa yang mengerikan itu  berlangsung dalam lingkungan rumah yang tertutup. Kadang kala akses  komunikasi ke luar rumah pun dibatasi. Bagaimana bisa mendapatkan  pertolongan?

Pelakunya pun orang yang  memiliki posisi lebih kuat daripada TKW. Tentu tidak mudah bagi korban  untuk menyelamatkan diri. Korban perkosaan juga cenderung menutup diri.  Mereka enggan menyampaikannya kepada orang lain. Apalagi mengabarkannya  kepada keluarga di tanah air.

Tekanan batin yang berat itu  lambat laun akan membinasakan sang korban. Seakan dunia telah runtuh.  Seolah-olah dirinya telah menjadi wanita paling nista. Tentu trauma  berkepanjangan semacam ini akan menurunkan kinerja para TKW yang menjadi  korban. Padahal mereka masih harus menyelesaikan masa kontrak agar  segala yang menjadi haknya dibayar lunas.

Tragedi pemerkosaan  mengingatkanku pada konsep keperawanan yang pernah dilontarkan Rama  mangunwijaya lewat novel Rara Mendut. Ketika mendut diboyong ke istana,  dia menyampaikan nasihat ibunya kepada genduk duku, si emban. “Perawan  dan tidak perawan terletak pada tekad batin, pada galih di dalammu.  Banyak gadis di dalam peperangan diperkosa, kata ibuku, nduk, tetapi  bila itu melawan kemauan, mereka masih perawan.”

Mendut lalu mengemukakan dua  contoh: dewi sinta dan ibu berputra tujuh. Seandainya dewi sinta pernah  secara paksa ditiduri rahwana, dewi sinta yang pernah melawan perbuatan  itu tetaplah perawan. Sementara seorang ibu yang suci dalam pengabdian  selaku istri dan ibu, dia tetap perawan sejati walaupun sudah melahirkan  tujuh anak.

Begitulah konsep keperawanan  yang diyakini rara mendut. Bagiku, para TKW korban pemerkosaan tetaplah  masih perawan jika dia sudah berusaha melawan tindak durjana itu.

Iklan

Tag:, , , ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: