Mengapa Harus Marah?

Lho, kok marah? Heran aku dengan kemarahan yang tiba-tiba muncul ketika mendengar anakku marah. Dia memukulkan layang-layang ke lantai. Gara-gara aku tidak mendengar permintaannya. Waktu itu aku, istriku, dan mbak ika sedang mengobrol tentang pembuatan pagar bambu rumah mbak ika. Anakku merasa terganggu dengan suara ramai kami. Dia lalu  minta volume suara film upin dan ipin dikeraskan. Sekali permintaannya tidak direspon orang tuanya, dia marah dan mencoba mencari perhatian dengan tindakan tadi.

Aku sebagai orang tua tentu terganggu dengan kerewelannya. Menurutku dia sudah bertindak tidak sopan di depan orang lain. Ini memalukan keluargaku di mata tamu. Sebagai reaksiku, aku menjewer telinganya. Anakku menangis. Namun aku tidak mencoba menghiburnya supaya reda tangisnya. Yang kulakukan justru mengancamnnya: Berhenti menangis atau film kumatikan. Tentu saja dia semakin keras menangis.

Yang lebih mengherankan lagi ternyata emosiku langsung meluap. Hebat!!! Masalahnya apa, eh tahu-tahu aku jadi punya kambing hitam. Aku menuduh anakku penyebab masalah pagi ini.

Bukankah seharusnya aku bersikap lebih sabar lagi kepada anakku? Bukankah aku harus bertanya dengan lembut penyebab sikap kasarnya? Selanjutnya tinggal aku penuhi permintaannya. Selesai. Tidak perlu terjadi insiden itu. Namun semua itu tidak kulakukan.

Barangkali kemarahanku sebenarnya muncul dari rasa terkejutku atas ekspresi emosi anakku. Aku tidak suka dengan sikap kasar yang ditunjukkan anakku. Karena aku merasa tidak pernah mengajarinya bersikap kasar, maka aku marah. Akan tetapi jika mau berpikir lebih jernih, aku sebenarnya tengah disodori sebuah cermin. Jangan-jangan inilah yang kuajarkan kepada anakku selama ini. Bahwa merajuk dan sikap kasar akan membuatnya berhasil meraih tujuan. Jika benar dia memperlajari hal itu dari orang tuanya, berarti aku sesungguhnya telah mendidiknya secara keliru. Ini harus diwaspadai. Aku harus mengubah gaya mendidikku agar anakku tidak menjadi orang yang merugi kelak.

Iklan

Tag:, ,

About Rumah Dzaky

Rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk menanamkan keyakinan, menumbuhkan harapan, dan mengobarkan semangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: