Tag Archive | kecelakaan lalu lintas

Buka Mata-Hati-Telinga

Buka mata-hati-telinga. Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta. Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan.

Lagu yang menggema di ruang saya pagi ini mengandung makna mendalam. Saya teringat dengan segala keinginan yang pernah menggunung sebelum saya mendapat musibah kemarin. Lima bulan lalu aku masih merupakan orang dengan keinginan besar tentang dunia. Saya merasa begitu bersemangat untuk bisa mewujudkan setiap keinginan. Pada waktu itu saya sedang resah karena bisnis axogy saya tengah mandeg. Jumlah pelanggan belum bertambah. Bahkan ada yang kemudian tidak lagi membeli axogy pada saya. Ini disebabkan mereka berhenti meminum axogy atau memilih menjadi outlet axogy sendiri. Padahal saat itu saya sudah memasang target tinggi. Saya harus bisa mendapatkan pemasukan paling tidak 500 ribu perbulan. Hal ini dipicu pula oleh kenyataan bahwa sejumlah warung telah muncul di lingkungan Taman Srago. Tentu saja omzet penjualan warung saya menurun. Terjun bebas. Itu istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisinya.

Namun saya yakin Allah itu menyediakan banyak pintu rejeki bagi keluarga kami. Keyakinan tersebut mendorong saya berusaha membesarkan bisnis air murni. Saya membayangkan jika pemasukan dari axogy bisa mencapai target, saya akan dapat menggunakannya untuk membayar biaya sekolah Dzaky, biaya kursus yang perlu Dzaky ikuti, dan bayar premi tabungan pendidikan syariah. Saya membayangkan jika bisa memenuhi kebutuhan tersebut, anak saya akan merasa bahagia. Akhirnya saya pun akan merasa bahagia pula.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Allah memberi saya cobaan berupa kecelakaan lalu lintas pada 24 Desember 2010. Yang lebih menyebalkan lagi ialah pengalaman harus berurusan dengan orang yang buta mata hatinya seperti Saman. Dia tidak punya itikad baik menyelesaikan masalah tersebut. Saman justru mencari beking polisi agar bisa lolos dari tuduhan salah. Terus terang saya langsung kehilangan respek padanya. Padahal semula saya menghargainya karena dia sudah tua, pensiunan PNS lagi. Sebenarnya Saman sendiri yang menjatuhkan harga dirinya di mata saya dengan perbuatan culasnya.

Dalam kondisi tidak berdaya, saya terus berusaha dzikir. Mengingat bahwa semua ini adalah kehendak Allah. Allah Mahasempurna. Setiap kehendaknya pasti memberi kebaikan bagi hambaNya. Ketika menyadari hal tesebut, hati saya terasa lega. Tidak ada yang harus ditangisi, apalagi sampai menggugat Allah dengan kehendakNya. Batin saya berusaha berdamai dengan takdir tadi. Memang jika dipikir logis, tampaknya lebih banyak kerugian yang diterima daripada manfaat yang saya peroleh. Saya terpaksa menghentikan ambisi membangun bisnis. Saya dipaksa bersabar dengan segala keterbatasan gerak sekarang. Istri saya menjadi lebih repot karena harus mengelola semua urusan keluarga sendiri. Yang paling kelihatan ialah keluarnya biaya begitu besar (di atas 20 juta rupiah) untuk pengobatan kemarin. Urusan pun menjadi benang kusut karena sikap Saman yang tidak kooperatif. Itu sebagian ‘kerugian’ yang bisa disebutkan.

Apabila saya hanya memikirkan segala kerugian tadi, saya pasti akan semakin terpuruk. Guna menyeimbangkan kondisi batin, sayapun harus berusha menemukan hikmah dari kecelakaan tadi. Menurut saya jika hikmah berhasil didapatkan, saya akan lebih mudah bersikap sabar. Lantas hikmah apa yang bisa saya ungkap? Ternyata sangat banyak hikmah yang saya dapatkan. Pertama, saya menjadi sadar bahwa Allah itu dekat. Maka tidak ada satupun alasan untuk meninggalkanNya. Apa maksudnya? Ketika saya mengalami peristiwa tersebut, saya hanya bisa pasrah kepada Allah. Saya berdoa agar Allah menyelamatkan diri saya. Ini doa yang sangat tendensius karena saya merasa belum siap untuk mati saat ini. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya. Walaupun sempat mengalami penurunan kesadaran ketika menjalani transfusi darah, akhirnya saya ditolong Allah melewati fase kritis. Sungguh saya merasa tidak memiliki daya apapun kecuali atas izin Allah. Sampai sekarang pun kesadaran itu begitu membekas di benak saya.

Kedua, saya menyadari besarnya kasih sayang keluarga besar kepada keluarga kami. Saat kami kerepotan menata kehidupan keluarga pasca kecelakaan, keluarga besar banyak memberikan uluran tangan. Mereka melakukan semua itu dengan ikhlas. Tidak ada pamrih apapun kecuali keinginan untuk melihat kondisi keluarga kami kembali normal. Bantuan terus diberikan walaupun kami tidak memintanya. Alhamdulillah, sekarang kondisi keluarga kami sudah pulih. Kami sudah beradaptasi dengan realitas kehidupan yang baru. Ini sangat patut disyukuri. Ketika kami limbung, keluarga besar bahu-membahu untuk menguatkan kami. Upaya mereka sangat tepat digambarkan dalam lagu Bondan Prakosa yang berjudul Ya Sudahlah. Apapun yang terjadi, aku tetap ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything gonna be okay.

Ketiga, peristiwa kecelakaan itu menjadi pupuk untuk menyuburkan rasa kasih sayang di keluarga kami. Setelah kecelakaan, praktis kemampuan bergerak saya berkurang. Otomatis istrilah yang harus mengambil alih semua urusan keluarga. Bersih-bersih rumah, memasak makanan, mengantar–jemput Dzaky ke sekolah, mengantar-jemput saya bekerja, periksa ke dokter, mengantar terapi rutin seminggu sekali, menebus obat di apotek, belanja untuk warung, sampai menyelesaikan urusan di kantor polisi dan Jasa Raharja. Semua dikerjakan istri sendirian. Mula-mula memang terasa berat. Akan tetapi karena rasa ikhlas selalu dihadirkannya dalam setiap aktivitas, sekarang semua terasa ringan dijalani. Pada waktu menyadari kerepotan istri, saya bertekad untuk membuatnya bahagia. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan coba saya kerjakan. Kadang justru istri yang merasa khawatir melihat saya beraktivitas tadi. Namun saya mencoba menepis segala kekhawatirannya. Saya memastikan bahwa aktivitas kecil itu tidak merugikan proses pengobatan. Dalam kondisi semacam ini, hati-hati kami terasa semakin dekat. Saya menemukan bukti besarnya cinta dan sayang istri kepada kami sekeluarga. Alhamdulillah. Saya pun berusaha menunjukkan pula rasa yang sama kepada istri dan anak.

Keempat, menjaga hubungan baik dengan para tetangga itu sangat menguntungkan. Sebagai pendatang, kami sekeluarga jauh dari keluarga besar. Saat mengalami kerepotan, tetanggalah yang pertama kali dimintai pertolongan. Kesadaran seperti inilah yang mendorong keluarga kami untuk menjalin hubungan baik dengan para tetangga. Alhamdulillah, ketika mengalami kerepotan, banyak tetangga yang peduli. Mereka dengan ringan hati membantu beberapa urusan kami. Namun saya juga menyadari bahwa tetangga tetaplah orang lain. Mereka punya kesibukan dan urusan masing-masing. Oleh karena itu, ketika mereka tidak optimal dalam membantu menyelesaikan urusan dengan Saman, saya bisa memakluminya. Walaupun tetangga merupakan saudara yang terdekat, namun kita tidak boleh bergantung kepda mereka. Itu yang kami ambil sebagai patokan bersikap.

Kelima, saya semakin sadar bahwa Dzaky memang anak yang luar biasa. Malam pertama saya di rumah sakit ditemani istriku. Dzaky malam itu tidur di rumah Uut. Dia sempat nglilir dan menangis menanyakan keberadaan ibunya. Namun setelah diberi keterangan oleh orang tua Uut, Dzaky bisa tenang kembali. Selama belasan hari saya dirawat di rumah sakit, Dzaky terpaksa tinggal di rumah tanpa ibunya. Dia bersama Mbah Mamak, bulik Yanti, dan Nada. Sehari-hari mereka berempat yang ada di rumah. Alhamdulillah Dzaky sangat sabar. Dia tidak rewel. Jika ibunya mau kembali ke rumah sakit, Dzaky juga tidak merajuk. Sepertinya dia sangat menyadari keadaan keluarga saat itu.

Alhamdulillah, Allah selalu menjaganya dengan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi Dzaky. Banyak anak-anak tetangga senang bermain dengan Dzaky. Apalagi Nada, saudara sepupunya. Alhamdulillah, Allah telah menggerakkan hati-hati keluarga dan orang-orang di sekitar kami untuk berempati dengan kondisi keluarga kami saat itu.

Sebenarnya masih banyak lagi hikmah yang bisa digali dari peristiwa kecelakaan itu. Sekarang kembali pada kutipan lagu yang saya dengar pagi ini. Saya seperti diingatkan untuk berpikir positif tentang setiap peristiwa yang dialami. Ini disebabkan karena keinginan kita tidak selalu merupakan kebutuhan kita. Sementara Allah pasti memberikan kebutuhan kita. Seandainya tidak sesuai dengan harapan, yakinlah bahwa kebutuhan kita sudah dipenuhi oleh Allah. Tidak ada satupun alasan untuk meragukan itikad baik Allah kepada kita walaupun kondisi yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 436 pengikut lainnya.